12 January 2026

Get In Touch

Piala KONI Surabaya 2025, Ajang Penjaringan Atlet Ju-jitsu Junior hingga Senior

Kejuaraan Ju-jitsu Piala KONI Kota Surabaya 2025.
Kejuaraan Ju-jitsu Piala KONI Kota Surabaya 2025.

SURABAYA (Lentera)– Upaya kebangkitan prestasi ju-jitsu Kota Surabaya mulai menunjukkan arah melalui Kejuaraan Piala KONI Kota Surabaya 2025, yang digelar dua hari, Sabtu–Minggu (20–21 Desember 2025) di Graha Hasta Brata Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Ajang ini menjadi arena pembuktian sekaligus penjaringan atlet potensial, dari level junior hingga senior.

Kejuaraan yang diinisiasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Surabaya bersama Pengurus Besar Ju-jitsu Indonesia (PBJI) Kota Surabaya tersebut diikuti sekitar 560 atlet dari berbagai perguruan, dengan mempertandingkan dua kategori utama, yakni fighting dan newaza.

Ajang ini dinilai sebagai momentum penting pembenahan prestasi ju-jitsu Surabaya, sekaligus bagian dari persiapan jangka panjang menuju Porprov Jawa Timur 2027, di mana Surabaya akan menjadi salah satu tuan rumah.

Ketua PBJI Provinsi Jawa Timur, Eko Wahyu Surcahyo menyebut Piala KONI Surabaya 2025 sebagai terobosan baru yang lahir dari respons progresif KONI, dalam mengisi agenda olahraga akhir tahun secara positif.

“Surabaya membuat gebrakan baru. Piala KONI ini merupakan respons dan gerakan revolusioner dari Ketua Umum KONI Kota Surabaya, agar di akhir tahun ada kegiatan yang arahnya positif. Ini sejalan dengan agenda penjaringan bibit atlet dari junior hingga senior,” kata Eko, Sabtu (20/12/2025).

PBJI Jawa Timur, lanjut Eko, memberikan dukungan penuh dan rekomendasi agar kejuaraan ini dapat berjalan lancar serta berkelanjutan.

“Kami dari Jawa Timur sangat mengapresiasi dan mendukung penuh. Ini langkah penting untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi ke depan,” tuturnya.

Eko juga menyinggung, evaluasi prestasi Surabaya yang dinilai belum optimal pada beberapa kejuaraan sebelumnya, meski memiliki potensi atlet yang besar.

“Surabaya ini gudangnya atlet. Tapi kenapa prestasinya kemarin kurang maksimal? Ini perlu dievaluasi, apakah sistem kepengurusannya, rekrutmennya, atau minimnya ruang bertanding. Dengan event seperti ini, saya yakin Surabaya bisa bangkit,” katanya.

Ia menambahkan, PBJI Jawa Timur menargetkan atlet-atlet unggulan dari ajang ini untuk dibina melalui Pusat Latihan Daerah (Puslatda) sebagai persiapan menuju PON Beladiri, hingga harapan jangka panjang menembus PON Olimpik 2028.

“Kami ingin memberi kesempatan seluas-luasnya kepada atlet untuk bertanding. Prestasi lahir dari jam terbang. Tanpa sering bertanding, atlet akan minim pengalaman,” tambahnya.

Dalam kejuaraan ini, PBJI mengusulkan hingga 13 kelas pertandingan, dengan target ke depan dapat berkembang menjadi 20 kelas medali, agar seluruh potensi atlet terserap dan tidak berpindah ke daerah lain.

Sementara itu, Ketua Panitia Kejuaraan sekaligus Ketua PBJI Kota Surabaya, Tjahja HW menegaskan Piala KONI Surabaya 2025 merupakan langkah awal pembenahan serius prestasi ju-jitsu di Kota Pahlawan.

“Kami ingin berbenah. Dari sini kami menjaring bibit atlet lalu membinanya secara berkelanjutan. Jawa Timur sudah juara umum PON Beladiri dan punya atlet sampai SEA Games, sementara kontribusi Surabaya ke Puslatda masih minim,” ujarnya.

Dari sekitar 560 atlet yang bertanding, hari pertama difokuskan pada nomor fighting, sementara hari kedua mempertandingkan newaza dengan sekitar 86 atlet.

“Secara kuantitas ini luar biasa. Tinggal bagaimana ke depan penanganannya kita sempurnakan agar kualitasnya juga meningkat,” tegas Tjahja.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Wanhat PBJI Surabaya sekaligus Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko menilai kejuaraan ini sebagai momentum penting pemersatu perguruan ju-jitsu Surabaya menjelang Porprov 2027.

“Ini bukan event satu perguruan, tapi multi perguruan. Momentum yang sangat bagus agar semua perguruan ju-jitsu di Surabaya bersatu. Karena ke depan kita punya gawe besar, Porprov Jawa Timur 2027,” ucap Yona.

Ia menegaskan, komitmen DPRD dan Pemerintah Kota Surabaya untuk terus mendorong pembinaan ju-jitsu sebagai salah satu cabang olahraga andalan.

“Kami mendorong penuh event-event seperti ini, termasuk Dispora Cup Januari nanti. Ini pemanasan menuju 2027. Goal-nya Surabaya harus bisa,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yona juga memberikan dukungan dana Rp10 juta untuk pelatih dan Rp10 juta untuk atlet juara sebagai bentuk motivasi.

“Menang kalah itu biasa. Musuh paling berat adalah diri sendiri. Kalau bisa mengalahkan diri sendiri, insya Allah kalian juara sejati,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.