22 September 2026

Get In Touch

Kebal

Albard Khan, Alumni GMNI Jember.
Albard Khan, Alumni GMNI Jember.

OPINI (Lentera) - Ada sebuah jam tua di rumah nenek saya dulu, jam dinding dengan lonceng yang berdentang tiap jam, begitu keras hingga tamu yang bermalam pertama kali sering terjaga tengah malam, jantung berdebar, menyangka ada yang runtuh. Tapi keluarga yang tinggal di rumah itu tidur nyenyak saja. Mereka sudah lama tak mendengarnya. Bukan karena telinga mereka tumpul, melainkan karena sesuatu di kepala manusia—entah disebut kebiasaan, entah pertahanan diri—telah memutuskan bahwa dentang itu tak lagi perlu didengar sebagai peringatan. Ia telah menjadi semacam napas rumah itu sendiri: ada, tapi tak dihiraukan.

Saya kira begitulah cara kita, lambat-lambat, membangun tembok terhadap dunia yang terus mengetuk.

Kebal adalah kata yang aneh. Dalam ilmu kedokteran ia kata yang baik: tubuh yang kebal terhadap penyakit adalah tubuh yang bertahan. Tapi ada kekebalan lain yang justru tanda kematian kecil—bukan kematian tubuh, melainkan kematian kepekaan. Orang yang kebal terhadap rasa sakit sendiri barangkali beruntung. Orang yang kebal terhadap rasa sakit orang lain sedang kehilangan sesuatu yang, dulu, kita sebut nurani.

Ada masa ketika sebuah kabar—satu saja—cukup untuk membuat sebuah bangsa terhenti sejenak, seperti orang yang tersengat listrik dari kabel yang disangkanya sudah mati. Sengatan itu tak nyaman, tapi ia bukti bahwa saraf masih bekerja. Kini saya curiga saraf itu satu demi satu mulai tak menyala.

Bayangkan anak-anak di sebuah sekolah, yang pagi itu mendapat makan siang gratis, dimasak dengan niat baik oleh negara yang ingin memastikan tak ada anak lapar di kelasnya. Niat itu sungguh, dan mestinya sederhana: nasi, sayur, sedikit protein, lalu pelajaran berlanjut. Tapi kemudian ada yang muntah, ada yang pingsan, ada yang dibawa ke rumah sakit dengan wajah pucat, dan orang tua yang tadinya berterima kasih kini berdiri di depan sekolah, tak tahu harus marah kepada siapa. Beberapa hari kabar ini ramai. Lalu, seperti biasa, ia tenggelam, digantikan kabar baru, seakan tubuh anak-anak itu hanyalah statistik yang harus diperbarui setiap musim.

Di pulau lain, pada bulan yang sama, entah untuk yang ke berapa kali, asap mulai naik dari lahan yang dibakar. Ada sesuatu yang hampir liturgis dalam kejadian ini: datang di musim kering, seperti yang sudah-sudah, seperti sebuah adegan yang naskahnya telah dihafal semua pemainnya—petugas yang menyatakan siaga, helikopter yang menumpahkan air, pejabat yang berjanji menindak, dan tahun berikutnya api itu muncul lagi di tempat yang sama, dengan alasan yang sama. Kabut menutup langit sampai anak-anak diliburkan dan pesawat tak bisa mendarat, dan setelah beberapa pekan, kabut itu hilang bersama beritanya, seolah ia cuma cuaca, bukan sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia yang tahu betul apa yang mereka bakar.

Dan di kepulauan yang jauh dari Jawa, ada antrean panjang di depan pompa bensin—bukan karena kelangkaan minyak dunia, tapi karena distribusi yang, entah bagaimana, selalu terlambat menyeberang laut. Orang-orang di sana sudah menghitung: berapa jam mereka perlu menunggu, kapal apa yang membawa pasokan, siapa yang harus didekati agar jeriken mereka diisi lebih dulu. Bagi mereka ini bukan krisis, ini kalender. Bagi kita yang di Jawa, ini hanya berita singkat di sela berita lain, sesuatu yang terjadi "di sana", jauh, seperti cuaca di planet lain.

Dan dari podium, di tengah semua ini, kita kadang mendengar kata-kata yang membuat kita menahan napas—bukan karena bijaksana, melainkan karena begitu jauhnya dari apa yang sedang terjadi di bawah podium itu. Ucapan yang meleset dari duka, yang meleset dari kenyataan yang sedang ditanggung rakyatnya sendiri. Dulu ucapan semacam itu akan memicu keributan berhari-hari, dianalisis, dipertanyakan, ditertawakan sinis di warung kopi. Sekarang ia lewat begitu saja, seperti angin yang lewat jendela yang lama dibiarkan terbuka.

Saya tak hendak membuat daftar ini panjang, karena daftar hanya akan membuat kita merasa sudah cukup dengan mengingatnya. Yang saya cemaskan bukan peristiwa-peristiwa itu sendiri—peristiwa datang dan pergi, dunia memang penuh peristiwa buruk, dan tak ada zaman yang bersih dari bencana, kebodohan, atau kecerobohan kekuasaan. Yang saya cemaskan adalah bagaimana kita, sedikit demi sedikit, berhenti terkejut.

Ada sebuah eksperimen lama, konon dilakukan pada katak: masukkan ia ke air mendidih, ia akan melompat keluar seketika. Tapi masukkan ia ke air dingin, lalu panaskan pelan-pelan, dan katak itu akan tetap berada di sana sampai ia mati, karena tak ada satu momen pun yang cukup tajam untuk memberitahunya bahwa sudah waktunya melompat. Saya tak tahu apakah cerita ini benar secara biologi—saya dengar para ilmuwan meragukannya—tapi sebagai perumpamaan ia terlalu pas untuk dilupakan begitu saja. Yang membuat sebuah bangsa binasa barangkali bukan satu bencana besar, melainkan seribu kenaikan suhu yang kecil, yang masing-masing terlalu ringan untuk membuat siapa pun melompat.

Kita hidup di tengah kenaikan suhu yang kecil-kecil itu. Dan yang paling berbahaya bukanlah kemarahan yang terlalu sering—kemarahan bisa lelah dan mereda dengan wajar—melainkan hilangnya kapasitas untuk marah sama sekali. Api, kata orang tua dulu, perlu dijaga, sebab api yang dibiarkan padam sulit dinyalakan kembali dengan gesekan dua batu yang sama. Api kemarahan warga, api yang dulu menjadi bahan bakar bagi setiap perubahan yang pernah kita banggakan, agaknya sedang kehabisan kayu. Bukan karena ia dipadamkan dengan sengaja oleh siapa pun—meski ada yang diam-diam senang bila ia padam—melainkan karena kita sendiri, satu demi satu, berhenti menambahkan kayu ke dalamnya, lelah menyalakan sesuatu yang tampaknya akan padam lagi juga.

Ada satu hal lagi, yang barangkali lebih mengkhawatirkan ketimbang matinya kemarahan itu: matinya kata "kenapa". Ketika sesuatu buruk terjadi berulang kali dengan pola yang sama, ada dua kemungkinan jawaban yang bisa muncul dari kepala kita. Yang pertama adalah pertanyaan: mengapa ini terjadi lagi, siapa yang bertanggung jawab, apa yang bisa diperbaiki. Yang kedua, yang belakangan ini terasa lebih akrab di telinga, adalah semacam desah pendek: ini sudah takdir. Kalimat itu enak diucapkan, karena ia membebaskan kita dari kewajiban berpikir lebih jauh. Tapi takdir, dalam pengertian yang benar, adalah sesuatu yang datang dari luar kuasa manusia—gempa, kematian, hujan yang turun tanpa diminta. 

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dibuat dengan sengaja untuk membuka lahan bukan takdir. Distribusi yang tak pernah diperbaiki bukan takdir. Ucapan yang meleset dari kenyataan rakyatnya bukan takdir. Menyebutnya takdir adalah cara kita, secara halus, memindahkan tanggung jawab dari meja yang seharusnya menanggungnya, ke langit yang tak pernah salah.

Saya tak tahu kapan tepatnya kita mulai berhenti tersengat. Barangkali ia tak datang dalam satu hari, melainkan menetes seperti air yang perlahan menaikkan suhu di panci itu. Barangkali ia juga bagian dari cara manusia bertahan hidup: kita tak akan bisa berjalan setiap hari sambil menanggung seluruh derita dunia di pundak, dan sedikit kekebalan barangkali memang perlu, sebagaimana tubuh perlu kekebalan agar tak jatuh sakit oleh setiap kuman yang lewat.

Tapi ada bedanya antara kekebalan yang menjaga kita tetap hidup, dan kekebalan yang membuat kita berhenti menjadi sesama. Yang pertama melindungi tubuh. Yang kedua mengubur yang disebut warga menjadi sekadar penonton di teater nasibnya sendiri.

Saya kembali ke jam dinding nenek saya. Bertahun kemudian, rumah itu dijual, dan jam itu dibawa pindah ke rumah baru, ditaruh di ruang yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda pula di dalamnya. Dan untuk beberapa malam pertama di rumah baru itu, dentangnya kembali terdengar keras, mengejutkan siapa saja yang tertidur di dekatnya—termasuk, konon, anggota keluarga yang dulu tak pernah mendengarnya sama sekali.

Saya tak tahu apakah ada tempat baru semacam itu, ruang yang bisa membuat kita mendengar kembali dentang yang sudah lama kita anggap sebagai bagian dari dinding. Barangkali yang kita perlukan bukan kabar yang lebih besar, lebih mengejutkan, lebih keras dari yang sudah-sudah—sebab kita telah membuktikan bahwa kabar sebesar apa pun bisa, pada akhirnya, dijinakkan oleh pengulangan. 

Barangkali yang kita perlukan hanyalah keberanian untuk berpindah ruang, agar telinga yang sama bisa mendengar dengan cara yang baru: bukan sebagai penghuni yang telah lama mendekam di dalam rumah, melainkan sebagai tamu yang baru datang, yang jantungnya masih bisa berdebar oleh sesuatu yang, bagi orang lain, sudah lama dianggap biasa saja. (*)


Penulis: Albard Khan, Alumni GMNI Jember.
 

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.