MALANG (Lentera) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengklaim ketersediaan sapi potong di wilayahnya surplus, meski harga daging sapi di Kota Malang masih tinggi. Dinas Peternakan Jatim menyebut kondisi tersebut tidak semata disebabkan kekurangan stok sapi, melainkan adanya periode ketika peternak memilih menahan penjualan ternaknya seiring tren harga yang meningkat.
"Kalau sapi potong secara hitungan, dari total populasi yang ada di Jawa Timur, kemudian yang siap kita potong di Jawa Timur itu sebenarnya cukup untuk Jawa Timur. Jawa Timur ini surplus untuk sapi potongnya," ujar Kepala Bidang Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Ahmad Rizal Muzamil, ditemui di Kota Malang, Sabtu (15/8/2026).
Bahkan, kata Ahmad, produksi sapi dari Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan daerah sendiri. Sebagian pasokan juga dikirim ke sejumlah wilayah lain di Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga kawasan Jabodetabek.
Sebelumnya, sejumlah pedagang di pasar tradisinal Kota Malang menyebut tingginya harga daging sapi dipengaruhi oleh minimnya ketersediaan sapi hidup di wilayah Malang. Salah satunya Sarbin, pedagang daging sapi di Pasar Bunul yang menyebut saat ini harga daging sapi kualitas bagus masih berkisar di Rp150 ribu.
Meski secara populasi mencukupi, ketersediaan sapi yang masuk ke pasar tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Ahmad menjelaskan, salah satu faktor yang dapat memengaruhi pasokan adalah keputusan peternak untuk menahan sapi yang sudah siap dijual.
Sapi jantan yang telah mencapai ukuran siap potong, misalnya, tidak selalu langsung dijual oleh peternak. Ketika harga sedang mengalami tren fluktuasi seperti saat ini, peternak dinilai cenderung menunggu karena berharap mendapatkan harga yang lebih baik.
"Kalau jumlah ternaknya itu sebenarnya cukup, persediaan ada. Cuman ada periode-periode tertentu mungkin ternak itu tidak dijual, karena sekarang ini tidak dikeluarkan oleh peternak karena melihat tren harganya. Mereka belum buru-buru menjual ke RPH," katanya.
Kondisi tersebut kemudian dapat berdampak pada ketersediaan sapi di pasar maupun rumah pemotongan hewan pada periode tertentu. Dengan pasokan yang lebih terbatas, harga daging sapi di tingkat konsumen pun berpotensi mengalami kenaikan.
Namun, Ahmad menegaskan kondisi tersebut tidak menunjukkan Jawa Timur mengalami kekurangan stok sapi secara keseluruhan.
Sementara itu, menanggapi kondisi harga daging sapi di pasaran, Ahmad mengatakan kenaikannya masih tergolong relatif stabil jika dibandingkan dengan komoditas peternakan lainnya.
Ia menyebutkan kenaikan harga daging sapi secara nasional maupun di Jawa Timur khususnya di Kota Malang, berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Menurutnya, angka tersebut belum menunjukkan kenaikan yang ekstrem.
"Daging sapi itu justru relatif stabil harganya. Kalau secara nasional maupun Jawa Timur sendiri untuk harga daging sapi ini relatif paling ada kenaikan sekitar Rp5.000, Rp10.000 per kilo, tidak terlalu ekstrem," katanya.
Ahmad membandingkan kondisi tersebut dengan harga telur maupun daging ayam yang menurutnya dapat mengalami kenaikan hingga 50 persen. Sementara itu, kenaikan harga daging sapi masih berada di bawah 10 persen sehingga dinilai masih dalam batas kewajaran.
Di sisi lain, pemerintah memiliki opsi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi apabila pasokan domestik tidak mencukupi. Ahmad menjelaskan, regulasi memungkinkan adanya impor sapi hidup untuk dipotong di Indonesia. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)

Post a comment