Kapal Pesiar Keliling Dunia Tak Kuat Beli Bahan Bakar, 200 Penumpang Telantar di Kamboja
SURABAYA (Lentera) -Nasib naas menimpa sekitar 200 penumpang kapal pesiar hunian Odyssey milik Villa Vie Residences.
Kapal yang telah berlayar mengelilingi dunia dua tahun tersebut mendadak menghentikan operasionalnya saat berlabuh di kota pelabuhan Sihanoukville, Kamboja, Selasa (27/10/2026).
Kapal milik perusahaan rintisan asal Florida, Amerika Serikat (AS), ini terpaksa menghentikan perjalanan karena kehabisan dana untuk membeli bahan bakar. Penumpang pun hanya diberi pemberitahuan beberapa jam sebelum diminta untuk turun dari kapal.
Villa Vie Residences menyatakan, keputusan menangguhkan operasional diambil sembari mengevaluasi alternatif restrukturisasi dan rekapitalisasi di tengah lonjakan biaya operasional.
"Kami berupaya menangani lonjakan biaya bahan bakar yang luar biasa," tulis pihak perusahaan dalam pernyataannya, dikutip dari New York Times, seraya menambahkan bahwa mereka sedang mengkaji peluang restrukturisasi.
Krisis biaya akibat konflik global
Melambungnya harga bahan bakar global yang dipicu konflik di kawasan Iran sejak akhir Februari 2026 menjadi pemukul utama bisnis ini. Terlebih, jalur pelayaran melalui Selat Hormuz sempat terganggu.
Villa Vie mengungkapkan, biaya bahan bakar bulanan per kabin di wilayah Asia melesat drastis dari 1.800 dollar AS (Rp 32,7 juta) menjadi antara 6.000 dollar AS (Rp 109 juta) sampai 8.000 dollar AS (Rp 145,3 juta).
"Kami tidak bisa begitu saja membebankan kenaikan sebesar itu kepada para penghuni," ujar perusahaan.
Pendiri Villa Vie, Mikael Petterson—sempat terlibat proyek kapal pesiar bermasalah milik Miray Cruises—menjelaskan bahwa anggaran pelayaran awalnya disusun berdasarkan asumsi tingkat keterisian kapal yang penuh.
Namun, performa penjualan yang sempat solid sepanjang 2025 mendadak merosot tajam menyusul pecahnya perang yang melibatkan AS-Israel dan Iran.
Petterson mengakui biaya bulanan yang ditetapkan sejak 2023 terlalu rendah untuk menutup defisit akibat kenaikan harga bahan bakar dan rendahnya tingkat okupansi. Langkah antisipasi pun sempat diupayakan.
Menurut Petterson, perusahaan sempat mencoba memberlakukan biaya tambahan bahan bakar sebesar 1.500 dollar AS (Rp 27,23 juta) per bulan, tetapi 70 persen penumpang menolak membayarnya.
Padahal, banyak di antara mereka sudah menyetorkan uang tunai ribuan dollar agar kapal tetap beroperasi tahun ini.
Masalah sejak pelayaran perdana
Kendala operasional kapal Odyssey sebenarnya sudah membayangi sejak awal. Menjelang keberangkatan yang dijadwalkan pada Mei 2024, perusahaan telah menjual hampir 100 kabin kepada sekitar 125 penumpang.
Namun, pelayaran perdana tertunda berbulan-bulan karena kapal berusia 32 tahun tersebut harus menjalani perbaikan ekstensif agar lolos inspeksi di Belfast, Irlandia Utara.
Penundaan ini menelan biaya jutaan dollar, mengikis kepercayaan calon pelanggan, dan membuat angka penjualan baru mandek.
Kini, nasib kelanjutan operasional kapal sepenuhnya bergantung pada investor.
Villa Vie menyatakan, akan berfokus pada restrukturisasi dan rekapitalisasi selama 60 hari ke depan dengan menempatkan tim inti berisi enam orang di atas kapal untuk pemeliharaan.
"Proses tersebut sedang berlangsung, dan belum ada kepastian mengenai hasilnya," ungkap pihak perusahaan.
Petterson menegaskan, jika tidak ada investor baru yang masuk, kapal tersebut pada akhirnya akan dijual.
Hasil penjualan nantinya dibagikan kepada para kreditur serta pemilik kabin berdasarkan kewajiban yang belum terselesaikan.
Cerita penumpang yang telantar
Pemberhentian mendadak ini meninggalkan kepahitan mendalam bagi para penumpang yang telah merogoh kocek dalam-dalam.
Joel Grieff, salah satu penumpang yang membeli paket prabayar seumur hidup bertajuk “Endless Horizons” seharga 350.000 dollar AS (Rp 6,35 miliar), baru merasakan fasilitas kapal selama beberapa pekan.
Paket tersebut menjanjikan hak tinggal permanen tanpa biaya bulanan selama masa operasional kapal.
Ia baru naik kapal pada 1 Oktober dan hanya sempat menikmati fasilitas selama 26 hari sebelum operasional dihentikan.
“Pada dasarnya, saya membayar 13.461,53 dollar AS per hari (Rp 244,24 juta) untuk 26 hari tersebut,” ujar Grieff.
Pengalaman berbeda dirasakan Dana Teton (71), pensiunan wiraniaga peralatan medis asal Honolulu.
Ia memesan kabin sewa lima minggu mulai Juni seharga 12.000 dollar AS (Rp 218 juta) bersama kekasihnya.
Meskipun rencana awal mengunjungi 14 pelabuhan di Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan batal total demi menghemat bahan bakar, pasangan ini sempat menikmati rute pengalihan ke Kepulauan Anambas di Indonesia dan Pulau Tioman di Laut China Selatan.
"Kami mendapatkan pengalaman luar biasa dan belajar menikmati ke mana pun kapal Odyssey membawa kami," ungkap Teton.
"Kami sangat menikmatinya sampai-sampai kami memutuskan untuk memesan perjalanan lagi."
Akan tetapi, kini Teton dan pasangannya turut menjadi bagian dari rombongan penumpang yang telantar di Kamboja.
Sebagian besar penumpang mengatur akomodasi secara mandiri di hotel-hotel sekitar Sihanoukville.
Pihak Villa Vie menyatakan pada Rabu (28/10/2026), mereka sedang berupaya menyewa pesawat untuk memulangkan penumpang ke Amerika pada awal minggu depan, dengan perkiraan biaya 1.100 dollar AS (Rp 20 juta) per orang.
Bisnis pelayaran hunian penuh risiko
Villa Vie merupakan bagian dari tren bisnis pelayaran keliling dunia tanpa henti. Model bisnis ini menawarkan opsi tempat tinggal dengan klaim biaya lebih murah dibandingkan hidup di darat.
Paket termahal di kapal Odyssey mencakup kepemilikan kamar (suite) dan hak tinggal permanen dengan kisaran harga 119.999 dollar AS (Rp 2,17 miliar) hingga 439.999 dollar AS (Rp 8 miliar), ditambah biaya bulanan 3.500 dollar AS (Rp 63,5 juta) sampai 11.000 dolar AS (Rp 199,7 juta).
Tersedia pula opsi kepemilikan lima tahun mulai dari 49.999 dollar AS (Rp 907,8 juta) plus biaya bulanan, serta opsi sewa jangka pendek. Meski terkesan menjanjikan, industri ini tercatat memiliki rekam jejak yang rentan gagal.
Pada 2023, program pelayaran tiga tahun milik Miray Cruises gagal beroperasi akibat kendala teknis dan penundaan, merugikan calon penumpang hingga ratusan ribu dollar.
Sejauh ini, hanya kapal The World yang dinilai sukses secara finansial dalam menjalankan bisnis kapal pesiar hunian.
Kapal tersebut menerapkan model kepemilikan koperasi swasta. Para penghuninya harus membayar hingga jutaan dollar untuk membeli unit apartemen di atas kapal (*)
Editor: Arifin BH/Kompas



.jpg)

Post a comment