20 October 2026

Get In Touch

Kekeringan di Trenggalek Merata Seluruh Kecamatan, Total 65 Desa Terdampak

Petugas BPBD Trenggalek menyalurkan air bersih kepada warga untuk membantu memenuhi kebutuhan selama musim kemarau. Hingga 19 Oktober 2026, kekeringan dilaporkan melanda 65 desa yang tersebar di seluruh 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek.
Petugas BPBD Trenggalek menyalurkan air bersih kepada warga untuk membantu memenuhi kebutuhan selama musim kemarau. Hingga 19 Oktober 2026, kekeringan dilaporkan melanda 65 desa yang tersebar di seluruh 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) – Kekeringan yang melanda Kabupaten Trenggalek terus meluas, hingga merata terjadi di 14 kecamatan wilayahnya. 

Hingga, Senin (19/10/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat sebanyak 65 desa terdampak, dengan Kecamatan Panggul menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling luas. Distribusi air bersih masih dilakukan secara bergiliran karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan data tersebut dihimpun berdasarkan laporan pemerintah desa dan kecamatan, meski seluruh kecamatan tercatat terdampak kondisi kekeringan tidak terjadi secara merata di setiap wilayah.

“Berdasarkan laporan dari desa maupun kecamatan, sampai hari ini ada 65 desa yang terdampak kekeringan dan tersebar di 14 kecamatan. Namun, bukan berarti seluruh wilayah di setiap kecamatan mengalami kekeringan. Di beberapa tempat, dampaknya hanya terjadi di desa atau wilayah RT dan RW tertentu,” kata Triadi, Senin (19/10/2026).

Kondisi itu membuat penanganan harus disesuaikan, dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. BPBD terus menyalurkan air bersih secara bergiliran, untuk membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air selama musim kemarau.

Selain distribusi air bersih, BPBD juga menyalurkan perlengkapan untuk mendukung penyimpanan air di wilayah terdampak. Bantuan tersebut meliputi 142 tandon air yang didistribusikan ke 68 desa, sekitar 400 jeriken untuk 50 desa, serta 151 lembar terpal yang tersebar di 55 desa.

Triadi menjelaskan, penyaluran perlengkapan tersebut merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat menampung air bersih. Keterbatasan sarana pendukung membuat distribusi bantuan belum dapat dilakukan sekaligus ke seluruh wilayah yang membutuhkan.

Dari 14 kecamatan yang terdampak, Kecamatan Panggul menjadi salah satu wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak. Berdasarkan laporan yang diterima BPBD, sebanyak 13 dari total 17 desa di kecamatan tersebut mengalami kekeringan.

“Untuk Kecamatan Panggul, dari 17 desa yang ada, sebanyak 13 desa dilaporkan terdampak kekeringan,” ujarnya.

Kekeringan tahun ini juga dipengaruhi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dibandingkan periode yang diharapkan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Trenggalek masih berpotensi belum diguyur hujan dalam 10 hari ke depan.

Situasi tersebut membuat kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi tetap tinggi hingga hujan mulai turun. BPBD pun terus memantau laporan dari desa dan kecamatan untuk mengetahui perkembangan kondisi sekaligus menentukan wilayah yang memerlukan penanganan.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD Trenggalek telah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak yang menangani sumber daya air dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Koordinasi itu membahas kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya untuk membantu memicu hujan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas. Harapannya, apabila kondisi memungkinkan, bisa dilakukan operasi modifikasi cuaca sehingga ada peluang turun hujan,” jelas Stefanus.

Meski demikian, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca bergantung pada kondisi dan pertimbangan teknis. Karena itu, upaya tersebut belum bisa menjadi kepastian bahwa hujan akan segera turun di wilayah Trenggalek.

Mengacu pada perkiraan BMKG, musim hujan di Kabupaten Trenggalek diperkirakan mulai datang pada minggu pertama atau minggu kedua Desember 2026. Artinya, warga di daerah terdampak masih perlu mengantisipasi kebutuhan air bersih selama beberapa pekan ke depan.

BPBD Trenggalek akan melanjutkan penyaluran bantuan sesuai kebutuhan di lapangan, sembari memantau perkembangan cuaca. Pemerintah juga mengandalkan laporan dari pemerintah desa dan kecamatan, untuk menentukan prioritas penanganan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih.

 

Reporter: Herlambang/Editor: Ais

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.