12 January 2026

Get In Touch

Tidak Hanya di Grobogan, 261 Siswa di Mojokerto Diduga Keracunan MBG

Petugas merawat para siswa di Mojokerto yang diduga keracunan usai menyantap MBG, Sabtu (10/1/2026). (foto:ist/suarasurabaya.net)
Petugas merawat para siswa di Mojokerto yang diduga keracunan usai menyantap MBG, Sabtu (10/1/2026). (foto:ist/suarasurabaya.net)

MOJOKERTO (Lentera) - Tidak hanya di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ternyata kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menimpa 261 siswa jenjang PAUD hingga SMA asal Kabupaten Mojokerto dan kini dirawat di delapan rumah sakit dan tiga puskesmas.

“Murid yang dirawat di rumah sakit dan puskesmas ada 112, sedangkan yang di posko ada 9 murid,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini saat dihubungi suarasurabaya.net dan dikutip, Minggu (11/1/2026).

Dyan menyebut, berdasarkan data posko kesehatan, jumlah murid yang mengalami gejala keracunan diduga karena MBG ada sebanyak 261 orang, 121 di antaranya masih mendapat perawatan.

“Yang saya sampaikan ini adalah data yang masuk ke kami dan tertangani. Bisa jadi ada korban lain yang tidak tercatat karena melakukan penanganan secara mandiri,” ujarnya.

Dinkes menyebut, korban berasal dari tujuh lembaga pendidikan. Salah satu lembaga dengan jumlah korban terbanyak adalah Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Kabupaten Mojokerto. Namun, hingga kini Dinkes belum merinci jumlah pasti korban dari masing-masing sekolah.

Terkait gejala, ia mengatakan bahwa seluruh korban menunjukkan keluhan yang relatif sama, yakni mual, muntah, diare, demam, pusing, yang mengarah pada indikasi keracunan usai menyantap MBG yang diberikan, pada Jumat (9/1/2026).

Hingga saat ini, Dinkes Kabupaten Mojokerto masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Makanan yang terakhir dikonsumsi para korban diketahui berupa soto, telur, dan ayam berbumbu kuning.

“Kami masih mencari penyebab pastinya. Bisa dari makanannya, bisa juga dari proses penyajian, pengiriman, atau waktu konsumsi yang terlalu lama sehingga memungkinkan munculnya bakteri,” tuturnya.

Sembari menunggu hasil uji laboratorium keluar, Dinkes Kabupaten Mojokerto menyatakan ke dapan harus ada perbaikan di berbagai sektor, sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi.

Sebelumnya, Komandan Kodim 0815/Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo menyampaikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga terkait kasus tersebut, juga akan dihentikan sementara.

“Untuk yang ini kami setop dulu ya. Kami evaluasi. Kami lihat dulu. Ini kan kami sedang melakukan investigasi,” katanya kepada media, Sabtu (10/1/2026).

Penyelidikan itu mengarah pada SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, sebagai penyedia menu MBG.

SPPG tersebut menyalurkan 2.679 porsi MBG ke 20 sekolah pada, Jumat siang. Dari hasil pendataan, 7 sekolah dan 1 pondok pesantren melaporkan kejadian keracunan.

Terkait kemungkinan sanksi, Letkol Abi menegaskan akan ada tindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian atau pidana.

“Sanksinya nanti kami lihat. Tentunya kalau memang ada unsur kelalaian, kami sesuaikan. Kalau ada unsur pidana, otomatis harus kami proses dengan tegas sampai ke ranah pidana,” ujarnya.

Untuk memastikan penyebab keracunan itu, pihak Dinkes juga sudah mengambil sampel makanan.  Sedangkan hasil uji laboratorium belum bisa diumumkan dalam waktu dekat, bisa diketahui paling cepat, Rabu (14/1/2026). 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Mojokerto, Rosidian Prasetyo menegaskan hingga kini pihaknya belum bisa menyimpulkan, penyebab pasti kejadian tersebut.

“Untuk indikasinya sampai saat ini kami masih belum tahu jelas, belum bisa menyimpulkan. Karena penyajiannya itu, Jumat (9/1/2026). Sedangkan kejadiannya itu, Sabtu (10/1/2026) sekitar jam sembilan pagi. Bahkan ada yang mulai Jumat malam,” katanya.

Dia menambahkan, jarak waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala, membuat penyebab keracunan juga belum bisa dipastikan.

“Dari jarak waktu itu kita tidak bisa menyimpulkan apakah itu murni dari makanan MBG atau ada tambahan makanan lain. Karena mohon izin, makanan itu kan maksimal dikonsumsi siang hari. Sore sampai malam kan anak-anak masih makan di rumah atau di pondok masing-masing,” ucapnya.

Rosidian menyebut, pihaknya telah melakukan pengecekan awal ke dapur SPBG, pada Sabtu (9/1/2026) siang. Investigasi juga dilakukan pihak kepolisian, hasilnya menurut pengecekan pelaksanaan sudah dilakukan sesuai SOP dan juknis yang ditentukan BGN.

“Relawan juga melaksanakan SOP-nya dengan baik,” katanya.

Meski demikian, evaluasi menyeluruh tetap akan dilakukan. Kata Rosidian, pihaknya akan menunggu lebih dulu hasil lab dari dinkes dan kepolisian.

Kejadian serupa pada hari yang sama, juga menimpa 658 siswa PAUD hingga SMK di Kabupaten Grobogan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat 658 siswa terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi sejak, Jumat (9/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026) di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Gubug.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.