11 September 2026

Get In Touch

BPBD Surabaya Edukasi Warga Soal Sesar Aktif dan Hadapi Risiko Gempa

Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto.

SURABAYA (Lentera) — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mengimbau warga untuk mengenali risiko, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa terkait keberadaan sesar aktif di Kota Pahlawan. 

Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan sesar aktif yang melintasi Surabaya merupakan bagian dari jalur patahan Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, di wilayah Surabaya jalur tersebut memiliki dua segmen, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru.

“Adanya sesar aktif ini masyarakat tidak perlu takut, bukan berarti adanya sesar tersebut bakal terjadi gempa sekarang atau sebentar lagi. Tapi, masyarakat tetap penting untuk mengetahui risikonya,” kata Irvan, Kamis (10/9/2026). 

Untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, Irvan menyebutkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui BPBD juga rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kedaruratan. Hal tersebut rutin dilakukan di lingkungan padat penduduk, sekolah, hingga perkantoran di Kota Surabaya. 

"Yang paling penting dilakukan masyarakat adalah memastikan informasi soal gempa dan kebencanaan lainnya melalui sumber resmi, seperti dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta BPBD," tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya, Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan, Rozikan mengatakan sesar di Kota Surabaya bukan patahan baru.

Berdasarkan hasil pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dipublikasikan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) di tahun 2017 dan 2024, patahan tersebut merupakan struktur geologi purba yang teridentifikasi kembali sebagai sesar aktif. 

“Jadi bukan yang terbentuk baru. Kemudian di Surabaya ini ada beberapa ya, ada sesar Kendeng yaitu jalur patahan yang melintasi Kota Surabaya, ada segmen Surabaya dan Waru,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, kedua segmen ini merupakan dari zona lipatan dan patahan Kendeng atau trust zone yang memanjang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Berdasarkan peta PuSGen tahun 2024, kekuatan segmen Surabaya mencapai 6,7 magnitudo, sedangkan Waru 6,8 magnitudo. 

Selain itu, pergerakan masing-masing segmen ini berbeda setiap tahunnya. Segmen Surabaya mengalami pergerakan 0,5 milimeter, sedangkan Waru 1 milimeter per tahun. 

“Efeknya apa kalau terjadi magnitudo maksimum? Guncangan bisa mencapai intensitas 6 hingga 8 MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini dapat memicu kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan tahan gempa. Serta kerusakan berat hingga roboh pada bangunan biasa atau tanpa struktur,” jelasnya. 

Rozikan mengungkapkan, beberapa langkah yang perlu diantisipasi masyarakat ketika gempa terjadi, adalah melakukan kroscek dan tidak mudah termakan isu hoax yang tidak jelas sumbernya.

Selanjutnya, masyarakat bisa mengakses informasi resmi dari aplikasi Info BMKG atau Pemkot Surabaya. Selain itu, masyarakat diimbau untuk aktif mencari edukasi atau penyelamatan diri dan memahami prinsip penyelamatan bencana. 

“Tetap tenang, kemudian pahami prinsip seperti drop, cover, hold on, seperti menunduk, kemudian melindungi kepala, masuk ke kolong meja dan berpegangan di situ. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kenali akses evakuasi, di mana kita berada tentunya sudah ada rambu evakuasi, jalur evakuasi dan titik kumpul. Nah, kemudian lokasi titik kumpul itulah yang menjadi tujuan akhir dari kita apabila terjadi bencana,” pungkasnya. 

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.