10 June 2026

Get In Touch

Pemkot Surabaya Pastikan "Warisan" Prof. Johan Silas Tetap Hidup: Bagian Penting Arah Pembangunan Kota

Johan Silas adalah tokoh arsitektur Indonesia, terutama dalam bidang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan (Wikipedia)
Johan Silas adalah tokoh arsitektur Indonesia, terutama dalam bidang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan (Wikipedia)

SURABAYA (Lentera) - Kepergian Prof. Ir. Johan Silas pada usia 90 tahun tidak hanya meninggalkan duka bagi dunia akademik, tetapi juga bagi Kota Surabaya yang selama puluhan tahun menikmati buah pemikiran dan dedikasinya dalam pembangunan perkotaan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan berbagai gagasan dan nilai yang diwariskan oleh pakar tata kota legendaris tersebut akan terus menjadi bagian penting dalam arah pembangunan kota ke depan.

Prof. Johan Silas mengembuskan napas terakhir di RS Kemenkes Surabaya pada Senin (8/6/2026) pukul 03.24 WIB. Semasa hidupnya, akademisi senior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu dikenal sebagai sosok yang aktif memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan pembangunan kota, mulai dari penataan permukiman, tata ruang, perumahan, hingga pelestarian cagar budaya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Maria Theresia Ekawati Rahayu, mengatakan Prof. Johan merupakan salah satu tokoh yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan pembangunan Kota Pahlawan.

"Beliau memiliki kontribusi besar dalam perjalanan pembangunan Kota Surabaya. Sebagai arsitek dan akademisi, Prof. Johan tidak hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga karena dedikasinya yang panjang dalam memberikan pemikiran dan arah bagi penataan kota yang lebih baik," kata Yayuk, sapaan akrabnya, Selasa (9/6/2026).

Salah satu warisan penting yang hingga kini masih dirasakan masyarakat adalah konsep Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Sombo.

Gagasan tersebut menjadi tonggak penataan kawasan permukiman perkotaan yang lebih layak dan berkelanjutan, sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan tidak sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga.

Selain melalui proyek permukiman, pemikiran Johan Silas turut mewarnai berbagai kebijakan tata ruang Surabaya selama bertahun-tahun. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia tetap aktif memberikan sumbangsih pemikiran sebagai penasihat Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya, khususnya dalam upaya menjaga identitas dan sejarah kota di tengah pesatnya pembangunan.

Peran tersebut juga berlanjut di sektor perumahan melalui jabatannya sebagai Komisaris PT Yekape (YKP). Dari posisi itu, ia terus mendorong pengembangan kawasan hunian yang ramah lingkungan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Sejumlah kawasan seperti Eco Medayu dan Eco Wonosakti menjadi representasi dari konsep pembangunan berkelanjutan yang selama ini ia perjuangkan.

Menurut Yayuk, warisan terbesar yang ditinggalkan Prof. Johan bukan semata bangunan atau kawasan yang berdiri hingga saat ini, melainkan prinsip-prinsip pembangunan yang selalu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.

"Beliau selalu mengingatkan bahwa pembangunan harus dilakukan sesuai ketentuan dan perencanaan yang baik. Prinsip-prinsip itu yang terus beliau pegang dan ajarkan kepada banyak pihak," ujarnya.

Sebagai akademisi, Prof. Johan juga dikenal berhasil menjembatani dunia pendidikan dengan praktik pembangunan di lapangan. Melalui pengabdiannya di ITS, ia melahirkan banyak generasi penerus yang kini berkiprah di berbagai sektor, termasuk di lingkungan Pemkot Surabaya.

Di mata jajaran pemerintah kota, Prof. Johan adalah sosok yang tidak pernah berhenti mengabdi. Meski telah memasuki usia senja, ia tetap aktif memberikan masukan dan pandangan mengenai masa depan Surabaya. Bahkan menjelang akhir hayatnya, ia masih menyampaikan berbagai gagasan terkait pembangunan kota.

"Beliau adalah salah satu putra terbaik Surabaya yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kota ini. Kontribusinya menjangkau banyak aspek, mulai dari tata ruang, perumahan, pelestarian cagar budaya hingga pengembangan sumber daya manusia," ungkap Yayuk.

Kemampuan Prof. Johan dalam menjembatani berbagai generasi juga menjadi salah satu keteladanan yang dikenang banyak pihak. Dengan wawasan luas dan penyampaian yang sederhana, ia mampu membuat gagasan-gagasan besar mengenai pembangunan kota dapat dipahami dan diterapkan oleh berbagai kalangan.

Meski sosoknya telah berpulang, jejak pemikiran Johan Silas tetap hidup dalam wajah Surabaya yang terus berkembang. Karena itu, Pemkot Surabaya berkomitmen melanjutkan nilai-nilai yang telah diwariskannya, mulai dari pelestarian cagar budaya, penataan ruang, pembangunan perumahan, hingga konsep pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan warga.

"Jejak pemikiran yang diwariskan beliau akan tetap menjadi bagian penting dalam arah pembangunan Surabaya dari generasi ke generasi," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.