07 April 2025

Get In Touch

Ini Keunggulan Nutrisi Minyak Makan Merah

Ilustrasi minyak makan merah (M3)
Ilustrasi minyak makan merah (M3)

SURABAYA (Lenteratoday) - Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair) Lailatul Muniroh SKM M Kes membeberkan kandungan gizi pada Minyak Makan Merah (M3) yang dirilis Presiden Joko Widodo saat meresmikan pabrik percontohan M3 Pagar Merbau di Deli Serdang, Sumatra Utara, belum lama ini. 

Peresmian pabrik minyak makan merah pertama di Indonesia ini dilakukan dalam upaya memperkaya wacana kesehatan dan gizi nasional. Selain itu, hal ini juga menandai langkah maju dalam industri kelapa sawit nasional dan pemberdayaan petani sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit.

Lailatul Muniroh mengatakan M3 memiliki beberapa kandungan bioaktif (fitonutrien) yang lebih unggul daripada minyak konvensional. Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tahun 2022 menunjukkan bahwa M3 mengandung konsentrasi Karoten sebesar 753 ppm, Vitamin E sebesar 1016 ppm, dan Squalene sebesar 348 ppm, yang mana kandungan ini lebih tinggi dibandingkan dengan minyak lainnya.

Ia menjelaskan bahwa Karoten yang berfungsi sebagai pro vitamin A dan antioksidan, memiliki peran vital dalam meningkatkan sistem imun serta kesehatan mata dan kulit. 

"Kalau Vitamin E sebagai antioksidan, berkontribusi pada kesehatan jantung dan mendukung fungsi kekebalan tubuh. Sementara Squalene, dikenal dengan manfaat antioksidan dan antiinflamasi, berperan penting dalam kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Jadi M3 tidak hanya menjadi pilihan minyak goreng yang lebih sehat saat memasak. Melainkan, juga berpotensi sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan," jelasnya, Selasa (19/03/2024).

Dengan kandungan tersebut, Ia menyarankan agar masyarakat memaksimalkan manfaat M3, termasuk penggunaannya dalam menggoreng, menumis, memanggang hingga sebagai salad dressing. Menurutnya, M3 berpotensi dimanfaatkan oleh industri pangan dan farmasi dalam memperkaya vitamin A dan pro vitamin A, dengan mengemasnya dalam bentuk enkapsulan sebagai suplemen atau multivitamin.

Ia juga menuturkan, jika M3 berpotensi dalam mendukung perkembangan otak anak karena mengandung asam oleat dan asam linoleat, yaitu kelompok asam lemak omega-9 dan omega-6 yang penting untuk perkembangan otak anak.

“Asam oleat berperan dalam pembentukan membran sel otak, sementara asam linoleat merupakan komponen utama dalam pembentukan membran tersebut dan juga prekursor asam arakidonat, yang terlibat dalam transmisi sinyal seluler di otak. Kedua asam lemak ini menyediakan bahan bakar untuk pembentukan membran sel otak dan mendukung fungsi sel normal otak,” tuturnya.

Meski demikian, Lailatul mengungkapkan proses produksi M3 yang tidak melalui bleaching, membawa dampak positif dan negatif. Ia menilai proses ini mempertahankan kandungan beta karoten, vitamin E, squalene, dan senyawa bioaktif lainnya dengan kadar yang relatif tinggi.

“Ini berarti pengembangan M3 tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dan pangan fungsional tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor vitamin A dan E sintetis, yang berkontribusi pada penghematan devisa dan perbaikan neraca perdagangan negara,” ungkapnya.
 
Di samping itu, produk M3 yang tidak melalui proses bleaching mungkin mengandung kontaminan yang lebih tinggi, sehingga dapat mempengaruhi kualitas dan keamanan produk akhir. 

"M3 juga lebih rentan terhadap oksidasi, yang dapat memperpendek umur simpannya. Sehingga, hal ini menjadi sebuah tantangan bagi industri pangan yang membutuhkan konsistensi produk," tukasnya.(*)

Reporter: Amanah Nur Asiah | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.