04 April 2026

Get In Touch

Akhir Penantian 30 Tahun, Sumur Bor Dalam Pangkas Beban Petani Mojokerto

Bangunan sumur bor dalam oleh Kementan dan Kemen PU RI untuk petani di Mojokerto. (foto:Kementan RI)
Bangunan sumur bor dalam oleh Kementan dan Kemen PU RI untuk petani di Mojokerto. (foto:Kementan RI)

MOJOKERTO (Lentera) - Harapan panjang petani di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, akhirnya terwujud. Setelah sekitar 30 tahun bergelut dengan keterbatasan air dan tingginya biaya operasional, kehadiran sumur bor dalam melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) kini menjadi angin segar yang mampu memangkas beban petani setempat.

"Atas nama masyarakat petani Sumenggo dan Junggosari, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah. Bantuan ini sangat berarti, sehingga petani kami tidak lagi kesulitan air," ujar Kepala Dusun Sumenggo, Julianto, melansir laman resmi Kementan, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, sebelum adanya fasilitas tersebut, petani harus mengandalkan sumur bor dangkal dengan biaya operasional yang cukup memberatkan. Bahkan, dalam sehari, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

"Dulu, kalau pakai sumur bor dangkal, biayanya bisa sampai Rp500 ribu per hari. Sekarang, dengan sumur bor dalam, biaya hanya sekitar Rp70 ribu karena sudah pakai listrik. Tidak perlu lagi cari dan angkut solar," jelasnya.

Perubahan signifikan itu tak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga memberikan kepastian pasokan air bagi petani, terutama dalam menghadapi musim tanam yang kerap terhambat akibat kekeringan.

"Ini penantian kami sudah lama, bahkan sampai 30 tahun. Selama ini sulit sekali mengajukan sumur bor dalam. Alhamdulillah sekarang bisa terwujud. Ini sangat luar biasa bagi kami," imbuh Julianto.

Program pembangunan sumur bor dalam ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat infrastruktur air di sektor pertanian, khususnya melalui kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Dhani Gartina, menyampaikan keberadaan sumur JIAT memberikan kepastian air bagi petani, sekaligus membuka peluang peningkatan indeks pertanaman.

"Kalau kelompok tani dan gapoktan di sini bergerak, tahun depan outlet bisa ditambah. Artinya, kepastian air untuk satu musim tanam sudah bisa dijamin. Pemerintah sudah membangun sumber air ini secara gratis, sekarang tinggal petaninya memanfaatkan dan merawat," ujar Dhani.

Ditegaskannya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan kelembagaan petani dalam mengelola dan merawat infrastruktur yang telah dibangun.

"Yang paling penting, kelompok tani harus mampu mengelola sarana dan prasarana ini. Saya titip pesan, ini harus dirawat sampai puluhan tahun. Infrastruktur pengairan ini nilainya tidak kecil," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan penguatan infrastruktur air menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Editor:Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.