21 October 2026

Get In Touch

Batal Direalisasikan Tahun Ini, Revitalisasi 4 Wisata Trenggalek Bergeser ke 2027

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony Widianto, saat memberikan keterangan terkait penundaan revitalisasi 4 destinasi wisata ke 2027 yang direncanakan menggunakan dana pinjaman PT SMI.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony Widianto, saat memberikan keterangan terkait penundaan revitalisasi 4 destinasi wisata ke 2027 yang direncanakan menggunakan dana pinjaman PT SMI.

TRENGGALEK (Lentera) -Revitalisasi 4 destinasi wisata di Kabupaten Trenggalek yang semula direncanakan pada 2026 ditunda hingga 2027. Pemerintah daerah tetap mengandalkan pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI untuk membiayai pembenahan tersebut, dengan harapan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Tony Widianto, mengatakan penundaan dilakukan karena sejumlah persyaratan pelaksanaan belum terpenuhi pada 2026. Meski jadwalnya bergeser, lokasi dan besaran anggaran yang direncanakan tidak banyak berubah dari rencana sebelumnya.

Empat destinasi yang masuk program revitalisasi tersebut meliputi Pantai Karanggongso atau Pasir Putih, Prigi 360, Goa Lowo, dan Hutan Kota. Pembenahan akan difokuskan pada peningkatan daya tarik, penyempurnaan estetika, serta perbaikan sarana dan prasarana yang membutuhkan penanganan serius.

“Lokasinya tidak berubah dan nilainya kurang lebih masih sama dengan konsep tahun 2026. Harapannya, revitalisasi ini bisa mengubah wajah destinasi, meningkatkan daya tarik, kunjungan wisatawan, dan pendapatan daerah,” ujar Tony.

Berdasarkan rincian yang dibahas Komisi II DPRD Trenggalek, rencana anggaran untuk Prigi 360 sekitar Rp 3 miliar, Pantai Pasir Putih Rp 2,9 miliar, Goa Lowo Rp 5 miliar, dan Hutan Kota Rp 1,7 miliar.

Tony menjelaskan, revitalisasi tidak semata-mata bertujuan menambah fasilitas atau mempercantik kawasan wisata. Pemerintah juga akan memprioritaskan perbaikan sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan dan membutuhkan biaya cukup besar.

Menurutnya, sumber pembiayaan untuk program tersebut sementara masih bertumpu pada pinjaman daerah dari PT SMI. Keterbatasan porsi Dana Alokasi Umum (DAU) membuat pemerintah daerah belum menyiapkan sumber pendanaan lain untuk mendukung revitalisasi tersebut.

Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menargetkan PAD sektor pariwisata pada 2027 mencapai Rp9,4 miliar, naik sekitar Rp200 juta dibandingkan target 2026 sebesar Rp9,2 miliar.

Tony mengakui, pelaksanaan revitalisasi berpotensi memengaruhi pelayanan dan aktivitas wisatawan selama pekerjaan berlangsung. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan karena dapat berdampak terhadap pendapatan, selain faktor cuaca dan persaingan dengan destinasi wisata lain yang terus berkembang.

“Pelaksanaan pekerjaan revitalisasi selama beberapa bulan tentu sedikit banyak mengganggu pelayanan wisata. Selain itu, capaian pendapatan juga dipengaruhi cuaca dan perkembangan destinasi lain,” jelasnya.

Terkait realisasi pendapatan 2026, Tony menyebut penerimaan sementara sekitar Rp6,2 miliar dari target Rp9,2 miliar. Ia mengatakan capaian tahun ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berharap pendapatan terus meningkat hingga akhir tahun.

Menurut Tony, persaingan antardestinasi juga memengaruhi jumlah kunjungan. Wisatawan kini memiliki lebih banyak pilihan, termasuk destinasi yang berkembang di kawasan pesisir serta akses melalui Jalur Lintas Selatan (JLS). Karena itu, revitalisasi diharapkan dapat memperkuat daya tarik masing-masing lokasi agar tetap mampu bersaing.

Di tengah rencana peningkatan target PAD dan penggunaan pinjaman daerah, kejelasan perhitungan anggaran serta potensi pendapatan setiap destinasi menjadi bagian penting yang perlu dipastikan sebelum proyek dilaksanakan. Pemerintah daerah diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembenahan fasilitas, kenyamanan wisatawan, dan kemampuan destinasi menghasilkan pendapatan untuk daerah.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.