MALANG (Lentera) -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menguji kesiapan menghadapi potensi erupsi Gunung Kelud dengan menyimulasikan penanganan bencana secara langsung di lapangan. Mulai dari evakuasi massal warga dan penyelamatan korban, hingga distribusi logistik ke daerah yang terisolasi akibat akses terputus.
Skenario tersebut diuji Pemkab Malang melalui Gladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX) erupsi Gunung Kelud di Selorejo Camping Ground, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, pada 7–8 Juli 2026.
"Sinergi lintas sektor harus terus diperkuat. Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Latihan ini adalah bentuk investasi keselamatan," ujar Wakil Bupati Malang, Latifah Shohib dalam keterangan resminya yang diterima pada Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, latihan ini menjadi ujian lapangan atas kesiapan Kabupaten Malang menghadapi potensi dampak erupsi Gunung Kelud, khususnya di Kecamatan Ngantang, Kasembon, dan Pujon. Ketiga wilayah tersebut berada dalam kawasan rawan bencana erupsi Gunung Kelud.
Diketahui, FTX menjadi puncak dari rangkaian pengujian kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Malang dalam menghadapi keadaan darurat bencana.
Proses tersebut bermula dari penyusunan Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB) Kabupaten Malang yang diuji melalui Tabletop Exercise (TTX) pada November 2025.
Tahapan berikutnya dilanjutkan melalui Gladi Posko atau Command Post Exercise (CPX) pada 2 Juli 2026. Pada tahap ini, Rencana Kontingensi (RenKon) diuji melalui simulasi sistem komando penanganan darurat.
Dalam sistem penanganan kedaruratan, RPKB menjadi pedoman strategis penanggulangan keadaan darurat di daerah. Arah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam RenKon yang memuat skenario penanganan ancaman bencana tertentu.
Skenario tersebut selanjutnya menjadi acuan penyusunan Rencana Operasi (RENOPS) sebagai pedoman kerja saat operasi tanggap darurat berlangsung.
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo, menekankan gladi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
"Kesiapan menghadapi warga yang enggan meninggalkan tempat tinggal juga perlu diuji. Di sisi lain, komunitas relawan di wilayah rawan harus mampu menjadi kekuatan dalam penanggulangan bencana," kata Pangarso Suryotomo.
Dalam FTX, warga menjalani simulasi evakuasi mandiri sebelum dipindahkan secara massal dari titik kumpul menuju lokasi pengungsian.
Tim vertical rescue juga melakukan simulasi penyelamatan korban yang terperosok ke jurang. Sementara itu, tim penolong gabungan dari Tim Reaksi Cepat Kabupaten Malang menjalankan skenario pencarian dan penyelamatan korban di reruntuhan bangunan.
Simulasi turut menguji pemberian pertolongan pertama gawat darurat kepada penyandang disabilitas dan warga yang terluka saat melakukan evakuasi mandiri.
Untuk menghadapi kemungkinan wilayah terisolasi, petugas juga mempraktikkan distribusi logistik menggunakan metode tension line. Teknik yang biasa digunakan tim vertical rescue tersebut memungkinkan korban maupun kebutuhan darurat dipindahkan menuju area aman.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto menilai pelaksanaan gladi berjalan baik, tetapi masih terdapat ruang untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.
"Hasil simulasi nanti akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat koordinasi lintas sektor di Kabupaten Malang dan wilayah sekitarnya," katanya.
Purwoto menyebut, hasil evaluasi mencakup penyamaan persepsi, peningkatan keterampilan personel, penguatan jejaring komunikasi antarinstansi, penentuan jalur evakuasi dan titik pengungsian, serta mekanisme distribusi logistik.
Reporter: Santi Wahyu




.jpg)
