04 October 2026

Get In Touch

Mahasiswa UNUSA Kembangkan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor

Tim UNUSA yang mengembangkan rambu evakuasi tsunami berbasis sensor.
Tim UNUSA yang mengembangkan rambu evakuasi tsunami berbasis sensor.

SURABAYA (Lentera) - Rambu evakuasi bencana umumnya berfungsi sebagai penunjuk arah menuju lokasi aman. Namun, dalam situasi gempa dan potensi tsunami, informasi mengenai kondisi lingkungan juga menjadi bagian penting agar masyarakat dapat menentukan langkah evakuasi secara cepat.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, lima mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengembangkan SafeLight Tsunami Route, prototipe rambu evakuasi yang memanfaatkan sensor untuk membaca kondisi lingkungan dan memberikan indikator peringatan secara real-time.

Inovasi tersebut memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026, salah satu skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdiktisaintek.

Kelima mahasiswa tersebut yakni Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho, dengan dosen pembimbing Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

Salah satu anggota tim Rofiq Arroyan, mengatakan, SafeLight Tsunami Route dikembangkan dengan gagasan memperkuat fungsi rambu evakuasi konvensional. Jika rambu pada umumnya memberikan informasi arah secara statis, prototipe ini dirancang untuk memberikan indikator yang dapat berubah berdasarkan data yang dibaca sensor.

“SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana kepada masyarakat,” ujarnya, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, SafeLight Tsunami Route terdiri dari dua subsistem utama, yakni subsistem darat dan laut. Keduanya dirancang untuk mengumpulkan data yang menjadi bagian dari parameter dalam sistem peringatan.

Pada subsistem darat menggunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa. Sementara pada subsistem laut digunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut.

"Data yang diperoleh dari kedua subsistem tersebut kemudian diproses untuk menentukan kondisi yang ditampilkan melalui indikator rambu," jelasnya.

Terkait sistem indikator dibagi menjadi tiga kondisi. Lampu hijau menunjukkan kondisi aman. Lampu kuning yang disertai sirine menunjukkan adanya gempa atau kondisi kewaspadaan. Sedangkan lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menunjukkan indikasi potensi tsunami dan mengarahkan masyarakat untuk segera mengikuti prosedur evakuasi.

Dengan sistem tersebut, informasi pada rambu tidak hanya menunjukkan arah, tetapi juga memberikan indikator mengenai kondisi yang sedang terdeteksi perangkat

Data Guncangan Ditampilkan dalam Skala MMI

Selain indikator lampu dan suara, prototipe dilengkapi sistem monitoring untuk mengirimkan data sensor melalui modem MiFi menuju sistem pemantauan.

Tingkat guncangan yang terdeteksi juga ditampilkan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala tersebut digunakan untuk menggambarkan intensitas guncangan yang dirasakan atau teramati di suatu lokasi berdasarkan dampaknya, sehingga berbeda dengan magnitudo yang menggambarkan besaran energi gempa pada sumbernya.

Dari sisi energi, prototipe menggunakan panel surya sebagai sumber daya. Energi dari panel diatur melalui solar charge controller dan disimpan dalam baterai. Sementara kebutuhan tegangan masing-masing komponen elektronik disesuaikan menggunakan konverter tegangan.

Karena ditujukan untuk lingkungan pesisir, komponen elektronik utama juga ditempatkan dalam box pelindung. "Penyesuaian tersebut diperlukan karena perangkat yang ditempatkan di luar ruangan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, termasuk paparan air dan cuaca," tuturnya.

Dalam proses pengembangannya, SafeLight Tsunami Route telah melalui tahap perakitan dan pengujian. Hasil pengujian digunakan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan sejumlah bagian, mulai dari rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, hingga penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI.

Menurutnya, pengembangan prototipe tersebut menjadi bagian dari penerapan keilmuan K3 yang tidak hanya berkaitan dengan keselamatan di tempat kerja, tetapi juga dapat diterapkan pada kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

“Melalui pendekatan berbasis teknologi, kami tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat,” ucapnua.

Ia dam tim berharap pengembangan berikutnya dapat meningkatkan kemampuan perangkat sehingga dapat digunakan sebagai salah satu pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi, khususnya di kawasan pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.