OPINI (Lentera) -Pada masa lalu (hampir penghujung abad ke-19), sumber literasi kaum peremouan, termasuk Raden Ajeng Kartini, hanya dongeng. Sangat sedikit perempuan yang bisa membaca huruf latin. Sedangkan melek huruf Arab, tidak diakui. Tetapi RA Kartini, sudah sering membaca berbagai roman. Termasuk yang anti-perang, karangan Berta Von Suttner, berjudul “Die Waffen Nieder” (Letakkan Senjata). Ia juga membaca “Max Havelaar” karya Multatuli (Douwes Dekker). Pada masa kini, literasi perempuan terbuka tanpa batas (ruang, waktu, dan teritorial batas negara), sebagai era digital.
Segenap perempuan, murid SD hingga SLTA beserta guru masih bersemangat merayakan Hari Lahir Raden Ajeng Kartini. Kostum perempuan tradisional menjadi pemandangan indah (penuh warna) di berbagai sekolah. Kalangan pejuang (pegiat) perempuan selalu memiliki cara mem-bahagia-kan kaumnya. Banyak organisasi masyarakat (Ormas) yang khusus berkiprah untuk perempuan, termasuk kalangan muslimat. Negara juga telah hadir. Namun masih banyak penjahat mengincar “kelemahan” perempuan.
Bahkan ironisnya, sivitas kampus Hukum (FH-UI) juga turut melakukan tindakan pelecehan seksual verbal. Termasuk menyasar rekan sesama mahasiswa, dan dosen perempuan. Walau status sebagai mahasiswa fakultas Hukum, bukan jaminan ke-salehn-an moral. Juga bukan steril dari tindakan pidana. Karena realitanya, APH (Aparat Penegak Hukum) juga banyak yang dipenjara, dalam kasus pelecehan terhadap marwah perempuan.
Sampai peringatan hari Kartini ke-62 tahun (2026), masih banyak perempuan menjadi incaran berbagai tindakan kriminal, sampai diskriminasi. Serta gerakan anti emansipasi. Berdasar catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2025 terdapat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan. Meningkat 14,07%. Sekaligus menjadi rekor tertinggi selama satu dekade. Didominasi kekerasan seksual terbanyak, 24.472 kasus. Berdasar catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sepertiga perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Ironisnya selama tahun 2025, sebanyak 316 juta perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan intim. Serta catatan paling pedih, adalah, setiap hari terdapat 137 jiwa perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia, menjadi korban pembunuhan! Terutama di kawasan konflik, seperti Gaza, Palestina. Sehingga masih diperlukan penguatan aksi melaksanakan peraturan anti-diskriminasi terhadap perempuan.
Padahal pada tahun 1979 (45 tahun lalu) telah diterbitkan kesepakatan internasional berupa deklarasi CEDAW (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimantion Against Women). Konvensi yang mengikis diskriminasi perempuan. Wajib ditaati seluruh negara di dunia. Indonesia meratifikasi (bukti persetujuan) CEDAW, melalui UU Nomor 7 tahun 1984. Disusul penerbitan UU Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
RA Kartini Mati Syahid
Berdasar Sejarah, Kartini, memiliki trah ke-santri-an bermartabat. Ayahnya, RM Sosroningrat, adalah keturunan Pangeran Dangirin, Bupati Surabaya abad ke-18. Dari Pangeran Dangirin, dapat ditelusuri sebagai trah keturunan kerajaan Majapahit. Dari garis ayah, silsilah RA Kartini, tersambung dengan Sultan Hamengkubuwono ke-6. Sedangkan dari garis keturunan ibu, Kartini merupakan “santri-wati.” Ia adalah cucu dari mbah kyai Haji Madirono, seorang ulama kesohor di Telukawur, Jepara.
Sebagai keturunan mbah kyai Madirono, Kartini mewarisi intelektualitas (dan spiritualitas) memadai. Minat bacanya sangat tinggi, termasuk beberapa karya sastra bermutu berbahasa Belanda. Misalnya karya Frederik Willem van Eeden (seorang ahli Botani yang hidup di Indonesia, sekaligus saterawan) sebuah puisi filosofis yang cukup panjang. Sehingga tulisan dalam surat-suratnya, bukan sekadar retorika kertas. Melainkan menjadi inspirasi kalangan perempuan kolonial (saat itu).
Namun sesungguhnya adat Indonesia (dan adat suku-suku) memiliki penghormatan terhadap perempuan. Ditambah pencerahan agama, perempuan menjadi garda terdepan aspek pendidikan (untuk kemajuan bangsa). Berbagai istilah (perempuan, wanita, dan wadon) memiliki makna strategis. Kata wadon (dari kata wadul), berarti tempat meng-hiba (curhat). Perempuan biasanya selalu memiliki solusi berbagai permasalahan. Agama menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Banyak ayat-ayat dalam kitab suci, mewajibkan perilaku me-mulia-kan kaum ibu.
RA Kartini juga secara langsung me-minta, kepada guru mengajinya, Kyai Sholeh Darat, Semarang, untuk penulisan tafsir Al-Quran berbahasa Jawa. Keinginannya teralisasi, berupa tafsir Al-Quran bernama Fayd al-Rahman fi Terjamah Kalam Malik Dayyan. Diterbitkan pertama kali di Singapura, tahun 1894. Tetapi baru selesai tafsir surat pertama (Al-Fatihah), dan surah ke-2 (Al-Baqarah). Tafsir Fayd al-Rahman fi Terjamah Kalam Malik Dayyan, secara lughowi (ke-bahasaan), bermakna, “Limpahan Kasih Allah dalam Menerjemahkan Firman Allah Penguasa Hari Pembalasan.”
RA Kartini sebagai tokoh perempuan utama, tergolong sangat maju, jauh melampuai zamannya dalam pemikiran. Ke-pahlawanan tidak hanya dilakukan melalui angkat senjata. Namun semangat memajukan literasi. Termasuk protes terhadap kitab suci yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa lokal. Bahkan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” (Door Duisternis tot Licht) Kartini ter-inspirasi Al-Quran surah Al-Baqarah (QS 2:257). “Allah adalah pelindung orang beriman, membimbing mereka dari kegelapan menuju Cahaya.”
RA Kartini sebagai ibu, bisa digolongkan sebagai “syahid,” karena meninggal dunia 4 hari pasca melahirkan. Yang diderita, adalah preeklamsia. Yakni komplikasi sakit saat kehamilan. Termasuk di dalamnya tekanan darah tinggi, bengkak, dan kejang. Jika terjadi sekarang, wajib persalinan operasi sesar (SC). Tetapi saat itu belum dikenal tindakan persalinen sesar (Caesarean Section).
Tetapi bayi laki-laki yang dilahirkannya selamat. Putranya, Soesalit Djojoadhiningrat, berkarir di militer (terakhir berpangkat Mayor Jenderal). Artinya, RA Kartini, sudah sempurna sebagai Perempuan, telah menjadi ibu. Status (sebagai ibu) yang paling di-mulia-kan seluruh manusia berdasar ajaran agama.
“Ibu, menggoyang ayunan anaknya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya menggoyang (guncangkan) dunia.” Begitu satir yang ditulis oleh panglima perang (asal Perancis) yang paling sukses di se-antero Eropa, Napoleon Bonaparte. Pemimpin de-facto beberapa negara (sebagai Kaisar Perancis, dan Presiden Italia), sangat memuliakan kaum ibu. Realitanya hingga kini, di seluruh dunia, setiap ibu memanggul tanggungjawab ekonomi, dan sosial, lebih besar (*)
Penulis: Yunus Supanto, Wartawan Senior, Pengurus PCNU Surabaya|Editor: Arifin BH



.jpg)
