SURABAYA ( LENTERA ) - Menurunkan berat badan setelah melahirkan sering dianggap sebagai perlombaan untuk segera mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum hamil. Padahal, tubuh setiap ibu mengalami proses pemulihan yang berbeda. Ada yang berat badannya berangsur turun dalam beberapa bulan, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih panjang.
Hal serupa dialami aktris Bollywood, Kareena Kapoor. Setelah melahirkan anak pertamanya, Taimur Ali Khan, pada Desember 2016, berat badan Kareena sempat meningkat cukup signifikan selama kehamilan.
Namun, ia tidak memilih cara ekstrem untuk mengembalikan berat badannya. Menurut laporan NDTV pada September 2026, Kareena kehilangan sekitar 32 kilogram dalam waktu kurang lebih 19 bulan setelah melahirkan.
Proses tersebut dilakukan dengan pendampingan ahli gizi Rujuta Diwekar dan instruktur Pilates Namrata Purohit.
Angka tersebut memang terlihat besar. Namun, yang menarik dari kisah Kareena bukan semata-mata jumlah kilogram yang hilang, melainkan prosesnya yang berlangsung lebih dari satu setengah tahun.
Kareena bahkan pernah menegaskan bahwa dirinya tidak menjalani pola makan dengan membuat tubuh kelaparan.
“Saya tidak bisa hidup dengan kelaparan, tanpa makanan yang bergizi.”
Dalam kesempatan lain, ia juga mengatakan tidak pernah sengaja membuat dirinya kelaparan hanya untuk menjadi kurus. Kareena menggambarkan makanan sebagai bagian penting dalam kehidupannya sejak kecil.
Tak Hilangkan Makanan Favorit
Pendekatan Kareena berbeda dari anggapan bahwa semakin sedikit makanan yang dikonsumsi, semakin cepat pula berat badan turun.
Kareena disebut tetap mengonsumsi makanan yang disukainya. Bahkan, makanan seperti paratha dengan ghee masih dapat masuk dalam pola makannya.
Namun, pengalaman seorang selebritas tentu tidak bisa otomatis dijadikan resep untuk semua ibu. Setelah persalinan, tubuh membutuhkan energi dan zat gizi untuk proses pemulihan. Bagi ibu yang menyusui, kebutuhan nutrisi juga berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi.
Karena itu, yang lebih penting bukan meniru menu Kareena, melainkan menemukan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.
Penelitian mengenai pola makan selama masa menyusui dan kaitannya dengan penurunan berat badan juga belum memberikan bukti yang cukup kuat bahwa satu pola makan tertentu pasti membuat berat badan turun lebih cepat.
Tinjauan sistematis dari Sistem Tinjauan Bukti Gizi Departemen Pertanian Amerika Serikat menyimpulkan bahwa bukti mengenai hubungan pola makan selama menyusui dengan penurunan berat badan setelah melahirkan masih belum mencukupi.
Dengan kata lain, ibu tidak perlu mengikuti menu Kareena secara persis. Kebutuhan energi dan zat gizi setiap perempuan dapat berbeda.
Pilates Dilakukan Bertahap
Perubahan Kareena juga tidak hanya berkaitan dengan makanan. Ia kembali aktif bergerak dan melakukan Pilates bersama instruktur Namrata Purohit.
Namun, latihan tersebut tidak langsung dilakukan dengan intensitas tinggi. Kareena pernah menceritakan bahwa punggungnya masih terasa lemah setelah melahirkan. Karena itu, ia memulai latihan dengan jumlah pengulangan yang lebih sedikit sebelum meningkatkan intensitas.
Pendekatan bertahap tersebut sejalan dengan panduan American College of Obstetricians and Gynecologists atau ACOG. Setelah melahirkan, aktivitas fisik dapat kembali dilakukan secara bertahap ketika kondisi medis sudah memungkinkan. Ibu yang menjalani persalinan normal tanpa komplikasi dapat mulai beraktivitas kembali dalam waktu relatif singkat. Sementara ibu yang menjalani operasi caesar atau mengalami komplikasi perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
ACOG merekomendasikan sekitar 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu setelah melahirkan. Durasi tersebut tidak harus dilakukan sekaligus.
Ibu dapat membaginya menjadi beberapa sesi pendek, misalnya berjalan kaki selama 10 menit beberapa kali dalam sehari.
Jalan kaki, yoga, Pilates, latihan kekuatan, hingga latihan dasar panggul dapat menjadi bagian dari aktivitas setelah melahirkan, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi tubuh.
Gabungan Pola Makan dan Olahraga
Pengalaman Kareena menjadi menarik jika dibandingkan dengan hasil penelitian mengenai pengelolaan berat badan setelah melahirkan.
Tinjauan sistematis dan analisis gabungan yang diterbitkan dalam Nutrition Reviews pada 2018 menganalisis 27 uji klinis dengan sekitar 3.485 peserta.
Hasilnya menunjukkan bahwa intervensi yang menggabungkan pola makan dan aktivitas fisik menghasilkan penurunan berat badan setelah melahirkan yang lebih besar dibandingkan tanpa intervensi. Rata-rata perbedaannya sekitar 2,49 kilogram, dan pengaruh tersebut masih terlihat dalam evaluasi hingga 12 bulan setelah melahirkan.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Obesity Reviews juga menemukan hasil serupa. Analisis terhadap 32 penelitian terkontrol secara acak yang melibatkan 1.892 perempuan menunjukkan bahwa kombinasi pengaturan pola makan dan aktivitas fisik lebih efektif untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan dibandingkan aktivitas fisik saja.
Artinya, keberhasilan mengelola berat badan setelah persalinan kemungkinan bukan berasal dari satu makanan “ajaib” atau satu jenis olahraga tertentu. Yang lebih berperan adalah kombinasi kebiasaan sehat yang dilakukan secara konsisten.
Bukti mengenai aktivitas fisik setelah melahirkan terus berkembang.
Tinjauan sistematis dan analisis gabungan yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine pada 2025 menganalisis 64 penelitian terkontrol secara acak dari 20 negara dengan total 12.684 peserta.
Peneliti menemukan bahwa olahraga saja dapat menurunkan berat badan sekitar 1,34 kilogram dibandingkan tanpa olahraga. Aktivitas fisik juga dikaitkan dengan penurunan indeks massa tubuh dan massa lemak.
Analisis tersebut juga menemukan hubungan antara sekitar 560 MET-menit aktivitas fisik per minggu dengan penurunan indeks massa tubuh. Dalam ilustrasi penelitian, angka tersebut antara lain dapat dicapai melalui sekitar 120 menit berjalan cepat setiap minggu.
Namun, hasil penelitian pada kelompok besar tidak berarti setiap ibu akan mengalami penurunan berat badan dengan jumlah yang sama.
Tubuh setiap perempuan memiliki respons berbeda terhadap aktivitas fisik. Faktor kesehatan, pola tidur, kondisi setelah persalinan, asupan makanan, menyusui, hingga aktivitas sehari-hari dapat memengaruhi hasil.
Bukan Target Semua Ibu
Bagian penting dari kisah Kareena justru terletak pada waktunya.
Menurut laporan NDTV, ia kehilangan sekitar 32 kilogram dalam waktu kurang lebih 19 bulan setelah melahirkan anak pertamanya.
Artinya, perubahan tersebut tidak terjadi dalam hitungan beberapa minggu.
Hal ini penting karena tekanan untuk segera kembali ke bentuk tubuh sebelum hamil dapat membuat ibu melihat masa setelah persalinan semata-mata sebagai periode untuk menurunkan berat badan. Padahal, tubuh masih berada dalam proses pemulihan.
ACOG menyebut aktivitas setelah persalinan perlu disesuaikan dengan kondisi medis, jenis persalinan, dan ada atau tidaknya komplikasi. Aktivitas juga sebaiknya ditingkatkan secara bertahap.
Bagi ibu yang menyusui, ACOG menyebut olahraga aerobik secara teratur dapat meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru tanpa memengaruhi produksi atau komposisi ASI maupun pertumbuhan bayi. Ibu menyusui tetap perlu memperhatikan kecukupan cairan dan kenyamanan tubuh saat berolahraga.
Karena itu, angka 32 kilogram dari perjalanan Kareena tidak tepat dijadikan patokan bagi semua ibu.
Berat badan sebelum hamil, kenaikan berat badan selama kehamilan, aktivitas sehari-hari, pola tidur, kondisi kesehatan, jenis persalinan, hingga proses menyusui dapat memengaruhi perjalanan setiap perempuan.
ACOG juga mencatat bahwa bukti mengenai hubungan antara menyusui dan perubahan berat badan setelah melahirkan belum cukup konsisten untuk menjadikan menyusui sebagai strategi penurunan berat badan.
Karena itu, ibu tidak perlu merasa gagal jika berat badan belum kembali seperti sebelum hamil.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menempatkan masa setelah persalinan sebagai fase penting bagi kesehatan ibu dan bayi. Perawatan setelah melahirkan seharusnya mencakup informasi, dukungan, pemantauan kesehatan, serta perhatian terhadap kebutuhan ibu dan bayi.
WHO juga menekankan pentingnya gizi yang baik, pemantauan kesehatan, dan dukungan terhadap kesejahteraan ibu selama masa setelah persalinan. Enam minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode penting untuk pemulihan ibu sekaligus perkembangan bayi
Dengan demikian, masa setelah melahirkan tidak semestinya hanya diukur dari angka di timbangan atau ukuran lingkar pinggang.
Ibu yang baru melahirkan membutuhkan waktu untuk memulihkan tubuh. Kebutuhan itu dapat mencakup makanan bergizi, aktivitas yang sesuai, tidur dan istirahat sebisa mungkin, dukungan keluarga, serta pemeriksaan medis ketika diperlukan.(far,ist/dya)




.jpg)

Post a comment