SURABAYA (Lentera) – Berawal dari bisnis sangrai kopi untuk pasar lokal, Aryasetya Kanaka Dumadi kini membawa potensi kopi petani Indonesia menembus pasar internasional. Melalui platform QThink X yang dibangunnya, wisudawan Universitas Ciputra Surabaya ini menghubungkan 50 petani kopi lokal dengan pembeli dari luar negeri.
Perjalanan tersebut tidak hanya berbicara tentang mengembangkan bisnis, tetapi juga membuka peluang bagi petani kopi skala kecil untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam kurun satu tahun, QThink X telah menjangkau dua pembeli internasional. Platform tersebut mencatat tujuh kali transaksi ke Italia dan satu kali ke Uni Emirat Arab.
Aryasetya menjelaskan, QThink X lahir dari persoalan yang ditemuinya dalam ekosistem bisnis kopi. Di satu sisi, petani memiliki hasil panen berkualitas, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses ke pasar global.
Di sisi lain, pembeli internasional membutuhkan kepastian informasi mengenai asal-usul, mutu, hingga ketersediaan produk.
“Inovasi QThink X lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Petani punya hasil panen berkualitas tetapi minim akses pasar global, sementara pembeli luar negeri butuh kepastian data ketertelusuran produk. Platform ini memangkas kesenjangan tersebut,” ujarnya, Sabtu (31/10/2026).
Sebelum mengembangkan QThink X, Aryasetya lebih dahulu merintis Kazakopi, usaha roastery yang menyasar pasar lokal. Ia juga mengembangkan Essuco, produk perawatan tubuh berupa body scrub berbahan ampas kopi. Melalui usaha tersebut, ia mencoba mengolah material sisa produksi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Berbagai pengalaman bisnis itu kemudian berjalan beriringan dengan proses pembelajarannya di program International Business Management–International Class Universitas Ciputra Surabaya.
Selama kuliah, ia mendapatkan pengalaman melalui mata kuliah berbasis proyek, pembelajaran ekspor-impor, hingga kesempatan magang di perusahaan asuransi ekspor. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk memahami peluang sekaligus tantangan dalam perdagangan internasional.
Bahkan, QThink X menjadi fokus penelitian skripsinya. Aryasetya meneliti sejumlah faktor yang berkaitan dengan niat petani kopi skala kecil dalam mengadopsi platform ketertelusuran produk.
Kisah Aryasetya menjadi salah satu gambaran bagaimana kewirausahaan dapat dikembangkan tidak hanya untuk mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga menjawab persoalan di tengah masyarakat.
Hal ini sejalan dengan tema wisuda Universitas Ciputra 2026, yakni “Innovating Humanity Through Entrepreneurial Leadership”. Tema tersebut menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu menghadirkan inovasi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, M.ScA, CA., Ak, mengatakan lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan menciptakan nilai dan menjawab kebutuhan nyata di tengah perubahan dunia kerja.
“Baik sebagai profesional maupun entrepreneur, semangat entrepreneurship harus menjadi bekal untuk terus menciptakan nilai, menangkap peluang, dan menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Wirawan.
Diketahui, dalam wisuda 2026, Universitas Ciputra juga melaporkan 90 persen lulusannya telah memperoleh pekerjaan atau menjalankan bisnis sebelum menyelesaikan studi. Capaian tersebut mencakup lulusan yang berkarier sebagai profesional, membangun usaha sendiri, maupun meneruskan bisnis keluarga. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi



.jpg)

Post a comment