15 August 2026

Get In Touch

Masuk Karisma Event Nusantara, Festival Jaranan Trenggalek 2026 Siap Angkat Identitas Jaranan Lokal

Penari menampilkan atraksi Jaranan Turonggo Yakso khas Trenggalek.
Penari menampilkan atraksi Jaranan Turonggo Yakso khas Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 bakal kembali digelar dengan konsep yang semakin menonjolkan identitas jaranan khas Trenggalek. Tahun ini, festival tersebut menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) dan dijadwalkan berlangsung selama 7 hari, mulai 20 hingga 26 September 2026.

Koordinator Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT), Resa Jaya, mengatakan persiapan festival saat ini telah mencapai sekitar 45 persen. Sejumlah rangkaian praacara juga telah dilakukan untuk menggali lebih jauh perkembangan dan sejarah jaranan di berbagai wilayah Trenggalek.

Salah satunya melalui program Samboja atau Sambang Bolo Jaranan yang digelar di sejumlah kecamatan. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bersama pelaku dan komunitas jaranan untuk membahas kondisi ekosistem kesenian jaranan sekaligus menggali berbagai informasi sejarah.

"Untuk progres persiapan festival, saat ini kami sudah berada di sekitar 45 persen. Sebelumnya kami juga sudah melaksanakan Samboja di beberapa titik untuk berdiskusi dengan teman-teman jaranan sekaligus menggali informasi terkait sejarah dan perkembangan jaranan di daerah," ujar Resa, Sabtu (15/8/2026).

Dalam kegiatan Samboja, FJTT mengunjungi sejumlah wilayah, di antaranya Watulimo, Pogalan, Pule, Bendungan, Kampak, Gandusari, dan Tugu. Berbagai informasi yang diperoleh nantinya akan dikumpulkan sebagai bahan untuk riset mengenai jaranan Trenggalek.

Menurut Resa, masuknya Festival Jaranan Trenggalek ke dalam KEN menjadi salah satu pembeda penting pada penyelenggaraan tahun ini. Festival tersebut kini berada dalam satu kalender event nasional bersama sejumlah festival budaya lainnya.

"Yang membedakan tahun ini salah satunya karena cita-cita kami sejak tahun lalu untuk masuk ke Karisma Event Nusantara akhirnya terwujud. Ini menjadi kebanggaan karena Festival Jaranan Trenggalek sekarang berada dalam satu ruang dengan berbagai festival budaya lainnya," jelasnya.

Dari sisi rangkaian acara, konsep utama festival masih mempertahankan pola penyelenggaraan sebelumnya. Namun, FJTT tahun ini akan lebih menekankan identitas Trenggalek dan jaranan sebagai kekuatan utama festival.

"Kami ingin lebih menekankan bagaimana identitas Trenggalek dan jaranannya. Spektrum komunitas dan grup jaranan yang ada di Trenggalek ini akan kami dorong menjadi sebuah episentrum," kata Resa.

Festival dijadwalkan berlangsung malam hari selama 7 hari. Pada 20 September, kegiatan diawali dengan pembukaan sekaligus lomba kategori Turonggo Yakso bocah. Lomba jaranan bocah dan remaja berlanjut pada 21 September.

Selanjutnya, 22 September diisi kategori remaja, sedangkan 23 hingga 25 September diperuntukkan bagi kategori dewasa atau umum, baik jaranan Turonggo Yakso maupun non-Turonggo Yakso. Rangkaian festival ditutup pada 26 September dengan penyerahan penghargaan dan pengumuman hasil perlombaan.

Sementara itu, sesepuh sekaligus salah satu perintis FJTT, Sutiyono, menyambut positif semangat generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan kesenian jaranan di Trenggalek.

Sutiyono yang mengaku ikut merintis lomba jaranan di Trenggalek itu menilai perkembangan festival hingga menjadi agenda besar saat ini merupakan hal yang membanggakan.

"Saya sangat bangga punya generasi penerus seperti adik-adik sekarang yang punya niatan cukup hebat untuk membuat ke depannya lebih baik. Saya termasuk yang ikut mendirikan lomba jaranan pada 1996, yang sekarang berkembang menjadi Festival Jaranan," ungkap Sutiyono.

Ia berharap pengalaman para sesepuh dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengembangkan festival tanpa mengurangi semangat berkesenian. Menurutnya, inovasi tetap diperlukan dengan tetap memperhatikan aturan pemerintah dan menjaga hubungan antarkelompok jaranan.

"Pengalaman yang saya miliki jangan sampai menjadi kendala bagi semangat mereka. Justru harus menjadi pemacu untuk mencari terobosan-terobosan agar kegiatan ini semakin lancar tanpa harus bersinggungan dengan kelompok lain," ujarnya.

Sutiyono juga melihat antusiasme generasi muda terhadap jaranan saat ini cukup tinggi. Bahkan, kecintaan tersebut terlihat dari anak-anak sekolah yang tidak lagi merasa malu menunjukkan identitas sebagai pelaku atau pencinta jaranan.

"Anak-anak sekolah sekarang membawa jaranan, memakai pakaian jaranan. Mereka tidak merasa malu. Saya bangga karena berarti jaranan sudah melekat pada jiwa mereka," kata Sutiyono.

Ia menilai semangat tersebut perlu terus diarahkan dan diberikan ruang agar dapat berkembang menjadi kekuatan baru bagi keberlangsungan kesenian jaranan di Trenggalek. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.