23 September 2026

Get In Touch

Latar Cendhani: Ikhtiar Desa Sendangduwur Merajut Jalan Terjal Pemberdayaan UMKM Lokal Berkelanjutan

LAMONGAN (Lentera) - Di tengah himpitan pergerakan pasar modern dan makin masifnya transaksi online, sebuah desa di pesisir Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, berupaya bangkit dan untuk membuktikan bahwa tradisi lokal sanggup menjadi benteng sekaligus motor penggerak usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah Desa Sendangduwur itu meretas jalan terjal pemberdayaan UMKM lokal melalui inisiasi Pasar Latar Cendhani hingga akhirnya mampu menjadi pendongkrak peningkatan ekonomi warga.

Keterbatasan lahan karena desa ini hanya memiliki luas sekitar 22,5 hektare, dan topografi daerah yang  berada di atas bukit bernama Bukit Amitunon, hingga jumlah penduduk 1.945 jiwa per Januari 2024 menjadi tantangan. Kepala Desa Sendangduwur, Barrur Rohim, S.Pd., menyebut dengan keterbatasan lahan dan juga himpitan berbagai pasar di desa sekitarnya membuat desa ini tidak punya pasar sendiri.

"Nah, sementara sekarang kita itu juga apa, di samping kanan-kiri kita kan juga sudah banyak kan pasar-pasar besar, nggih. Apalagi sekarang ini ada pedagang keliling, sudah ada online-online. Jadi kita itu ya sempat mikir, karena ya apa namanya. Sebenarnya dari Pemerintah Desa sendiri kan ya pengin lah, bagaimana nanti warga masyarakat itu lebih berdaya dengan adanya pasar. Cuma ya itu tadi, kita mikir lahannya enggak ada. Kondisi itu yang menjadi jalan terjal kami memberdayakan ekonomi warga,” katanya saat ditemui di Kantor Desa Sendangduwur, pada Senin (21/9/2026).

Jalan terjal bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan gagasan demi meningkatkan ekonomi warga. Terlebih lagi, impian masyarakat Desa Sendangduwur untuk memiliki pasar desa sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. Namun, niat tersebut bertahun-tahun tertahan oleh kendala mendasar: ketiadaan lahan desa yang memadai serta ukuran populasi warga yang relatif kecil. Di sisi lain, keberadaan pasar-pasar besar di sekitar wilayah desa, gempuran pedagang keliling, hingga maraknya belanja daring (online) membuat posisi para pelaku UMKM lokal kian tersudut.

Kondisi tersebut memicu Kades Barrur Rohim dan jajarannya untuk memutar otak. Pemerintah Desa (Pemdes) meyakini bahwa warga harus berdaya secara ekonomi. Dari situlah, Barrur memiliki angan-angan untuk membuat pasar dan tentunya pasar yang berbeda dengan pasar lainnya.  

Barrur menyadari bahwa keunggulan Desa Sendangduwur terletak pada kekayaan kuliner khas dan warisan budaya. Menggabungkan potensi jajanan lama dengan daya tarik wisata religi Makam Sunan Sendang dinilai sebagai jawaban paling rasional atas keterbatasan lahan yang mereka hadapi.

"Kemudian kita itu punya angan-angan, bagaimana kalau kita nanti membuat pasar wisata. Lah, dari situlah kita punya angan-angan punya pasar wisata itu,” katanya.

Gagasan  itu pun menghadirkan jalan terjal baru. Barrur mengatakan jalan terjal itu adalah bagaimana dan seperti apa konsep untuk menjadikan pasar wisata itu benar-benar menarik dan menyedot banyak masyarakat untuk hadir. “Apakah bisa ketika pasar wisata itu nanti setiap hari buka, terus kita juga mempertimbangkan jumlah kunjungannya itu seperti apa, berapa, kan gitu,"  sambungnya.

Untuk menyibak jalan terjal itu, Barrur Rohim menghadirkan dan berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Karang Taruna, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Dari situlah akhirnya mencetuskan ide pasar wisata tersebut bertema kuliner tradisional dengan harapan  sukses mentransformasi keterbatasan geografis menjadi sentra ekonomi baru yang menyedot perhatian ribuan pengunjung.

“Untuk menciptakan pasar wisata tradisioal itu kami mengamati dinamika pasar di media sosial dan melakukan studi banding langsung ke Pasar Keramat di Mojokerto. Akhirnya gagasan untuk menciptakan pasar berkonsep pasar wisata tradisional terlahir,”  katanya.

Dari kunjungan di Pasar Keramat itulah akhirnya menemukan konsep yang berbeda untuk bisa diterapkan di pasar wisata tradisional di desa Sendangduwur. “Meskipun nanti apa Namanya pasarnya, yang pasti beda lah cara kita nanti penataannya mungkin beda, kan suasana, situasi, alamnya kan beda di sana," kata Barrur.

 

Langkah Awal, Pemdes Beri Garansi Pada Pedagang

Setelah Pemdes, BUMDes, Pokdarwis, dan juga masyarakat sepakat, serta berhasil menemukan konsep, akhirnya langkah nyata hadirnya pasar wisata tradisioal dimulai pada akhir tahun 2022.

"Cuma nanti terkait apa Namanya, jualannya, jajanan-jajanan Jawa kita bisa. Apalagi di Desa Sendangduwur itu juga punya makanan khas, jajanan khas. InsyaAllah nanti kan bisa kita jual. Ya mulai dari itu kita awali, kita buka. Tapi saat itu kita itu bukanya tidak di Cendhani, tapi di depan makam Sunan Sendang," ceritanya.

Penempatan pasar di pelataran depan kompleks Makam Sunan Sendang dianggap tepat. Pemilihan lokasi ini dirancang untuk membidik target pasar utama yaitu para peziarah luar daerah yang datang berkunjung.

"Konsep kita, pasar itu ya dari awal memang kita  penginnya jajanan-jajanan tradisional. Nah, jajanan tradisional. Masyarakat kita ini kan sudah terbiasa dengan jajanan seperti itu. Makanya pola pikir kita, pasar kita itu para peziarah yang dari luar Desa Sendang. Makanya kita pasar ini diletakkan di depan makam lah," jelasnya.

Desa Sendangduwur memang memiliki wisata religi dengan adanya makam Sunan Sendang atau Raden Noer Rahmat (1520 – 1585) yang merupakan seorang tokoh dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Raden Noer Rahmat adalah putra Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad yang menetap di Jawa dan menikah dengan Dewi Sukarsih putri Tumenggung Sedayu.

Makam Sunan Sendang terletak di atas Bukit Amitunon, Desa Sendang , Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Kompleks makam yang berada di Masjid peninggalan Sunan Sendang ini menjadi tujuan wisata religi dengan pengunjung dari berbagai daerah.

Meski demikian, Barrur mengatakan merintis pasar baru dari nol bukan perkara mudah. Pada gelaran perdana, hanya sekitar 15 hingga 20 pedagang yang merupakan warga setempat memberanikan diri untuk bergabung. “Ya namanya kita mengawali pasar itu kan ya pedagangnya juga sedikit. Ya tempat juga seadanya, penataannya mungkin ya kurang representatif lah. Tapi ya alhamdulillah kok ada respon dari para pengunjung," paparnya.

Namun demikian, rasa ragu dan bahkan sikap apatis sempat membayangi warga yang menjadi pedagang. Mereka takut jika produk dagangan mereka tidak laku. Ternyata, kekhawatiran pedagang itu sempat terjadi. Tidak semua dagangan mereka habis terjual.

Menjawab apa yang menjadi keraguan bahkan apatis dari warga pedagang ini, termasuk supaya mereka tetap mau berdagang, maka Kades Barrur Rohim mengambil kebijakan pasang badan dengan memberikan jaminan atau garansi dagangan para pedagang tetap laku. Jaminan itu dilakukan dengan memborong seluruh dagangan yang tidak habis terjual agar warga tidak kapok dan tetap termotivasi untuk berjualan. Langkah ini dilakukan hingga tiga kali gelaran awal.

“Nah pada saat itu kita memang komitmen, karena kita juga memotivasi masyarakat, Akhirnya ada yang yang enggak habis ya terpaksa dari pemerintah desa itu yang yang borong jajanannya. Nah itu, itu sampai tiga kali seperti itu,” kata Barrur.

Tak hanya memborong, Pemdes juga membuat strategi dengan praktik langsung membatik. Sehingga pengunjung pasar yang juga peziarah makam Sunan Sendang bisa langsung marasakan sensasi membatik menggunakan canting dan lilin menggoreskan motif batik secara langsung di atas kain.

“Kita sambil jualan batik mempromosikan pada masyarakat luar supaya lebih tahu lah bahwasanya di desa kita itu selain ada pasar juga ada kerajinan batik. Dan batik itu juga diawali adanya pelatihan-pelatihan. Waktu itu yang jadi yang jadi tutor adalah pembatik atau pengrajin batik langsung,” katanya.

Hadirnya praktik langsung membatik di pasar tradisional tersebut cukup menarik perhatian peziarah Makan Sunan Sendang. Sehingga mereka tidak hanya sekedar berziarah, tetapi setelah berziarah itu mereka mau lihat-lihat batik, mau beli-beli jajanan-jajanan tradisional yang dijajakan pada pedagang.

Salah satu pengunjung berada di depan pintu gerbang pasar Latar Cendhani.
Salah satu pengunjung berada di depan pintu gerbang pasar Latar Cendhani.

Migrasi ke Latar Cendhani dan Standarisasi Manajemen UMKM

Keberhasilan di lokasi awal yaitu di area parkir Masjid dan Makam Sunan Sendang membawa tantangan baru. Berjualan di depan makam yang merupakan akses jalan utama kerap memicu kemacetan parah, terlebih saat rombongan peziarah datang menggunakan bus-bus besar yang menutup lapak para pedagang.

Melihat kendala tersebut, Pemdes bersama Pokdarwis dan Karang Taruna bergerak cepat mencari solusi yaitu menjadi alternatif tempat yang lebih luas, asri, rindang pepohonan, dan akses yang lebih mudah. Lokasi teduh inilah yang kemudian diberi nama Latar Cendhani yang mempunyai makna filosofi menciptakan harapan akan lahirnya keteduhan dan kenyamanan bagi perekonomian warga.

Di bawah pengelolaan BUMDes dan Pokdarwis yang dipimpin Syarifuddin Miftah, regulasi dan tata kelola UMKM di Pasar Latar Cendhani diperketat demi menjaga kualitas dan keberlanjutan pasar. Regulasi dan tata Kelola itu meliputi uang yang digunakan untuk traksaksi menggunakan koin kayu. Untuk mendapatkan koin kayu ini, pengunjung terlebih dahulu melakukan penukaran di loket penukaran dengan nilai Rp2000 untuk satu koin. “Dengan alat pembelian dengan menggunakan koin kayu ini maka membawa kesan pasar Latar Cendhani adalah pasar tradisional lama. Tak hanya itu, pada pedagangnya juga menggunakan pakaian tradisional dari desa,” jelas Miftah.

Kemudian juga menerapkan regulasi dan tata Kelola Prinsip One District One Product (Satu Pedagang Satu Menu) untuk mencegah persaingan tidak sehat dan bentrok antartetangga, setiap pedagang diwajibkan menjual satu jenis kuliner yang berbeda dari pedagang lainnya.

Kemudian juga ada Gerakan Bebas Plastik (Eco-Friendly): Pengelola mengedukasi pedagang secara bertahap untuk meninggalkan wadah plastik. Saat ini, sekitar 90% operasional penyajian di pasar telah beralih menggunakan bahan ramah lingkungan atau tradisional.

”Karena memang masa modern kan sulit meninggalkan plastik. Jadi butuh edukasi pada pedagang-pedagang supaya bisa meninggalkan plastik. Jadi sekarang insyaAllah sekitar 90% meninggalkan plastik. Memang bisa terus 100% meninggalkan plastik,” kata Ketua Pokdarwis Syarifuddin Miftah.

Tak cukup sampai disitu, untuk kualitas menu-menu juga dilakukan Kurasi Rasa dan Sertifikasi Halal: Pengelola membentuk tim kurasi rasa (food testing) untuk memastikan standar kelayakan makanan. Selain itu, seluruh pedagang diwajibkan menjual masakan olahan sendiri (bukan hasil kulakan) serta difasilitasi dalam pengurusan sertifikasi halal.

"Selain itu kita mendampingi UMKM untuk mendapatkan sertifikat halal. Jadi beberapa juga sudah ada yang terbit sertifikatnya. Jadi kita dampingi bagaimana makanan yang layak dijual itu seperti apa. Jadi kita itu tim yang mengoreksi rasa. Jadi, ini kurang, sehingga yang layak dijual itu seperti ini," paparnya.

Hasil dari penataan yang konsisten ini berbuah manis. Jumlah pedagang kini telah berkembang menjadi 35 pelaku UMKM lokal dengan variasi jajanan tradisional yang makin beragam.  Dengan semakin beragamnya variasi, maka dilakukan pembentukan kluster-kluster penjualan: pertama ada kluster jajanan seperti jumbrek, lepet, emput, molen, reti goreng, nogosari, lemper, pentol, gapitan, siomay, kerupuk, srawut, pasung, limping, kolek, hingga kacang tunggak urapan; yang kedua ada kluster unjuk’an (minuman) seperti legen, wedang uwuh, sedang secang, dawet dengan aneka ragam isi, susu kedelai, dan minuman yang lainnya.

Kemudian ada kluster ketiga yaitu kluster dedaharan (makanan) yang meiputi nasi pecel, gado-gado, muduk (nasi khas desa Sendangduwur maupun Sendangagung) dengan berbagai pilihan toping, ada juga nasi karak, nasi jagung, dan berbagai menu makanan lainnya, kemudian juga anekan toping seperti berbagai sate, ikan laut, dan telur dadar.

 

Jumlah Pengunjung Meningkat, Omset Pedagang Melonjak

Hadirnya Pasar Latar Cendhani berlatar belakang pasar tradisional ini menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Untuk menjangkau Pasar Latar Cendhani termasuk mudah. Bagi pengunjung dari daerah daerah lain di kawasan Pantura  bisa menuju tempat wisata bahari Lamongan (WBL) kemudian perjalanan berlanjut menuju Desa Sendangduwur atau jalan ke Makam Sunan Sendang yang berjarak sekitar 3 kilo meter.

Untuk ke pasar trandisional ini juga harus tahu jadual bukanya, sebab tidak buka tiap hari, melaikan hanya sebulan sekali saja yaitu pada hari Minggu Legi (hari Jawa) yang pertama di setiap bulan. Sehingga bulan depan nanti akan buka pada hari Minggu Legi yang bertepatan tanggal 11 Oktober 2026.

Meski demikian, jumlah penjunjung terus meningkat bahkan bisa mencapai lebih dari 2.000 pengunjung. “Pasar Latar Cendhani kini konsisten menyedot lebih dari 1.000 pengunjung dalam sekali penyelenggaraan, pernah juga mencapai lebih dari 2.800 pengunjung. Jangkauan pengunjung tak lagi sebatas warga lokal, melainkan meluas hingga rombongan wisatawan dari Lamongan Kota, Kabupaten Gresik, dan sekitarnya,” tandas Miftah.

Ribuan penggunjung dari berbagai daerah ini berdampak pada terjadinya lonjakan omset para pedagang, sehingga ekonomi yang dirasakan para pedagang pun melonjak drastis. Dari perputaran omset di awal pelaksanan pasar pada 2022, omset hanya berkisar Rp5 juta, kini omzet keseluruhan pedagang pada setiap gelaran (yang diadakan secara berkala di hari Minggu Legi) mampu menyentuh Rp50 juta hingga Rp60 juta.

"Ya alhamdulillah, tingkat penghasilannya itu  setiap bulan kan meningkat. Ya mungkin kalau dibuat untuk biaya hidup 1 bulan mungkin ya enggak cukup, tapi kan sudah ada peningkatan lah. Dari di setiap momen setiap bulan itu pasti ada peningkatan penjualan," sambung Kades Barrur.

Peningkatan penjualan tidak hanya terjadi saat pelaksanaan Pasar Latar Cendhani saja, namun juga berdampak pada hari-hari lainnya. Sebab banyak juga permintaan jajanan tradisional yang langsung ke pedagang di luar hari bukanya Latar Cendhani. “Mereka menghubungi dan ada juga yang datang langsung ke rumah pedagang untuk beli dan pesan jajanan tradisional seperti di Pasar Latar Cendhani,. Bahkan pesanan ada juga dari warga daerah lain,” kata Barrur.

Siti Enifah, penjual jajanan Jumbrek juga pernah mendapatkan pesanan. Dia mengatakan Jumbrek yang merupakan jajanan khas kawasan Paciran ini mulai banyak dikenal dan disukai warga daerah lain. “Penjualannya lumayan, ada juga orang dari luar desa yang pesan dengan jumlah yang lumayan. Ya dengan banyaknya pengunjung dari daerah lain, maka jajanan tradisional di sini juga dikenal daerah lain,” kata Enifah.

Pertunjukan hiburan untuk menarik perhatian pengunjung pasar Latar Cendhani.
Pertunjukan hiburan untuk menarik perhatian pengunjung pasar Latar Cendhani.

Inovasi Menjaga Kunjungan Pengunjung

Ketua Pokdarwis Syarifuddin Miftah dan Kades Barrur Rohim menyadari bahwa konsistensi adalah kunci agar pasar tidak sepi seiring berjalannya waktu. Berbagai langkah strategis terus diterapkan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan angka kunjungan pasar Latar Cendhani.

“Kami melakukan Promosi Digital Tim "Dekdok" yaitu Pembentukan tim Dekorasi dan Dokumentasi khusus yang bertugas melakukan pemasaran masif di media sosial sebelum dan saat hari gelaran pasar,” kata Barrur.

Tak hanya itu, dalam pasar Latar Cendhani juga menghadirkan atraksi budaya dan hiburan dengan menampilkan pertunjukan seni tradisional dan hiburan secara berkala untuk memperkuat nuansa wisata keluarga. Bahkan dalam pertunjukan dan hiburan itu juga melibatkan pengunjung sehingga mereka merasa ikut dan menjadi bagian dari Latar Cendhani.

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas menu yang diperdagangkan di pasar Latar Cendhani, juga ada pendataan transparan dan evaluasi. “Setiap pedagang diwajibkan mendata (melis) ketersediaan menu sebelum hari-H. Sementara itu, angka pasti pengunjung selalu direkap dan dievaluasi secara akurat dari data retribusi parkir dan pengamatan arus pengunjung di lapangan,” kata Miftah.

Melalui sinergi erat antara kepemimpinan desa, pemuda, dan semangat para ibu-ibu pedagang, Pasar Latar Cendhani di Sendangduwur kini menjelma dari sekadar pasar kaget di pinggir jalan menjadi ikon ekonomi kreatif berbasis tradisi yang terbukti menghidupkan kesejahteraan warga. (*)

 

Reporter: Lutfiyu Handi
Editor: Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.