SURABAYA ( LENTERA ) - Kopi Gayo kembali mendapat sorotan di panggung kopi dunia. Produk Gayo Kopi varian Kopi Luwak atau Wild Civet Coffee memperoleh skor 4,9 dari 5 dalam daftar kopi terbaik dunia versi TasteAtlas 2026.
Dalam daftar yang diperbarui pada 9 September 2026 itu, Gayo Kopi berada di peringkat ke-11 dunia. Skornya menyamai sejumlah kopi premium dari berbagai negara, sementara posisi teratas ditempati Hacienda La Esmeralda Panama Geisha dari Panama dengan skor 5,0.
Capaian tersebut sekaligus menempatkan Gayo Kopi sebagai produk kopi Indonesia dengan penilaian tertinggi dalam daftar TasteAtlas. Namun, ada hal yang perlu diperjelas. Predikat tersebut tidak berarti seluruh kopi Gayo secara otomatis dinobatkan sebagai kopi terbaik dunia.
TasteAtlas secara spesifik mencantumkan Gayo Kopi – Kopi Luwak, yang disebut menggunakan biji kopi dari Dataran Tinggi Gayo dan diperoleh melalui proses yang melibatkan luwak liar. TasteAtlas menempatkannya di posisi pertama dalam daftar kopi Indonesia.
Meski demikian, penghargaan tersebut kembali memperlihatkan bagaimana kopi dari dataran tinggi Aceh memiliki karakter yang kuat di pasar specialty coffee.
Tumbuh di Dataran Tinggi
Kopi Gayo merujuk pada kopi Arabika yang dibudidayakan di kawasan Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Wilayah produksinya antara lain Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
Kondisi geografis menjadi salah satu alasan mengapa kopi dari kawasan ini mempunyai karakter cita rasa yang berbeda.
Penelitian mengenai Kopi Arabika Gayo dengan indikasi geografis menunjukkan bahwa ketinggian tempat berpengaruh terhadap karakter fisik dan cita rasa biji. Penelitian yang dilakukan di Aceh Tengah dan Bener Meriah pada ketinggian 1.000-1.500 meter serta 1.500-1.750 meter di atas permukaan laut menemukan profil cita rasa dengan skor 82,75-85,25 dan masuk kategori specialty coffee. Pada lokasi yang lebih tinggi, kualitas fisik dan cita rasa secara umum juga lebih baik.
Kondisi pegunungan membuat buah kopi tumbuh dalam lingkungan yang relatif sejuk. Proses pematangan yang lebih lambat dapat membantu pembentukan senyawa yang berkontribusi terhadap karakter rasa dan aroma kopi.
Karena itu, ketika berbicara tentang keistimewaan Kopi Gayo, faktor geografis tidak bisa dipisahkan dari cita rasa yang dihasilkan.
Karakter Rasa Khas
Kopi Gayo dikenal memiliki karakter yang berbeda dengan sejumlah kopi Arabika lainnya. Profil yang sering muncul antara lain body yang kuat, keasaman relatif rendah, rasa manis, nuansa nutty, rempah, serta sentuhan cokelat dan herbal, bergantung pada varietas, ketinggian dan metode pengolahannya.
Karakter tersebut membuat kopi Gayo cukup fleksibel untuk dinikmati sebagai single origin maupun digunakan dalam campuran atau house blend.
Dalam dunia specialty coffee, rasa bukan hanya ditentukan oleh jenis tanaman. Lingkungan tempat kopi tumbuh, cara buah dipanen, proses setelah panen hingga metode sangrai dan penyeduhan ikut menentukan hasil akhir dalam cangkir.
Itulah sebabnya dua kopi yang sama-sama berasal dari Gayo belum tentu mempunyai profil rasa identik.
Ketinggian memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
Varietas tanaman, kondisi tanah, iklim, proses panen, fermentasi, pengeringan dan metode pengolahan dapat mengubah karakter biji secara signifikan.
Dalam pengolahan kopi Gayo, salah satu metode yang terkenal adalah wet hulling atau giling basah. Metode ini merupakan bagian dari tradisi pengolahan kopi di Sumatera dan berkontribusi terhadap karakter body serta tingkat keasaman yang khas.
Metode pengolahan yang berbeda juga dapat menghasilkan pengalaman rasa berbeda. Kopi Gayo yang diproses secara natural, washed, honey maupun metode eksperimental dapat menampilkan aroma dan rasa yang tidak sama meskipun berasal dari kawasan yang berdekatan.
Produk yang mendapat skor 4,9 di TasteAtlas adalah Gayo Kopi varian Kopi Luwak. Dalam penjelasannya, TasteAtlas menyebut biji tersebut berasal dari Dataran Tinggi Gayo dan dikumpulkan dari luwak liar yang secara alami memilih dan memakan buah kopi. Produsen yang dicantumkan TasteAtlas juga menekankan konsep luwak liar dan tidak dikandangkan.
Kopi luwak sendiri memiliki proses yang berbeda dibandingkan kopi biasa. Buah kopi dimakan luwak, kemudian bijinya melewati saluran pencernaan sebelum dikeluarkan. Biji selanjutnya dikumpulkan, dibersihkan, dikeringkan dan diproses menjadi kopi.
Proses tersebut diyakini dapat memengaruhi karakter rasa, meskipun kualitas akhirnya tetap sangat bergantung pada bahan baku, kebersihan, pengolahan dan penanganan pascapanen.
Karena itu, istilah “Kopi Gayo” dan “Kopi Luwak Gayo” sebaiknya tidak digunakan secara bergantian. Kopi Arabika Gayo merupakan kategori kopi berdasarkan asal dan karakter geografis, sedangkan produk yang dinilai TasteAtlas dalam daftar tersebut adalah Gayo Kopi – Kopi Luwak.(far,ist/dya)



.jpg)

Post a comment