SURABAYA ( LENTERA ) - Suara ulekan beradu dengan cobek masih menjadi bagian dari aktivitas dapur banyak keluarga Indonesia. Di tengah semakin banyaknya blender dan alat penghalus bumbu elektrik, cobek tetap dicari karena dianggap menghasilkan tekstur bumbu yang khas dan membuat aroma rempah lebih terasa.
Cobek bukan sekadar peralatan dapur. Dalam tradisi kuliner Nusantara, alat ini digunakan untuk menghaluskan cabai, bawang, rempah, hingga berbagai bahan sambal. Di sejumlah daerah, cobek bahkan menjadi bagian dari tradisi memasak yang diwariskan antargenerasi.
Dalam bahasa Inggris, cobek dan ulekan dikenal sebagai mortar and pestle. Museum Anacostia Community Museum Smithsonian, misalnya, mencatat salah satu cobek dan ulekan Indonesia dalam koleksinya sebagai peralatan berbahan granit alami yang digunakan untuk membuat bumbu atau pasta rempah.
Di Indonesia sendiri, cobek umumnya dibuat dari batu alam, termasuk batu andesit. Peralatan ini dikenal kuat dan tahan lama. Penggunaan cobek batu juga masih bertahan di rumah tangga maupun warung makan karena proses mengulek memungkinkan pengguna mengatur sendiri tingkat kehalusan bumbu.
Namun, pembeli perlu berhati-hati. Tidak semua cobek yang tampak seperti batu benar-benar dibuat dari batu alam. Di pasaran terdapat cobek berbahan semen yang dibentuk menyerupai cobek batu.Karena itu, sebelum membeli, ada beberapa pemeriksaan sederhana yang bisa dilakukan.
Jangan terkecoh warna hitam pekat
Cara pertama adalah memperhatikan warna cobek. Cobek batu asli umumnya memiliki warna abu-abu alami. Sebaliknya, cobek berbahan semen dapat dibuat lebih gelap dan bahkan diberi pewarna agar tampil menyerupai batu.
"Kalau cobek semen awalnya berwarna hitam gitu kan, yang saya tahu ada yang cerita, cobek semen cor itu juga ada yang ditambah zat pewarna biar hitam, tetapi lama-lama digunakan akan luntur," ujar Giswari.
Warna hitam pekat tidak otomatis menunjukkan kualitas cobek. Sejumlah panduan konsumen yang pernah dimuat media nasional juga menyebut warna abu-abu alami sebagai salah satu ciri yang patut diperhatikan ketika memilih cobek batu.
Raba permukaannya
Setelah melihat warna, jangan ragu menyentuh permukaan cobek. Menurut Giswari, cobek batu yang bagus biasanya terasa padat dan halus, tetapi tetap memiliki pori-pori pada permukaannya.
Tekstur tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa material yang digunakan merupakan batu alami. Dengan merabanya, pembeli juga dapat mengetahui apakah permukaan cobek terlalu kasar, rapuh, atau justru terasa seperti material cor.
Karakter permukaan batu memang dapat berbeda-beda bergantung jenis materialnya. Sejumlah sumber mengenai cobek batu di Indonesia menyebut batu andesit dan batu alam lainnya digunakan karena karakter keras, padat, serta memiliki tekstur alami yang sesuai untuk menghaluskan bumbu.
Rasakan bobotnya
Cara berikutnya paling sederhana: angkat cobek.
Corporate Chef Parador Hotel & Resorts Gatot Susanto mengatakan, jenis dan berat batu yang digunakan untuk membuat cobek memang bisa beragam. Namun, cobek batu yang bagus biasanya terasa lebih berat ketika diangkat.
Sebaliknya, cobek berbahan semen cenderung terasa lebih ringan dibandingkan cobek batu asli dengan ukuran serupa.
"Ulekannya (cobek semen) juga biasanya mudah tergores karena gak keras, memang pembuatan biasanya lebih praktis, gak dipahat kayak cobek batu," kata Gatot.
Karena itu, ketika membeli di pasar atau toko peralatan dapur, pembeli dapat membandingkan beberapa cobek dengan ukuran yang relatif sama. Bobot dan kepadatan material bisa menjadi salah satu pertimbangan, meski tidak sebaiknya dijadikan satu-satunya penentu keaslian.
Cium aromanya
Pemeriksaan berikutnya mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat dilakukan langsung di tempat pembelian: mencium cobek.
Menurut Giswari, cobek batu asli memiliki aroma seperti batu pada umumnya dan tidak mengeluarkan bau menyengat.
Cara ini dapat menjadi pemeriksaan tambahan apabila cobek mengeluarkan aroma bahan tertentu yang cukup kuat. Namun, pembeli tetap sebaiknya menggabungkan pemeriksaan aroma dengan warna, tekstur dan bobot sebelum memutuskan membeli.
Tak harus direndam
Selama ini ada anggapan cobek batu harus direndam untuk mengetahui keasliannya. Padahal, cara tersebut sebenarnya hanya pemeriksaan tambahan dan tidak wajib dilakukan ketika membeli.
Cobek batu yang memiliki pori-pori dapat menyerap air. Ketika direndam dalam baskom berisi air, cobek batu asli yang berpori dapat mengeluarkan gelembung udara.
Namun, pembeli tidak perlu membawa baskom ke pasar. Empat pemeriksaan awal, mulai dari warna, permukaan, bobot dan aroma, sudah dapat dilakukan secara langsung.
Yang juga perlu diingat, munculnya gelembung saat direndam bukan tes tunggal yang secara pasti membuktikan bahwa sebuah cobek terbuat dari batu alam. Karakter batu berbeda-beda, sehingga pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh.
Jangan langsung dipakai
Setelah menemukan cobek batu yang sesuai, pekerjaan belum selesai. Cobek baru sebaiknya tidak langsung digunakan untuk mengulek sambal atau bumbu.
Permukaannya perlu dibersihkan terlebih dahulu untuk menghilangkan debu maupun sisa material yang mungkin masih menempel dari proses pemahatan dan pembuatannya.
Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah ampas kelapa. Caranya cukup sederhana. Letakkan ampas kelapa di atas cobek, kemudian ulek hingga seluruh permukaan cobek tergosok.
Proses tersebut dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali sampai cobek benar-benar bersih. Setelah itu, cobek dicuci hingga bersih sebelum digunakan untuk menghaluskan bumbu.
Membersihkan cobek baru juga penting karena permukaan batu yang bertekstur dapat menahan partikel dari proses produksi. Prinsip dasarnya sama seperti peralatan dapur baru lainnya: bersihkan sebelum digunakan untuk mengolah makanan.
Bertahannya cobek di dapur modern menunjukkan bahwa alat tradisional ini memiliki fungsi yang lebih dari sekadar menggantikan blender.
Dalam proses mengulek, bahan tidak hanya dihancurkan, tetapi juga digerus dan dicampur secara manual. Teknik tersebut memungkinkan tekstur akhir bumbu diatur sesuai kebutuhan. Indonesian Chef Association juga menyebut cobek dan ulekan membantu pengguna mengatur tekstur bumbu, sementara bahan batu dinilai kokoh untuk proses pengulekan.
Teknik serupa juga ditemukan dalam tradisi kuliner berbagai negara. Mortar and pestle digunakan secara luas untuk menghaluskan rempah, biji-bijian dan bahan makanan. Di Indonesia, penggunaannya sangat lekat dengan pembuatan sambal dan bumbu masakan.
Bahkan, koleksi Smithsonian mencatat cobek dan ulekan Indonesia berbahan granit alami sebagai peralatan yang digunakan untuk membuat pasta rempah dan bumbu masakan.
Karena itu, ketika memilih cobek, konsumen tidak cukup hanya melihat bentuk dan harga. Pastikan materialnya, rasakan permukaannya, bandingkan bobotnya dan cium aromanya.
Cobek batu yang tepat bukan hanya bisa menjadi peralatan dapur yang awet, tetapi juga mempertahankan cara mengolah bumbu yang telah lama menjadi bagian dari cita rasa kuliner Indonesia.(far,ist/dya)



.jpg)

Post a comment