04 April 2025

Get In Touch

Mengunjungi Al Aqsa di Palestina Selalu Ada Kejutan

Hebron, warga Palestina berada di balik tembok pembatas. Keluar masuk harus menggunakan izin khusus (Dok-ABH)
Hebron, warga Palestina berada di balik tembok pembatas. Keluar masuk harus menggunakan izin khusus (Dok-ABH)

SELASA, 6 Maret 2018. Hari kedua berada di Palestina –Bumi Para Nabi. Di tengah perjalanan sekembalinya dari Hebron bis disetop tentara Israel. Kendaraan berhenti. Dua orang bersenjata -satu pria dan satu lagi perempuan, masuk ke dalam bis.

Pasukan keamanan Israel itu memeriksa rombongan kami. Mereka minta agar kami mengeluarkan paspor. Tentara pria berjalan pelan menuju ke belakang, sedangkan yang perempuan bersiaga di samping pengemudi bis.

Persis berada di damping saya, moncong senjata laras panjang milik tentara pria menyenggol pundak kiri. Dia berbalik arah. Lalu menepuk pundak kiri saya sambil berkata, “Sorry, well okay.”

Sungguh mati, tadi pas menyentuh pundak saya sama sekali tak pernah berharap senjatanya bakal meletus. Alhamdulillah.

Mengunjungi Al Aqsa di Jerusalem -Palestina, menjadi dambaan setiap orang. Jerusalem konon disebut kota Tiga Tanah Suci Tiga Agama Samawi. Milik umat Islam, Yahudi, dan Kristen Ortodok.

Umat Islam dengan Masjidil Aqsa seluas 144.000 meter persegi di dalamnya terdapat beberapa masjid (dua terbesar adalah Dome of The Rock dan Masjid Kibly).

Kaum Kristiani mempunyai Gereja Kimayah yang diyakini sebagai tempat Yesus disalib. Sedangkan umat Yahudi mempunyai tempat ibadah berupa Tembok Ratapan.

Pintu masuk menuju wilayah Palestina bisa melalui Mesir atau lewat Jordania, semuanya ditempuh lewat jalur darat. Tetapi harus diingat pergi ke sana bukan persoalan mudah. Otoritas kekuasaan 100 persen berada di tangan Israel.

Visa kedatangan gampang-gampang susah. Bahkan bisa keluar beberapa jam sebelum rombongan tiba memasuki wilayah Palestina. Tidak sedikit rombongan ditolak masuk oleh pihak Israel meskipun mereka sudah berada di ambang perbatasan.

Banyak kejutan saya alami saat mereka bergerak dari Mesir ke tujuan utama Al Aqsa di Palestina.

Pagi hari pukul 08.00 waktu setempat (Senin, 4/3/2018) jamaah Manaya Indonesia berjumlah 24 orang sudah menginjak tapal batas wilayah yang menyerupai bibir seorang gadis cantik. Berputar melingkar, meliuk tipis-tipis.

Rombongan berjalan kaki dari Hilton International Hotel menuju Taba Border. Wilayah perbatasan ini sangat indah. Berada di tepian pantai, Red Sea -Bahrul Ahmar (Laut Merah).

Antara serius dan tidak para penjaga di perbatasan Mesir sempat melempar senyum. Posisi kami berada di belakang rombongan Philipina yang juga punya maksud sama, akan memasuki wilayah Palestina.

Petugas imigrasi sangat cermat mengamati setiap orang. Lewat Gate 1 seperti tidak ada masalah. Dari bilik kaca seorang pria berbaju putih memanggil Mukharam Khadafi –direktur travel umrah dan haji ManayaIndonesia..

Dalam bahasa Inggris dia meminta setiap orang agar mengangkat paspornya sambil berjalan memasuki rintangan sebuah pintu dorong otomatis. Batin saya dalam hati, “Ah, gampang amat cuma angkat paspor”.

Masuk Gate 2 mulai ketat. Petugas imigrasi Israel tidak hanya menggunakan mesin pemindai otomatis, tapi juga mengamati kami satu demi satu secara manual. Cara kerja pengamatan manual itu begini; ketika akan masuk X’ray ada satu orang imigrasi Israel melihat dan mengamati paspor seseorang.

Entah ilmu macam apa yang dimiliki petugas ini, karena hanya membandingkan antara foto paspor imigrasi dengan wajah asli secara kasat mata dia bisa “menghentikan” langkah si pemilik paspor.

Paspor ditahan lalu pemilik paspor diberi secarik kertas warna merah atau putih. Saya tidak mengerti apa maksud dari kedua warna tersebut.

Ziarah ke Makam Nabi Ibrahim lewat pintu putar. Selain dikelilingi kawat berduri di atas ada pasukan khusus -sniper (Dok-ABH)

Saya melirik ada empat personal dari grup ManayaIndonesia yang mengalami masalah di Gate 2. Diantaranya, adalah Mukharam Khadafi dan Ustaz H. Ahmad Muzakky Al Hafidz –Imam Masjid Al Akbar Surabaya.

Selain ditahan paspornya –untuk sementara, mereka harus mengikuti aturan setempat, yakni diinterogasi oleh orang yang pertama melakukan pemindaian secara manual tadi.

Saya dinyatakan “clear” dari Gate 2. Berikutnya masuk X’ray Gate 3. Lolos pemeriksaan Gate 3 masih harus antre di loket terakhir untuk melayani wawancara dari petugas perempuan.

Tiga loket, semuanya berisi petugas perempuan tanpa sedikit pun senyum. Sambil mencocokkan foto paspor, mereka bertanya; berapa lama rencana tinggal di Palestina, bersama siapa perginya, siapa nama bapak kandung, ibu kandung dan ditanyakan pula nama kakek….

Saya punya pendapat, justru dengan pemindai manual ini pengamanan Israel patut diacungi jempol. Israel nyaris luput dari usaha pengeboman atau serangan senjata langsung seperti kejadian di negara lain. Israel bertarung di kawasan konflik seperti di jalur Gaza, Tepi Barat atau di area pemukiman Jerusalem lainnya.

Israel mengalami perlawanan sengit dari dalam, sedangkan dari luar pengamanan Israel sangat ketat. Zionis Israel dikutuk dari segala penjuru dunia. Tapi fakta di lapangan memperlihatkan bahwa Israel memegang kendali otoritas politik.

Mengunjungi Al Aqsa di Jerusalem -Palestina, menjadi dambaan setiap orang. Jerusalem konon disebut kota Tiga Tanah Suci Tiga Agama Samawi. Milik umat Islam, Yahudi, dan Kristen Ortodok.

Umat Islam dengan Masjidil Aqsa seluas 144.000 meter persegi di dalamnya terdapat beberapa masjid (dua terbesar adalah Dome of The Rock dan Masjid Kibly). Kaum Kristiani mempunyai Gereja Kimayah yang diyakini sebagai tempat Yesus disalib. Sedangkan umat Yahudi mempunyai tempat ibadah berupa Tembok Ratapan.

Pintu masuk menuju wilayah Palestina bisa melalui Mesir atau lewat Jordania, semuanya ditempuh lewat jalur darat. Tetapi harus diingat pergi ke sana bukan persoalan mudah. Otoritas kekuasaan 100 persen berada di tangan Israel.

Berangkat dan pulang menuju Palestina –dari wilayah Mesir, pengamanan sangat ketat. Jalanan lebar, mulus dan menyerupai jalan tol. Sebentar-sebentar bis harus berhenti, atau setidaknya jalan pelan-pelan. Barikade kawat berduri disertai pasukan bersenjata di kanan-kiri.

Jika pada waktu berangkat dari Taba kami melakukan perjalanan pagi hari menghabiskan waktu 12 jam lamanya disertai berhenti di beberapa tempat makam para nabi. Pulangnya dari Palestina langsung menuju Mesir memakan waktu hampir 16 jam. Perjalanan balik dilakukan melalui rute sedikit berputar karena berjalan pada malam hari.

Selama berada di Mesir dan Palestina Manaya Indonesia bekerjasama dengan travel MISR milik BUMN Mesir sehingga relatif aman. Petugas pengamanan travel cukup melambaikan tangan dari dalam bis ketika berada di cek poin.

Sekali tempo mereka turun dari bis jika ada sesuatu yang dinilai kurang layak. Dari Kairo sampai perbatasan Taba yang berjarak 500 kilometer tercatat ada 19 cek poin.

Selama tiga hari dua malam berada di bumi Palestina terasa melelahkan tetapi juga –sekaligus, menyenangkan. Selalu ada kejutan menuju Palestina. Dengan kalimat lain: Segala sesuatu bisa saja terjadi (Catatan Arifin BH, Pepimpin Redaksi Lenteratoday).

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.