23 September 2026

Get In Touch

Pameran FJTT 2026 Angkat Sosok Pengrajin dan Sisi Lain Seni Jaranan

Pengunjung mengamati beragam karya jaranan yang dipamerkan dalam Pameran FJTT 2026 di Pendapa Manggala Praja Nugraha Trenggalek. Pameran menampilkan karya pengrajin sekaligus mengenalkan kekhasan seni jaranan dari berbagai perspektif.
Pengunjung mengamati beragam karya jaranan yang dipamerkan dalam Pameran FJTT 2026 di Pendapa Manggala Praja Nugraha Trenggalek. Pameran menampilkan karya pengrajin sekaligus mengenalkan kekhasan seni jaranan dari berbagai perspektif.

TRENGGALEK (Lentera) – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan jaranan, tetapi juga mengajak masyarakat mengenal lebih dekat sosok pengrajin dan seniman di balik lahirnya berbagai karya jaranan. Konsep tersebut dihadirkan melalui pameran yang berlangsung di Pendapa Manggala Praja Nugraha Trenggalek pada 20–26 September 2026.

Pameran FJTT tahun ini memiliki pendekatan berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Jika sebelumnya lebih banyak menampilkan artefak lama sebagai objek pameran, kali ini tim kurator berupaya mengangkat cerita, karakter, serta kekhasan para pengrajin dan seniman jaranan.

Saga Tanjung, salah satu tim pameran FJTT, mengatakan pendekatan tersebut dilakukan untuk mengubah cara pandang masyarakat yang selama ini lebih sering mengidentifikasi karya jaranan berdasarkan daerah asalnya.

"Tahun ini kita lebih mengusung kepada beberapa pengrajin. Kebanyakan masyarakat mengidentifikasi barongan berdasarkan kedaerahan, misalnya barongan gaya Kedirian atau gaya Tulungagungan. Padahal, kami ingin mengenalkan bahwa barongan juga memiliki kekhasan dari pengrajinnya masing-masing," ujar Saga.

Menurutnya, penyebutan gaya berdasarkan daerah terkadang membuat sosok seniman atau pengrajin yang menghasilkan karya tersebut justru kurang terlihat. Karena itu, pameran FJTT 2026 mencoba mengarahkan perhatian pengunjung kepada karakter personal para pembuat karya.

Salah satu temuan yang diangkat dalam pameran adalah Sanggar Jampi Kudo Tri Lestari. Kelompok tersebut dinilai memiliki keunikan karena masih memanfaatkan material alam dalam pembuatan sejumlah perlengkapan jaranan.

"Kami menemukan Sanggar Jampi Kudo Tri Lestari yang menggunakan pecut dari bambu dan material-material alam. Bahannya dicari sendiri kemudian dibuat sendiri, sehingga menjadi salah satu ciri khas yang unik," jelas Saga.

Selain aspek ekologis, pameran juga mengangkat perubahan perspektif terhadap kesenian jaranan melalui keterlibatan perempuan. Salah satunya ditunjukkan melalui aktivitas Sanggar Mayangsari yang melibatkan ibu-ibu PKK.

Saga menjelaskan, keterlibatan tersebut turut menghadirkan warna baru dalam perkembangan kesenian jaranan. Kesenian yang sebelumnya kerap dipersepsikan menyeramkan atau lebih identik dengan laki-laki mulai diperkenalkan dalam bentuk yang lebih terbuka dan dapat dinikmati berbagai kalangan.

"Di Sanggar Mayangsari, kami menemukan adanya peran ibu-ibu PKK yang mengubah perspektif negatif tentang jaranan yang dianggap menyeramkan dan hanya bisa dinikmati laki-laki. Mereka hadir dengan warna baru agar jaranan bisa dinikmati siapa pun dan lebih inklusif," katanya.

Berbagai temuan tersebut diperoleh melalui proses riset yang dilakukan tim pameran selama kurang lebih 1 bulan. Tim berkeliling untuk menemukan kelompok-kelompok jaranan yang memiliki cerita, karakter, maupun kekhasan yang menarik untuk diangkat.

"Kurang lebih 1 bulan kami melakukan riset keliling. Ada banyak grup yang kami temukan, kemudian kami pilih dan kurasi. Akhirnya Sanggar Jampi Kudo Tri Lestari dan Mayangsari yang kami highlight dalam pameran ini," tutur Saga.

Ia menyebut konsep tersebut sekaligus menjadi pembeda utama dengan pameran pada tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan sebelumnya, fokus pameran lebih banyak diarahkan pada keberadaan artefak lama seperti barongan maupun eblek.

"Tahun sebelumnya kami lebih banyak menampilkan temuan artefak, misalnya barongan atau eblek yang sudah lama. Sekarang kami mencoba menghadirkan variasi yang lebih banyak, termasuk pada eblek Turangga Yakso," ungkapnya.

Melalui pameran tersebut, pengunjung diharapkan tidak hanya melihat jaranan sebagai kesenian berdasarkan label daerah. Lebih jauh, masyarakat diajak mengenali karakter setiap seniman melalui karya yang mereka hasilkan.

"Kami ingin pengunjung sadar bahwa kita sebaiknya lebih melihat pengrajin ataupun senimannya daripada menyebut jaranan berdasarkan nama kedaerahan. Setiap seniman atau pengrajin pasti memiliki ciri khusus dan kekhasannya sendiri yang bisa dilihat melalui karya-karya mereka," kata Saga.

Pendekatan tersebut mendapat perhatian dari pengunjung pameran. Thalia Silfiana menilai pameran FJTT 2026 memberikan pengalaman berbeda karena tidak hanya menampilkan jaranan sebagai artefak atau bagian dari pertunjukan.

"Menurut saya cukup menarik karena di sini tidak hanya melihat jaranan sebagai artefak, tradisi, atau pertunjukan. Ada banyak elemen visual yang bisa ditampilkan dan jarang dilihat oleh orang-orang," ujar Thalia.

Ia juga tertarik dengan keberadaan jaranan Jampi yang menurutnya memiliki karakter berbeda karena menampilkan beberapa jenis jaranan dalam satu pertunjukan.

"Jaranan Jampi menurut saya unik karena ada tiga jenis jaranan sekaligus dan harus dipentaskan secara bersamaan. Misalnya dalam sebuah tanggapan, ketiganya harus dimainkan," katanya.

Bagi Thalia, keberadaan pameran seperti ini juga menjadi perkembangan penting dalam upaya mengenalkan sejarah dan berbagai sisi kesenian jaranan kepada masyarakat. Ia menyebut pameran serupa baru mulai terlihat dalam penyelenggaraan FJTT beberapa tahun terakhir.

"Kalau dari sisi sejarah, setahu saya seperti tahun kemarin baru ada pameran. Sebelumnya memang tidak pernah ada dan lebih banyak hanya ditampilkan dalam pertunjukan atau lomba," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.