04 October 2026

Get In Touch

Sidak SMPN 47, Eri Cahyadi Minta Pemanfaatan BOPDA dan BOSNAS Dioptimalkan

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat sidak di SMPN 47.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat sidak di SMPN 47.

SURABAYA (Lentera) - Kondisi fasilitas sanitasi menjadi perhatian Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SMPN 47 Surabaya, Jumat (2/10/2026). Dalam pengecekan tersebut, Eri menemukan dua kamar mandi sekolah yang terkunci karena tidak dapat digunakan.

Untuk itu, Eri meminta agar anggaran Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPDA) dan Bantuan Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS) dioptimalkan untuk pemeliharaan fasilitas SD Negeri dan SMP Negeri di Surabaya.

“Saya mengecek SMPN 47. Saya berkeliling mengecek ruang kelas, kamar mandi, sampai kembali menegaskan persoalan aturan seragam sekolah untuk tahun depan. Fasilitas SD-SMP Negeri harus ditingkatkan lagi, agar anak-anak Surabaya nyaman belajar,” ujar Eri.

Menurutnya, kamar mandi merupakan fasilitas dasar yang harus dipastikan dapat digunakan dengan baik oleh siswa. Ia menilai kondisi sanitasi tidak seharusnya diabaikan karena berkaitan langsung dengan kenyamanan dan kebersihan lingkungan sekolah.

“Kamar mandi ini adalah hal yang paling penting. Ada dua kamar mandi yang dikunci, digembok, karena tidak bisa digunakan. Ini tidak tepat, sekolah negeri kok kondisinya seperti ini,” tuturnya.

Untuk itu, Eri meminta kondisi fasilitas sanitasi di seluruh SD dan SMP Negeri diperiksa. Ia juga meminta pemanfaatan anggaran sekolah, baik pada tahun berjalan maupun 2027, turut diarahkan untuk memperbaiki fasilitas yang mengalami kerusakan.

“Cek semua anggaran sekolah BOPDA dan BOSNAS. Masa sekolah seperti ini, kamar mandi rusak semua. Ada yang airnya menggenang, airnya tidak keluar. Anggaran tahun ini atau 2027, semua kamar mandi sekolah SD-SMP Negeri (harus bersih) seperti kamar mandi mal,” tegasnya.

Selain perbaikan fisik, Eri mendorong adanya perawatan rutin setelah fasilitas diperbaiki. Ia bahkan membuka kemungkinan dukungan anggaran operasional untuk petugas yang secara khusus menangani kebersihan kamar mandi.

“Nanti di situ (kamar mandi) diberikan penjaga. Kalau yang perempuan ya perempuan, yang laki-laki ya laki-laki. Jadi setelah anak-anak keluar, langsung dibersihkan,” ujarnya.

Dalam sidak tersebut, Eri juga menemukan persoalan kebersihan dan penataan lingkungan sekolah. Ia meminta seluruh SD dan SMP Negeri tidak menjadikan lingkungan sekolah sebagai tempat menumpuk barang-barang bekas.

Eri memberikan tenggat hingga akhir pekan untuk melakukan penataan dan mengatakan akan kembali melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah. “Saya minta semua SD Negeri dan SMP Negeri tidak ada barang-barang (bekas) yang menumpuk di sekolah. Saya akan turun (cek) lagi,” tegasnya.

Selain fasilitas sekolah, Eri kembali menyinggung kebijakan mengenai perlengkapan dan seragam sekolah. Ia meminta harga berbagai perlengkapan, seperti topi, dasi, kaos kaki, dan sabuk, tidak membebani orang tua siswa.

Ia mengatakan telah memberikan tenggat kepada Kepala Dinas Pendidikan Surabaya untuk menyampaikan edaran kepada seluruh kepala sekolah. Menurutnya, aturan tersebut akan diberlakukan pada tahun depan dan harus dipatuhi seluruh SD dan SMP Negeri.

“Saya sudah memberikan tenggat waktu kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk menyebarkan edaran kepada kepala sekolah, terutama terkait seragam. Tahun depan aturan tersebut wajib ditaati seluruh SD-SMP Negeri,” ujarnya.

Eri juga meminta masyarakat melaporkan apabila masih menemukan persoalan harga perlengkapan sekolah yang dinilai tidak wajar. Ia menegaskan akan memberikan sanksi terhadap pihak yang terbukti melanggar.

“Sampai masih ada laporan, saya pastikan kepala sekolahnya saya ganti, Kepala Dinas Pendidikan saya beri sanksi,” tambahnya.

Eri berharap pembenahan fasilitas dan penataan lingkungan sekolah dapat memastikan seluruh SD dan SMP Negeri di Surabaya memiliki sarana yang layak dan nyaman bagi siswa.

“Semoga minggu depan semua sekolah sudah bersih, tidak ada tumpukan-tumpukan barang. Kemudian tidak ada lagi batik yang bermacam-macam, tidak ada lagi laporan kepada saya mengenai harga topi, dasi, kaos kaki, dan sabuk yang mahal,” pungkasnya. (*)

Reporter: Amanah
Editor: Lufiyu Handi

 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.