05 April 2025

Get In Touch

Kecelakaan Finansial

Sejumlah mobil rusak dengan kondisi ringsek aibat kecelakaan (Ist)
Sejumlah mobil rusak dengan kondisi ringsek aibat kecelakaan (Ist)

Belasan mobil baru milik para miliarder dadakan di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengalami kecelakaan. Mendapat kabar itu, saya sama sekali tidak gusar. Saya malah tersenyum.

Kenapa? Karena mereka memborong mobil-mobil tersebut dalam paket komplit. Mereka bayar kontan lengkap dengan asuransinya. Bukankah asuransi sebagai instrumen penghilang kerisauan. Pelindung nilai (hedging) dari mobil yang mereka tabrak-tabrakkan.

Dan, pihak bengkel yang ditunjuk perusahaan asuransi pun dengan sukarela menjemput, memperbaiki dan mengantar kembali mobil-mobil ke rumah para miliarder.

Bisa jadi. Yang akan tersenyum kecut mendengar kabar ini, malah Bahlil Lahadalia -kepala BKPM.

Mantan Ketum HIPMI ini punya pengalaman. Dia turun langsung ke desa yang kini populer dijuluki kampung miliarder. Saat itu proses pembebasan lahan sangat alot, bahkan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) amanat pemerintah ke Pertamina ini sempat mangkrak empat tahun.

Di depan forum Rakernas HIPMI, pekan lalu, Bahlil bercerita, ia sempat menyamar di desa tersebut. Mengendarai mobil Avansa, tanpa protokol, bahkan sampai menginap dua malam di mobil.

Dia lakukan itu untuk meruntuhkan hati para pemilik lahan. Sebab nilai investasi proyek kilang Tuban itu lumayan besar, Rp211,9 triliun. Akhirnya dicapai kata sepakat kompensasi lahan seluas 841 hektare. Harga appraisalnya Rp600 ribu-Rp800 ribu/meter.

"(Pembebasan) itu menghabiskan ratusan miliar. Orang desa itu tiba-tiba menjadi, Kita nggak tahu ada yang bisa bawa mobil atau tidak. Pokoknya beli mobil," imbuhnya.

Penyebab kecelakaan mobil baru milik para miliarder akhirnya terungkap. Rata-rata mereka belum bisa nyetir. Hal itu diakui Wantono dan Matrawi, dua miliarder Sumurgeneng ini.

Wantono hanya punya pengalaman mengemudikan traktor. Dalam benaknya, belajar sebentar ia yakin bisa mengemudikan mobil barunya. Matrawi pun punya anggapan serupa. Membajak sawah dengan traktor lebih sulit ketimbang mengemudikan mobil di jalan desa.

Selengkapnya di halaman selanjutnya..

Begitulah fakta unik mewarnai kehebohan aksi borong 176 mobil para miliarder baru di Sumurgeneng usai mendapat ganti untung lahan kilang minyak new grass root refinery (NGRR), konsorsium Pertamina dan perusahaan minyak/gas asal Rusia, Rosneft.

Mereka seolah enggan membeli mobil murah. Demi mengangkat gengsi keluarga, pilihan jatuh ke: Fortuner, Pajero, HRV, Innova atau setara itu yang harganya di atas Rp300juta.

Mereka juga berlomba membangun dan merenovasi rumahnya, seperti orang kaya di perumahan elit. Tak lupa memborong lahan sawah di tempat lain sebagai lahan pengganti sawahnya yang dibebaskan untuk kilang minyak.

Yang tak tampak di permukaan, bagaimana para istri miliarder itu tersulut hasratnya memborong aneka perhiasan emas. Harga emas kini lagi melorot tajam. Sebab bagi penduduk desa umumnya, mengoleksi perhiasan emas (bukan emas batangan) selain diniatkan sebagai gaya hidup, juga disikapi sebagai sebuah instrumen investasi.

Kelak mereka akan menjualnya kembali ketika harga logam mulia ini tengah membubung tinggi. Atau setidaknya mereka bisa menjual cepat perhiasannya di saat ada keperluan mendadak yang sangat memerlukan uang tunai. Kebiasaan demikian masih menggejala di alam pikiran kolektif masyarakat pedesaan.

Euforia seperti itu dapatlah dimaklumi. Manusiawi sekali. Beberapa di antara mereka mengekspresikan seolah kini saatnya "balas dendam".

Menyimak tayangan video di kanal YouTube KompasTV, Ali Sutrisno, miliarder lainnya, tak henti mengumbar senyum. Tampak bersuka-cita.

Ketika ditanya mengapa sampai membeli mobil sebanyak empat unit -Innova, Xpander, L300 dan HRV, Ali berkata jujur. Tidak merasa rikuh. Ia mengaku ingin benar-benar menikmati hidup. Mumpung ada duit miliaran. Karena dulu hidupnya terbilang susah.

"Sekarang uang banyak, ya dinikmati," tuturnya masih dalam ekspresi tersenyum lebar.

Tidaklah ada yang melarang mereka "balas dendam" di kala kini mengalami pembalikan nasib. Mengekspresikan suka-citanya dengan berlaku konsumtif. Melampiaskan hasrat membelanjakan uang sesukanya. Membeli barang-barang mewah, dan juga terpicu bereprilaku gaya hidup mewah, yang sebelumnya takkan pernah bisa mereka alami meski bekerja keras puluhan tahun.

Selengkapnya di halaman selanjutnya..

Tetapi pastinya, perilaku boros ini akibat tiadanya kontrol diri dalam mengelola keuangan mereka. Ketika mendadak jadi miliarder tak punya bekal financial literacy. Fakta bahwa mereka menggenggam uang miliaran. Tetapi mereka "buta" tentang uang.

Presiden Direktur PT Pertamina Rosneft, Kadek Ambara Jaya segera tersadar. Ia melihat kenyataan memprihatinkan di Sumurgeneng. Kadek Ambara Jaya khilaf karena tidak mengedukasi dan mendampingi para warga sebelum menerima kompensasi pembebasan lahan dari perusahaannya.

Menurut Kadek, jika euforia para miliader itu tak segera disudahi maka suatu saat mereka bisa saja kembali jatuh miskin.

"Kalau itu terjadi, saya yang salah karena tidak mengawal dan mendampingi mereka,” ujarnya.

Perseroan segera menggandeng tim independen untuk meriset dan menganalisa dari sudut antropologis terhadap kondisi sosial ekonomi warga Sumurgeneng, juga Kaliuntu dan Wadung. Dari situ akan terbangun cetak biru CSR (corporate social responsibility) perusahaan berbasis kearifan lokal.

Perusahaan akan memberikan pembinaan hingga warga memiliki keterampilan yang baik. Warga para penggarap lahan juga akan diajak bergabung dalam pekerjaan padat karya.

Cuma itu kepedulian PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia? Tidakkah terpikirkan suatu format terobosan yang kreatif-inovatif, yang menyentuh persoalan lebih mendasar perihal pengelolaan keuangan mereka?

Sebab, jika cuma itu, ibarat menangani penyakit maka terapi yang dijanjikan Pertamina dipastikan hanya sekadar menghilangkan rasa nyeri. "Penyakit" sesungguhnya, yakni perilaku boros, konsumtif, bahkan hasrat memviralkan (pamer) kekayaan yang diidap para miliarder itu akan tetap menahun.

Padahal untuk menangani para miliarder yang sembrono dalam membelanjakan uangnya, tak ada "resep" lain kecuali diberi pemahaman literasi tentang uang. Mereka wajib melek finansial.

Demi melindungi duit gede milik warga di ketiga desa Jenu, Kabupaten Tuban, setidaknya ada empat aturan melek finansial sebagai berikut:

Selengkapnya di halaman selanjutnya..

1. Ketika mengantongi uang tetapi tidak tahu bagaimana cara mengelolanya, maka warga harus menahan diri untuk tidak memberitahu siapa pun.

2. Sebelum membelanjakan uangnya, harus dapat membedakan aset dan liabilitas (pengeluaran uang).

3. Jika uang dipakai sebagai modal usaha atau investasi, mesti dipertimbangkan mau "bermain" di pasar konvensional atau pasar yang "diciptakan" (proteksi 100 persen). Keduanya punya konsekuensi berbeda bergantung sistem controlling nya atas perilaku pasar.

4. Arus kas (cashflow) harus menjadi fokus utama ketimbang keuntungan modal. Tetapi jika keduanya bisa diraih bersamaan tentu bisnis/investasi mereka akan bertumbuh pesat.

Sayangnya, aturan melek finansial nomer 1 dan 2 sudah "ditabrak" oleh para miliarder desa itu. Alih-alih merahasiakan harta kekayaannya. Mereka justru sengaja memamerkannya ke ranah publik.

Status miliarder yang sudah terlanjur viral kini, tak berlebihan ibarat darah di lautan yang dipenuhi hiu. Bisa saja pihak keluarga sendiri, kerabat, tetangga, juga kolega, telah mengincar untuk turut menikmati ‘cipratan’ dari gelimang uang mereka.

Orang-orang terdekat mereka tak segan membujuk dengan kata-kata manis hingga provokasi kasar. Belum lagi para sales properti, produk asuransi dan investasi, serta umrah-haji berdatangan ke desa ini. Targetnya agar para miliarder mau membelanjakan uangnya untuk meraih simbol-simbol kemewahan. Semuanya demi merepresentasikan kekayaannya.

Pada gilirannya petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat dibuat sibuk berpatroli di wilayah desa para miliarder. Mengantisipasi tindak kejahatan yang mungkin bakal menyatroni harta mereka.

Celakanya lagi, mereka mengira mobil-mobil yang mereka borong, rumah yang dipercantik, lahan-lahan baru yang dikoleksi, hingga bisnis dan investasi yang dimodali dengan uang kompensasi dari Pertamina-Rosneft adalah aset. Padahal itu semua sejatinya liabilitas. Mereka tanpa sadar akan terus-menerus merogoh uang dari kantongnya dalam bentuk pajak kendaraan, bahan bakar, perawatan, juga premi asuransi untuk mobil-mobilnya.

Begitu halnya dengan rumah, dan lahan sawah. Mereka harus mengalokasikan dananya untuk membayar pajak bumi dan bangunan. Rumah-rumah yang direnovasi habis-habisan, mengganti mebelair dan isian rumah yang serba baru, juga perawatan ke depannya, bukankah itu menjadi liabilitas tersendiri.

Andai mereka punya bekal melek finansial, keputusan menempatkan duitnya di bank jelas bukan keputusan yang cerdas. Jasa bunganya terbilang kecil.

Lihatlah, nilai bunga bank yang kecil itu kelak akan rutin terpotong pajak penghasilan lagi. Juga akan rutin terpotong biaya admin bank, biaya aneka transaksi sesuai ketentuan masing-masing bank. Belum lagi menghadapi inflasi walau harga-harga sudah disubsidi. Tentu jasa bunga bank tadi menjadi tak berarti.

Dan, para miliarder Sumurgeneng yang mempercayakan penyimpanan dananya ke bank praktis kehilangan kendali atas hartanya. Sebaliknya pihak bank yang kemudian pegang kontrol nyaris 100 persen dana besar mereka. Lantas mengubahnya berkali lipat sebagai kucuran kredit kepada debitur lain dengan bunga tinggi. Begitulah sistem kerja perbankan.

Maka sesungguhnya Wantono, Matrawi, Ali Sutrisno dan miliarder lainnya tanpa sadar telah merelakan diri sebagai pecundang.

Agaknya serangkaian "lakon pecundang" memprihatinkan yang menyergap para miliarder Sumurgeneng ini tak dilirik orang. Termasuk peristiwa kecelakaan mobil-mobil baru mereka tempo hari. Mobil-mobil yang diborong ketika mereka belum bisa nyetir sendiri.Dan,yang terjadi selanjutnya mudah ditebak: Mereka menabrak apa saja bagai bermain bom-bom car.

Adakah benang merah antara kecelakaan berjamaah belasan mobil baru mereka dengan tiadanya financial literacy di sana? Biarlah Pertamina Rosneft, dan juga Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, yang memikirkan kecelakaan finansial ini.

Penulis: Assadurokhman -Pegiat Melek Finansial Komunitas Wong Sugih Waras

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.