29 July 2026

Get In Touch

Puluhan Siswa SDN di Kota Malang Diduga Keracunan MBG, Satgas: Uji Lab Temukan Bakteri Ecoli pada Olahan Telur

Ketua Satgas MBG sekaligus Sekda Kota Malang, Erik Setyo Santoso. (Santi/Lentera)
Ketua Satgas MBG sekaligus Sekda Kota Malang, Erik Setyo Santoso. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Satgas MBG Kota Malang membeberkan kemungkinan penyebab dugaan keracunan Puluhan siswa SDN Kauman 1 Kota Malang usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pekan lalu. Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada olahan telur yang disajikan kepada para siswa.

"Seluruh jenis makanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada hari itu kami ambil sampelnya. Ada satu jenis makanan yang kadar bakteri E. coli-nya di atas ketentuan, yaitu olahan telur," ujar Ketua Satgas MBG Kota Malang yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, Selasa (28/7/2026).

Pada hari kejadian, menurutnya menu MBG terdiri atas nasi, capcay manis, telur ceplok kuah, tempe daun jeruk, dan susu. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, menu selain olahan telur dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan.

Sebagai tindak lanjut, Pemkot Malang menghentikan sementara operasional produksi dan distribusi makanan dari SPPG Sukoharjo yang menjadi penyedia MBG bagi SDN Kauman 1. Penghentian tersebut belum ditentukan batas waktunya.

Menurut Erik, pemerintah masih menunggu pembenahan prosedur operasional standar (SOP) produksi dari SPPG sekaligus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait langkah pembinaan.

"Untuk sampai kapannya, kami akan melihat pembenahan-pembenahan dalam SOP produksi dari SPPG yang bersangkutan," katanya.

Pemkot juga terus memantau kondisi para siswa terdampak. Diketahui, dari 538 orang penerima manfaat di SDN Kauman 1 Kota Malang, sebanyak 33 siswa diduga mengalami sakit perut, mual, dan muntah. Saat ini, beberapa siswa di antaranya juga masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Erik memastikan seluruh biaya pengobatan dan penanganan medis menjadi tanggung jawab pihak SPPG sebagai penyedia makanan. Pemerintah daerah, kata dia, juga memastikan seluruh siswa memperoleh layanan kesehatan hingga pulih. "Intinya, anak-anak ini mendapatkan penanganan terbaik dan cepat pulih," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket, Abdul Hanan Jalil, selaku mitra SPPG Sukoharjo, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Namun, ia menilai proses penelusuran penyebab dugaan keracunan seharusnya dilakukan lebih cepat.

Menurut Hanan, laporan dari pihak sekolah baru diterima sehari setelah para siswa mengonsumsi MBG pada Rabu (22/7/2026), sedangkan sampel makanan baru diambil untuk diuji laboratorium pada Kamis (23/7/2026). Kondisi tersebut, menurutnya, menyulitkan penelusuran penyebab pasti karena perlu diketahui pula makanan lain yang dikonsumsi siswa setelah menyantap MBG.

"Karena kejadiannya tidak langsung, jadi kami bingung. Seharusnya pasca makan MBG itu makan apa lagi, itu yang harus ditracking. Jadi jangan setiap persoalan ditimpakan hanya ke MBG. Sampel telur, nasi, dan semua makanan hari Selasa, itu diambil uji lab hari Kamis, kan repot juga kami. Sampel hari Selasa tapi diambil hari Kamis pukul 11.00," ujarnya.

SPPG Sukoharjo diketahui setiap hari mendistribusikan makanan bergizi kepada 2.608 penerima manfaat mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA. (*) 


Reporter: Santi Wahyu
Editor; Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.