12 January 2026

Get In Touch

Sebanyak 658 Siswa PAUD Hingga SMK Diduga Keracunan MBG di Grobogan

Polisi memasang garis polisi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menyusul dugaan keracunan massal. (foto:ist/Ant/HO-Humas Polres Grobogan)
Polisi memasang garis polisi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menyusul dugaan keracunan massal. (foto:ist/Ant/HO-Humas Polres Grobogan)

GROBOGAN (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat 658 siswa terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi sejak, Jumat (9/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026) di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Gubug.

Kepala Dinkes Kabupaten Grobogan, Djatmiko mengatakan korban tersebar di berbagai lokasi, mulai dari SMP, SMK, dan SD negeri di wilayah Ngroto, hingga PAUD Ngroto, SD Glapan, SD Trisari, serta SD Penadaran.

"Total korban sementara ada 658 siswa, dengan lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, Trisari. Dari jumlah tersebut sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan," ujarnya di Grobogan mengutip Antara, Minggu (11/1/2026).

Ratusan korban tersebut merupakan siswa SD hingga santri pondok pesantren di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tenga, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan, pada Jumat (9/1/2026).

MBG tersebut diketahui disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.

Hingga Minggu (11/1/2026) pagi, tercatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, dengan rincian 11 orang dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, 39 orang dirawat di RS Ki Ageng Getas Pendowo (Gubug), 11 orang di RS Soedjati, sembilan orang di UPTD Puskesmas Penawangan 1, tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, serta dua orang di Puskesmas Gubug 1.

"Jumlah ini bersifat dinamis. Ada pasien yang kondisinya membaik dan dipulangkan, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam," kata Djatmiko.

Djatmiko mengungkapkan, gejala yang paling banyak dialami para korban adalah mual dan muntah. Dugaan sementara, keluhan tersebut muncul setelah korban mengonsumsi makanan MBG, pada Jumat (9/1/2026) siang berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Gejala mulai dirasakan, sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi.

Sejak Sabtu (10/1/2026) pagi, tim Dinkes bersama puskesmas setempat turun ke lapangan untuk melakukan pengobatan, pendataan, serta pemilahan pasien, baik yang cukup menjalani rawat jalan maupun yang memerlukan rujukan ke rumah sakit.

"Kami melibatkan beberapa puskesmas terdekat agar penanganan lebih cepat. Pasien yang tidak memerlukan rawat inap ditangani di lokasi, sementara yang membutuhkan perawatan lanjutan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan," ujarnya.

Selain penanganan medis, Dinkes Grobogan juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta pengambilan sampel makanan yang akan diperiksa di laboratorium kesehatan pada Senin (12/1) untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Djatmiko menegaskan, pihaknya mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya SPPG, agar mematuhi Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), termasuk ketepatan waktu distribusi makanan.

"Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," tegasnya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.