25 January 2026

Get In Touch

Lewat Rubrik Digital, Pemkot Malang Kenalkan Sejarah Penamaan Wilayah ke Gen Z

Ilustrasi: Kawasan Jalan Basuki Rahman yang dikenal dengan nama Kayutangan Heritage. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Kawasan Jalan Basuki Rahman yang dikenal dengan nama Kayutangan Heritage. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berupaya mengenalkan kembali sejarah penamaan wilayah kepada generasi muda, khususnya Gen Z. Upaya tersebut diwujudkan melalui rubrikasi digital bertajuk 'Menolak Lupa', yang akan mengulas kisah di balik nama-nama wilayah yang selama ini akrab di telinga warga.

"Kalau dari aspek komunikasi informasi publik, penguatan rubrikasi tetap kita lakukan. Ini juga dalam rangka menerjemahkan tagline Pak Wali, salah satunya Menolak Lupa," ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang, M. Nur Widianto, Jumat (23/1/2026).

Pria yang akrab dengan sapaan Wiwid, ini menjelaskan rubrik digital tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi informasi publik. Yang diarahkan untuk membangkitkan memori kolektif masyarakat Kota Malang.

Melalui rubrikasi tersebut, Diskominfo akan mengangkat kisah-kisah di balik penamaan sejumlah wilayah di Kota Malang, yang secara administratif kerap berbeda dengan sebutan atau julukan yang hidup di masyarakat.

Wiwid menilai, banyak anak muda saat ini yang mengenal suatu wilayah hanya sebatas nama jalan. Tanpa memahami latar belakang sejarah dan sosial yang melatarinya.

"Di beberapa sudut kota ada wilayah-wilayah yang anak sekarang mungkin tidak paham. Misalnya kenapa disebut Kayutangan, padahal secara administratif itu Jalan Basuki Rahmat," jelasnya.

Selain Kayutangan, Wiwid juga mencontohkan sejumlah kawasan lain yang memiliki julukan khas di kalangan warga Kota Malang. Di antaranya Betek yang merujuk pada kawasan Jalan Mayjend Panjaitan, serta Tongan yang dikenal sebagai sebutan untuk wilayah Jalan Ade Irma Suryani.

Julukan-julukan tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari memori sosial warga Kota Malang yang terbentuk secara turun-temurun, namun perlahan mulai tergerus seiring perubahan zaman.

"Nah, hal-hal seperti itu yang ingin kami coba angkat dalam rubrikasi. Paling tidak menggali memori warga Kota Malang yang sekarang sudah bertebaran di mana-mana, sehingga muncul rasa nostalgia dan keterikatan emosional dengan kotanya," katanya.

Lebih lanjut, rubrik Menolak Lupa juga diarahkan untuk menggali kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat. Sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda tentang sisi lain Kota Malang yang jarang dibahas.

Ditegaskannya, materi rubrik tidak semata membahas nama jalan resmi, melainkan juga penamaan wilayah berbasis pedukuhan atau sebutan lokal yang tumbuh dari keseharian masyarakat.

"Ini lebih pada kearifan lokal. Jadi daerah-daerah yang bukan nama jalan tapi nama kaya pedukuhannya. Itu yang mencoba dihidupkan sebagai bahan pembelajaran," pungkasnya. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.