25 April 2026

Get In Touch

Kemenkes: 10-15 Persen Jemaah Haji Alami Gangguan Kesehatan Jiwa, Lansia Rentan Demensia

Kedatangan jamaah calon haji Indonesia di Madinah. (foto: Kemenhaj)
Kedatangan jamaah calon haji Indonesia di Madinah. (foto: Kemenhaj)

JAKARTA (Lentera) - Di balik penyelenggaraan ibadah haji 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sekitar 10-15 persen jemaah haji Indonesia dilaporkan mengalami gangguan kesehatan jiwa, dengan kelompok lansia menjadi yang paling rentan, terutama terhadap gejala demensia.

"Berdasarkan laporan yang kami terima, sekitar 10-15 persen jemaah memerlukan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa," ujar Imran di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu (25/4/2026).

Selain itu, ia menyebutkan sekitar 30-40 persen jemaah mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian serta padatnya aktivitas ibadah.

Imran menegaskan, lansia menjadi kelompok paling rentan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Data Balai Pengobatan Haji Indonesia menunjukkan, sekitar 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat merupakan lansia dengan gejala demensia.

"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa," kata Imran.

Menurutnya, perubahan lingkungan ekstrem, kepadatan jutaan jemaah, hingga tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Untuk itu, Kemenkes menerapkan pendekatan holistik dalam layanan kesehatan jemaah haji. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga kesehatan mental jemaah sejak sebelum keberangkatan.

Langkah tersebut mencakup konseling prakeberangkatan, pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah yang diimbangi waktu istirahat, serta perhatian pada hidrasi dan nutrisi selama di Tanah Suci.

Selain itu, praktik relaksasi seperti doa dan zikir juga didorong untuk membantu menenangkan pikiran. Dukungan sosial antar jemaah turut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas emosional selama menjalankan ibadah.

Imran juga menyebutkan, petugas kesehatan haji kini telah dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah faktor eksternal turut berpotensi memicu gangguan mental pada jemaah. Salah satunya adalah kondisi cuaca di Makkah yang saat ini mencapai rata-rata 35–38 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah, yang dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan tidur.

Selain itu, aturan baru dari Pemerintah Arab Saudi terkait visa, akses ke Makkah, hingga penggunaan aplikasi digital Nusuk juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah yang kurang terbiasa dengan teknologi.

Aktivitas ibadah yang padat seperti tawaf dan sa’i juga dapat menimbulkan kelelahan fisik dan emosional, sementara masa kepulangan menuntut adaptasi ulang setelah pengalaman spiritual yang intens.

Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, serta kepadatan jemaah dalam jumlah besar turut berpotensi memunculkan rasa frustrasi hingga isolasi sosial.

"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi," kata Imran.

Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.