05 April 2025

Get In Touch

Saudi Penyandang Status 'Pelayan Dua Tanah Suci'

Situasi di sekitar Kabah, di dalam Masjidil Haram, Arab Saudi, kosong dari para jemaah saat diberlakukan sterilisasi (AFP)
Situasi di sekitar Kabah, di dalam Masjidil Haram, Arab Saudi, kosong dari para jemaah saat diberlakukan sterilisasi (AFP)

SURABAYA (Lenteratoday) -Arab Saudi tampak seperti terus melakukan kalkulasi dan negosiasi tentang risiko politik dan ekonomi. Itu dilakukan di saat sebenarnya sudah habis waktunya mengorganisasi persiapan logistik untuk kegiatan yang merupakan salah satu acara paling masif di dunia.

Pada musim haji tahun 2019, sekitar 2,5 juta jemaah haji mancanegara melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan Medinah. Tahun 2020 Saudi tetap menyelenggarakan ibarah haji. Pelaksanaan ibadah haji hanya diikuti oleh ekspatriat yang telah bermukim di Arab Saudi dengan jumlah yang sangat terbatas.

Pembatasan jumlah jemaah dilakukan untuk menjamin keamanan dan keselamatan dengan menerapkan semua langkah pencegahan penyebaran virus corona demi melindungi setiap orang dari risiko terjangkitnya Covid-19.

Mengutip Worldometers, hingga 23 Juni 2020, waktu itu tercatat 161.005 kasus positif Covid-19 di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 105.175 kasus telah dinyatakan sembuh dan 1.307 kasus dinyatakan meninggal dunia.

Pemerintah Indonesia sendiri diketahui telah membatalkan pengiriman calon jemaah haji asal Indonesia pada tahun ini karena alasan keamanan dan kenyamanan lantaran masih tingginya kasus penyebaran Covid-19.

Berdasarkan kuota, seharusnya ada 221.000 calon jemaah haji asal Indonesia yang berangkat, terdiri atas 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus.

Ibadah haji merupakan kekuatan dan pengaruh Arab Saudi di dunia Islam. Dari tahun ke tahun mendatangkan devisa yang luar biasa. Kantor berita AP menyebutkan, ibadah haji tidak hanya menjadi daya ungkit pengaruh Arab Saudi di dunia Islam, tetapi juga menyetor devisa sekitar 6 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 84,6 triliun per tahun.

Ibadah haji menjadi semakin sangat strategis bagi Arab Saudi saat perekonomian negara itu amat terpukul akibat Covid-19 dan jatuhnya harga minyak saat ini.

Menurut hasil riset Jadwa Investment, pemasukan Arab Saudi dari minyak pada 2020 ini diperkirakan hanya 133 miliar dollar AS, turun 34 persen dari tahun lalu dan turun 58 persen dari tahun 2013.

Kas negara Arab Saudi terpangkas akibat dampak dari Covid-19. Arab Saudi juga mengumumkan memberikan paket stimulus ekonomi 32 miliar dollar AS, di antaranya 2,4 miliar dollar AS untuk membayar 60 persen gaji warga Arab Saudi di sektor swasta.

Namun, banyak negara telah putus harapan dengan mengumumkan pembatasan ibadah haji ke Mekkah dengan alasan tidak cukup waktu persiapan pemberangkatan bagi jemaah haji. Indonesia, dan beberapa negara termasuk kelompok ini.

Beberapa negara lagi, mengimbau umat Islamnya menunda keberangkatan ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini.

Pelayan dua Tanah Suci

Apa pun keputusan Arab Saudi terkait ibadah haji, baik digelar secara terbatas maupun ditiadakan sama sekali, berpotensi mengundang kemarahan umat Islam garis keras yang berpandangan bahwa masalah agama harus di atas urusan kesehatan. Dengan kata lain, isu Covid-19 tidak dapat membatalkan ibadah haji.

Namun, polemik isu haji yang marak terakhir ini bisa dijadikan momentum oleh Arab Saudi, yang menyandang status sebagai ”Pelayan Dua Tanah Suci”, untuk  terus meningkatkan kemampuan manajemen dan pengawasan pelaksanaan ibadah haji.

Setiap musim haji, selalu ada korban dari berbagai musibah. Dua tahun berturut-turut (2018-2019) badai hujan angin mengamuk di Padang Arofah. Saat puncak musim haji: wukuf.

Paling diingat adalah peristiwa tewasnya 2.300 anggota jemaah haji pada musim haji 2015. Peristiwa berdarah itu  memicu banyak kritik atas kemampuan manajemen Arab Saudi dalam pelaksanaan ibadah haji.

”Arab Saudi kini berada di antara iblis dan laut biru yang dalam,” ujar Umar Karim, peneliti tamu di The Royal United Service Institute, London.

”Apapun keputusan terkait haji itu bisa dipahami betapa berat dampak politiknya bagi Arab Saudi. Baik digelar secara terbatas maupun peniadaan ibadah haji sama sekali,” tuturnya seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Karim menyebut, Arab Saudi sekarang seperti membeli waktu karena memang harus hati-hati dalam mengambil keputusan soal haji.

Bisa saja di saat-saat terakhir nanti Arab Saudi mengumumkan siap menggelar ibadah haji secara penuh. Namun, banyak negara sudah ancang-ancang tidak bisa berpartisipasi dalam haji tahun ini. (Arifin BH, Pemimpin Redaksi Lenteratoday -berbagai sumber).

Di tengah Menunggu Kepastian Pemerintah Terkait Haji 2021

Dirjen Haji dan Umrah Lakukan Kesiapan Sambil Tunggu Kepastian

Jelang Penetapan Haji 2021, Luhut dan Yenny Wahid Temui Dubes Arab Saudi

Pemerintah Pastikan Ibadah Haji 2021 Ditiadakan

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.