04 April 2025

Get In Touch

'Amazing’ Jamur, Manfaat yang Tak Bisa Dilewatkan

'Amazing’ Jamur, Manfaat yang Tak Bisa Dilewatkan

Silvy Kartika R., S.Gz. (Mahasiswa Program Studi Profesi Dietisien Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang)

Jamur? pasti sudah tak asing bagi kita. Di Indonesia, beragam jenis jamur telah umum dikonsumsi dan dibudidayakan. Beberapa diantaranya adalah jamur merang, jamur tiram, jamur kuping dan jamur kancing.
Jika kita amati, bentuk jamur ternyat tak berdaun, tak berbiji dan tak berakar. Pun cara perkembangbiakannya tanpa cahaya yang mustahil bagi tumbuhan, apakah pernah terlintas dalam benak anda, siapakah jamur ini? sayur, buah atau yang lain?


Waktunya sekarang untuk pupuskan kegalauan! Kementrian Kesehatan telah memasukkan jamur dalam kelompok sayuran Golongan A. Karena kandungan zat gizinya yang identik dengan sayuran berkalori sangat rendah.
Sedangkan, Departemen Pertanian Amerika dan Komisi Sains Eropa, mengelompokkan jamur dari sisi botani sebagai Fungi dan sisi nutrisinya sebagai sayuran.


Mengapa demikian? Yah, karena jamur unik, perbedaan dan persamaan ditemukan antara jamur, tumbuhan dan hewan.
Jika tumbuhan berklorofil untuk membuat makanannya sendiri melalui fotosintesis dan hewan mempunyai fungsi menelan makanan, sedangkan jamur, tidak melakukan hal itu, tanpa klorofil dan tumbuh di bahan yang membusuk atau pada substrat dengan berbagai komposisi saat dibudidayakan.


Beberapa persamaannya, jamur mengandung zat kitin yang ditemukan di bagian luar hewan berbuku dan serangga. Terdapat selulosa yang tidak ditemukan pada tumbuhan dan ergosterol yaitu kolesterol yang tidak ditemukan dalam sel mamalia.


Sehingga, jamur merupakan padu padan antara tumbuhan dan hewan. Oleh karena keunikannya, para ilmuwan, mengelompokkannya sendiri dalam Fungi. Selanjutnya, mengapa ada jamur yang tak bisa dikonsumsi? Jawabannya adalah karena sifatnya pathogen atau merugikan, baik bagi tumbuhan, hewan maupun manusia.
Bagaimana dengan jamur liar yang biasa ditemukan dan dikonsumsi masyarakat? Berbahayakah?


Alice Henneman, seorang dietisien Amerika, merekomendasikan agar lebih waspada jika berniat mengonsumsi jamur tersebut. Sebab, sangat sulit membedakan jamur yang aman dan beracun. Jangan berharap memasak jamur beracun dapat membuatnya aman. Alih-alih merasakan kelezatannya, menghirup asap masakannya saja dapat menyebabkan keracunan!


Dengan berbagai keunikannya, keuntungan apa yang kita dapatkan? Banyak penelitian membuktikan kebermanfaatan jamur ditengah kehidupan kita, baik sebagai makanan maupun obat-obatan. Nutrisi kelompok makanan inti seperti produk daging dan biji-bijian dapat ditemukan dalam jamur.


Jamur, sumber serat yang baik. Beta glukan dengan senyawa bioaktifnya sebagai prebiotik, memiliki sifat antikanker, immunomodulator, antipenuaan, antialergi makanan, antikolitis, antiinflamasi dan antioksidan. Studi ekstensif membuktikan, prebiotik dapat meningkatkan kesehatan saluran cerna serta menurunkan kadar kolesterol total.


Protein jamur mengandung semua jenis asam amino esensial dan non esensial. Aktivitas fisiologisnya di saluran pencernaan berfungsi meningkatkan penyerapan nutrisi dan sistem kekebalan untuk melawan pathogen.
Asam lemak tak jenuhnya lebih dominan daripada asam lemak jenuh. Efek antikarsinogenik, menghambat pertumbuhan sel tumor, fungsi antioksidan serta pembentuk rasa jamur dapat dibuktikannya.


Jamur, sumber vitamin yang baik. Vitamin B12 dalam jamur mirip dengan daging sapi, hati dan ikan, dapat menjadi pilihan bagi vegetarian. Lagi-lagi ditemukan keunikannya! Jamur, satu-satunya makanan non hewani yang mengandung vitamin D. Beberapa penelitian menunjukkan fungsi vitamin D yang mampu mengurangi risiko ataupun jumlah sindrom metabolisme, hipertensi, obesitas, diabetes dan penyakit jantung.


Jamur kaya akan potassium, kalsium, fosfor dan magnesium. Sodium relatif lebih sedikit, merupakan alternatif sayuran yang tepat bagi penderita hipertensi. Selenium dan ergothioneine merupakan antioksidan alami, pelindung sel manusia dari kerusakan.
Bagaimana menurut Anda? Amazing Jamur, Satu Kehidupan dengan Sejuta Keuntungan. Tuhan benar-benar Maha Baik, patutlah kita tak henti bersyukur atas segala penciptaan-Nya.
Mungkinkah diantara Anda masih penasaran dengan andil jamur dalam mencegah bahkan membantu mengobati Covid-19?


Jika kembali melihat berbagai manfaat jamur dalam melindungi sel tubuh kita, hal tersebut menunjukkan begitu besar potensi jamur di masa pandemi ini.
Melansir berbagai informasi, corona virus menjadi sumber dari sindrom pernafasan akut berat (SARS). Para ahli menyatakan, belum tersedia pengobatan antivirus khusus untuk Covid-19. Perawatan yang dilakukan selama ini didasarkan pada munculnya tanda gejala yang dirasakan penderita. Perawatan dengan oksigen merupakan terapi paling umum digunakan pada keadaan yang ekstrim.
Baru-baru ini, sebuah penelitian menjelaskan jika penderita Covid-19 kekurangan nutrisi, selain berdampak pada imunitas juga mempengaruhi tingkat keganasan virus patogen itu sendiri.


Disebutkan bahwa kandungan nutrisi dan obat pada Jamur Kancing Putih (WBM) merupakan potensi dalam pengelolaan Covid-19.
Nutrisi WBM sebagai pelindung kekebalan tubuh melalui sifat penyembuhannya. Protein jamur meningkatkan imunologis, asam lemaknya sebagai anti-bakteri, anti-parasit dan anti-virus. Menariknya asam lemaknya bersifat antibiotik untuk melawan bakteri yang kebal obat.


Covid-19 berkembang menjadi pneumonia, yaitu infeksi saluran pernafasan akut yang parah. Belum adanya obat antivirus yang efektif, menobatkan peran vitamin C dalam mengurangi respons peradangan. Terapi vitamin B sangat efektif pada kerusakan paru akibat penggunaan ventilator serta peningkatan kekebalan akibat terinfeksi virus.
Vitamin D (ergosterol), vitamin E beserta senyawa fenolik asam galat adalah antioksidan yang sangat penting sebagai antiradang, antibakteri, antihiperlipidemia, antikanker dan antidiabetik.


Berbagai mineralnya berdampak positif dengan menurunkan gejala diare dan infeksi saluran pernapasan bagian bawah terkait Covid-19. Yang perlu menjadi perhatian adalah kekurangan selenium makanan dapat mengubah susunan virus menyebabkan virus jinak atau agak pathogen menjadi sangat ganas.


Ternyata, penelitian lainpun telah menunjukkan bukti terbaik dan terkini tentang peran bahan makanan dan senyawa bioaktif untuk meningkatkan kekebalan manusia dalam pencegahan dan pengobatan Covid-19. Kembali disebutkan, vitamin D memiliki keterkaitan dengan penularan dan keparahan Covid-19. Polifenol dan terutama flavonoid, penghambat potensial infeksi SARS-CoV-2, serta potensi penggunaan β-glukan di masa depan untuk mengatasi Covid-19.(*)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.