04 April 2025

Get In Touch

Menata Dunia yang Lebih Baik untuk Anak Indonesia

Menata Dunia yang Lebih Baik untuk Anak Indonesia

TAHUKAH Anda? Sejak tahun 1990, setiap 20 November selalu diperingati sebagai Hari Anak Sedunia. Dilansir dari situs resmi UNICEF, di tahun 2020 ini, perayaan Hari Anak Sedunia mengambil tema "Satu hari untuk menata dunia yang lebih baik untuk setiap anak" atau "A day to reimagine a better future for every child"

Namun, momen perayaan Hari Anak Sedunia tahun ini akan terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seperti kita ketahui bersama, Pandemi Covid-19 menempatkan dunia dalam situasi krisis. Begitupula dengan anak-anak. Tahun ini, praktis anak-anak hanya bersekolah di 3 bulan awal di tahun 2020, dan sisanya belajar dari rumah.

Pertemuan siswa dan guru yang awalnya dilakukan dengan tatap muka di kelas, kini harus terpisahkan karena pola pembelajaran berubah menjadi daring. Ironisnya, kondisi pola pembelajaran ini tak mengenal jenjang sekolah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Semua dilakukan secara daring.

Beberapa waktu lalu diberitakan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim, dr. Endah Setyarini, S.Pa secara tegas mengatakan, meski di beberapa sekolah di daerah mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka, akan tetapi langkah uji coba itu sebaiknya jangan dilakukan. Karena belum ada rekomendasi dari organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) dan IDAI selama daerah itu masih rawan dengan Covid-19.

"Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu daerah belum menjadi zona hijau, atau setidaknya zona kuning," tegas Endah saat diskusi online bertema Vaksin Covid-19 dan Kesiapan Anak Menjalani Pembelajaran Tatap Muka yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung dan Jurnalis Sahabat Anak (JSA) didukung oleh Unicef Indonesia, Rabu (18/11/2020).

Menyikapi hal itu, ada pola asuh yang harus berubah, dari mulai peran orangtua yang harus kian intens dalam mendampingi anak-anaknya belajar dari rumah, hingga pendampingan dalam pemakaian gadget. Pola komunikasi di keluarga juga mesti diubah, sehingga anak merasakan kedekatan dan perhatian yang tulus dari orang tuanya

Namun harus diakui, bahwa kondisi stabilitas ekonomi yang naik turun, juga berimbas kepada masyarakat. "Saya melihat fenomena orang tua yang kehilangan pekerjaan, yang menyebabkan pendapatan keluarga menurun drastis dan berujung tingkat stress semakin tinggi, ujungnya bisa kita tebak. Pelampiasannya ke anak. Anak jadi sering dimarahi atau malah tidak jarang mendapatkan kekerasan fisik."

Perlindungan terhadap anak tetap menjadi issu yang harus diperhatikan bersama. Tulisan ini diharapkan bisa kembali mengingatkan kita semua bahwa anak juga seorang manusia. Yang di dalam dirinya juga melekat hak-hak asasi manusia seutuhnya.

Mengingat sepertiga populasi Indonesia terdiri dari anak-anak; jumlah itu sekitar 80 juta anak di Indonesia —populasi anak di Indonesia menjadi terbesar keempat di dunia. Mari kita bersama menjadikan momentum peringatan Hari Anak Sedunia ini untuk tetap memperhatikan hak-hak asasi anak, bahkan itu termasuk anak-anak kita di rumah.

Anak-anak Indonesia harus tetap terlindungi, harus tetap belajar -meskipun di rumah saja. Rumah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman buat anak-anak selama masa pendemi Covid 19. Mari kita bersama menata dunia yang lebih baik untuk setiap anak

Selamat Hari Anak Sedunia (*)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.