PRESIDEN Prabowo Subianto akhirnya mengambil langkah drastis dengan merombak total pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa (2/6). Dadan Hindayana resmi dicopot dari jabatan Kepala BGN bersama dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, menyusul evaluasi ketat terhadap 18 bulan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Istana secara blak-blakan mengungkap bahwa keputusan ini dipicu oleh temuan fatal terkait lemahnya kepatuhan SOP, karut-marut tata kelola kelembagaan, serta tumpukan persoalan kualitas layanan di lapangan. Sebagai gantinya, Prabowo menunjuk Nanik S. Deyang—yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi—untuk memimpin wajah baru BGN, didampingi Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai wakil kepala yang baru. Posisi baru ini bak 'kursi panas' yang menuntut pembuktian cepat dari Nanik. Ia mewarisi rapor merah yang mengkhawatirkan: sepanjang 2025 saja, tercatat ada 70 kasus keracunan makanan yang berdampak pada 5.914 penerima manfaat. Selain itu, sejak program digulirkan pada 6 Januari 2025 hingga 29 Mei 2026, dari total 27.208 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, sebanyak 8.182 unit pernah disetop sementara; dengan rincian terbaru 2.213 dapur masih menjalani masa suspend, 112 unit ditutup total karena pelanggaran SOP, dan sisanya baru mulai beroperasi kembali. Di tengah target ambisius untuk memperluas jangkauan MBG hingga 82 juta penerima manfaat pada akhir 2026, Nanik dituntut membuktikan perombakan besar ini adalah reformasi riil, bukan sekadar rotasi nama di atas kertas. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/03062026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)
