SURABAYA ( LENTERA ) - Awalnya hanya ingin menonton satu video. Namun, setelah satu video selesai, layar otomatis menampilkan video berikutnya. Jempol kembali menggulir layar, lalu muncul video lain yang tak kalah menarik.
Tanpa terasa, beberapa menit berubah menjadi setengah jam atau bahkan lebih.
Kebiasaan mengonsumsi video berdurasi beberapa detik hingga beberapa menit seperti di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Formatnya memang dirancang singkat, mudah dikonsumsi, dan terus mengalir melalui sistem endless scrolling.
Di balik kemudahannya, para peneliti mulai memperhatikan konsekuensi penggunaan video pendek secara berlebihan terhadap fungsi kognitif dan kesehatan mental.
Fenomena penggunaan video pendek yang sudah sulit dikendalikan bahkan mulai disebut sebagai Short Video Addiction (SVA) atau kecanduan video pendek.
Video pendek merupakan konten audiovisual dengan durasi mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit. Format tersebut populer karena memungkinkan pengguna mendapatkan informasi atau hiburan secara cepat.
Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi menggunakan video pendek sekadar sebagai hiburan, tetapi merasa sulit berhenti meski sebenarnya ingin melakukan aktivitas lain.
Dalam kondisi seperti itu, pengguna dapat terus berpindah dari satu video ke video berikutnya karena selalu ada konten baru yang tersedia.
Salah satu karakteristik utama video pendek adalah pergantian konten yang sangat cepat.
Satu video selesai, video berikutnya langsung tersedia. Pengguna tidak perlu mencari konten baru secara manual. Sistem rekomendasi menyediakan aliran konten yang hampir tidak memiliki titik akhir.
Penelitian mengenai perilaku pengguna TikTok yang menganalisis data dari 347 pengguna dan sekitar 9,2 juta rekomendasi video menunjukkan bagaimana sistem rekomendasi menjadi bagian penting dari pengalaman konsumsi video pendek.
Format tersebut memberikan rangsangan baru secara terus-menerus.
Dalam konteks kognitif, persoalannya bukan semata-mata durasi satu video. Pergantian konteks secara cepat dan terus-menerus juga menjadi perhatian para peneliti.
Sebuah eksperimen terhadap 60 partisipan menemukan bahwa kelompok yang menggunakan TikTok menunjukkan penurunan kinerja dalam tugas prospective memory, yakni kemampuan mengingat dan melaksanakan niat yang sebelumnya sudah direncanakan. Peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan kombinasi video pendek dan pergantian konteks yang cepat.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam International Journal of Adolescence and Youth pada 2026 menganalisis 23 penelitian mengenai kecanduan video pendek dan dampaknya terhadap fungsi kognitif pada remaja serta dewasa muda.
Para peneliti menemukan bahwa perhatian dan pengendalian diri merupakan dua fungsi kognitif yang paling konsisten berkaitan dengan SVA. Dampak lain yang dilaporkan mencakup masalah memori, pengambilan keputusan, bias kognitif negatif, loss aversion, dan keterlibatan kognitif.
Fokus Jadi yang Paling Terdampak
Salah satu masalah utama yang ditemukan adalah kemampuan mempertahankan perhatian.
Penggunaan video pendek secara adiktif dikaitkan dengan kemampuan yang lebih buruk untuk mempertahankan perhatian pada satu tugas sekaligus mengalihkan perhatian secara terkontrol ketika diperlukan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar seseorang mudah bosan ketika membaca buku atau mengerjakan tugas. Penggunaan yang bermasalah dapat berkaitan dengan kemampuan otak mengendalikan ke mana perhatian diarahkan.
Review tersebut menyebut terdapat hubungan rendah hingga sedang antara kontrol perhatian dan kecanduan video pendek. Pengguna yang mengalami SVA juga dilaporkan lebih mudah terdistraksi selama maupun setelah menonton video pendek.
Temuan itu diperkuat penelitian lain yang dimasukkan dalam review. Studi berbasis EEG yang dikutip peneliti menunjukkan adanya hubungan negatif antara kecanduan video pendek dan kontrol eksekutif, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan perhatian pada korteks prefrontal.
Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang menonton TikTok atau Reels otomatis mengalami kerusakan fungsi otak.
Sebagian besar penelitian yang tersedia masih bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.
Analisis Libatkan 100 Ribu Orang
Gambaran yang lebih luas datang dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Bulletin pada 2025.
Penelitian berjudul "Feeds, feelings, and focus: A systematic review and meta-analysis examining the cognitive and mental health correlates of short-form video use" menggabungkan hasil 71 studi dengan total 98.299 partisipan.
Hasil meta-analisis tersebut menunjukkan penggunaan video pendek yang lebih tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk, dengan ukuran efek rata-rata r = -0,34.
Hubungan paling kuat terlihat pada perhatian, dengan r = -0,38, dan inhibitory control atau kemampuan menghambat dorongan, dengan r = -0,41.
Penelitian itu juga menemukan hubungan antara penggunaan video pendek dan sejumlah indikator kesehatan mental, terutama stres dan kecemasan. Temuan tersebut terlihat pada kelompok usia muda maupun dewasa serta di berbagai platform video pendek.
Artinya, persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan Gen Z atau remaja. Kebiasaan mengonsumsi video pendek secara berlebihan juga menjadi perhatian pada kelompok usia dewasa.
Lakukan Pengendalian Diri
Menariknya, penelitian tidak hanya menemukan faktor risiko.
Systematic review 23 studi tersebut menunjukkan bahwa self-control atau pengendalian diri dapat menjadi faktor pelindung terhadap kecanduan video pendek.
Orang dengan kemampuan mengendalikan diri yang lebih kuat cenderung lebih mampu membatasi penggunaan. Sebaliknya, rendahnya pengendalian diri berkaitan dengan penggunaan berlebihan yang bersifat kompulsif, impulsivitas, dan masalah fokus.
Selain rendahnya pengendalian diri, peneliti juga mengidentifikasi impulsivitas, kebosanan, dan bias kognitif negatif sebagai faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap SVA.
Hal ini membuat hubungan antara pengguna dan platform menjadi lebih kompleks.
Bukan hanya soal berapa lama seseorang menggunakan aplikasi. Kondisi psikologis dan kemampuan mengatur perilaku juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan video pendek.
Teliti Imbas ke Memori
Perhatian bukan satu-satunya fungsi kognitif yang diteliti.
Systematic review 23 penelitian menemukan laporan mengenai gangguan pada working memory, pengambilan keputusan, bias kognitif negatif, dan beberapa aspek keterlibatan kognitif. Namun, bukti untuk domain-domain tersebut masih lebih terbatas dibandingkan bukti mengenai perhatian dan pengendalian diri.
Dalam studi terhadap mahasiswa, penggunaan video pendek yang bersifat adiktif dikaitkan dengan terganggunya pengambilan keputusan.
Salah satu penjelasannya adalah meningkatnya sensitivitas terhadap imbalan dan kecenderungan memilih kepuasan yang diperoleh segera.
Sederhananya, ketika otak terbiasa mendapatkan rangsangan baru dalam hitungan detik, aktivitas yang membutuhkan proses lebih panjang dapat terasa kurang menarik.
Membaca beberapa halaman buku, mengerjakan tugas, mengikuti kuliah, atau menyelesaikan satu pekerjaan tanpa membuka ponsel membutuhkan kemampuan mempertahankan perhatian dan menunda gratifikasi.
Temuan meta-analisis Psychological Bulletin memberikan gambaran yang lebih luas. Dari 71 studi dan 98.299 partisipan, penggunaan video pendek yang lebih tinggi berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, terutama stres dan kecemasan.
Karena penelitian tersebut merupakan meta-analisis terhadap studi yang sudah ada, hasilnya tetap harus dibaca sebagai hubungan atau korelasi, bukan bukti bahwa menonton video pendek secara langsung menyebabkan seseorang mengalami kecemasan atau gangguan mental.
Ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan.
Video pendek juga digunakan untuk pendidikan, kampanye politik, pemasaran, informasi kesehatan, dan pembelajaran. Bahkan penelitian mengenai desain video pendek untuk pendidikan menunjukkan format tersebut dapat meningkatkan keterlibatan dan hasil kuis dalam kondisi pembelajaran tertentu.
Jadi, persoalannya bukan sesederhana video pendek pasti buruk.Yang menjadi perhatian adalah pola penggunaan yang berlebihan, kompulsif, sulit dikendalikan, dan mengganggu aktivitas lain.
Meta-analisis Psychological Bulletin juga tidak menemukan hubungan penggunaan video pendek dengan citra tubuh atau harga diri.Artinya, dampak penggunaan video pendek tidak seragam pada semua aspek psikologis.(far,ist/dya)
Tips Mengurangi Kecanduan Video Pendek
Tentukan batas waktu harian
Jangan mengandalkan niat saja. Gunakan fitur screen time atau digital wellbeing untuk membatasi aplikasi video pendek, misalnya mulai dari 30–60 menit sehari.
Matikan notifikasi
Notifikasi membuat kita terus diingatkan untuk kembali membuka aplikasi. Mematikannya dapat mengurangi pemicu untuk scrolling secara spontan.
Jangan langsung membuka media sosial saat bangun tidur
Beri jeda 30–60 menit setelah bangun sebelum membuka TikTok, Reels, atau Shorts. Gunakan waktu tersebut untuk mandi, sarapan, olahraga ringan, atau aktivitas lain.
Hindari video pendek sebelum tidur
Buat aturan sederhana: tidak scrolling setidaknya 30–60 menit sebelum tidur. Selain mengurangi waktu layar, kebiasaan ini membantu menciptakan rutinitas tidur yang lebih tenang.
Gunakan prinsip “satu tujuan”
Jika membuka media sosial untuk mencari informasi tertentu, cari dan tutup aplikasinya setelah selesai. Jangan berpindah dari aktivitas mencari informasi menjadi endless scrolling.
Ganti dengan aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama
Cobalah membaca buku, berjalan kaki, memasak, menggambar, berolahraga, atau mengobrol langsung dengan orang lain. Tujuannya bukan menghilangkan hiburan, tetapi melatih kembali kemampuan bertahan pada satu aktivitas.
Buat area bebas ponsel
Misalnya meja makan, tempat tidur, ruang belajar, atau saat sedang berbicara dengan orang lain. Semakin banyak situasi tanpa ponsel, semakin kecil peluang scrolling menjadi kebiasaan otomatis.




.jpg)

Post a comment