MALANG (Lentera) - Kasus dugaan percobaan bunuh diri yang melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), RR (19), dengan melompat dari lantai 6 Gedung Fakultas Pertanian UB, Kamis (10/9/2026), turut diwarnai narasi soal tekanan akademik. Namun, FK UB membantah adanya tekanan tersebut dan menyebut perjalanan akademik RR selama ini justru dalam kondisi baik.
"Ada narasi-narasi yang dikaitkan dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKK2MABA) dan sebagainya. Itu yang kami telusuri, dan kami pastikan, kami juga sudah berkoordinasi dengan Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan, berita itu tidak benar," ujar Ketua Program Studi Kedokteran FK UB, dr. Hanif, M.Biomed, Sp.An, Jumat (11/9/2026).
Diketahui, narasi persoalan akademik, termasuk isu RR mengalami depresi karena tidak lulus PKK2MABA, muncul di media sosial Thread yang mengaitkan kejadian percobaan bunuh diri tersebut.
Hanif menjelaskan, RR yang merupakan mahasiswa semester 3 tersebut memang pernah tidak hadir dalam pelaksanaan PKK2MABA pada tahun angkatannya. Namun, ketidakhadiran itu telah diganti dan tidak membuat RR harus mengulang seluruh rangkaian PKK2MABA.
"Dan itu sudah clear, sudah selesai, yang bersangkutan dinyatakan lulus PKK2MABA, dan tidak ada kaitan apa pun dengan itu. Kami tidak melihat ada indikasi terkait dengan sesuatu dengan PKK2MABA," katanya.
Tak hanya menelusuri informasi terkait PKK2MABA, pihak FK UB juga mengecek kemungkinan adanya persoalan dalam perjalanan akademik RR.
Namun, Hanif menyebut tidak ditemukan adanya kesulitan akademik maupun tekanan dalam proses pendidikan mahasiswa tersebut. Menurutnya, prestasi dan kehadiran RR selama menjalani perkuliahan berada dalam kondisi baik.
Hanif bahkan menyebut RR memiliki IPK 3,8. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan RR bukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam pendidikan.
"Artinya dari sisi akademik, perjalanan akademik yang bersangkutan, prestasinya, kehadirannya, dan sebagainya itu semua dalam kondisi baik," ujarnya.
Ia juga menegaskan, pihak fakultas tidak menemukan adanya persoalan yang mengarah pada tekanan dari lingkungan akademik, baik dari kakak tingkat maupun dosen. "Maka kami optimistis, kami yakin dalam hal akademik, pendidikan, maupun kemahasiswaan yang bersangkutan tidak ada masalah," sambungnya.
Sementara terkait kemungkinan adanya persoalan lain di luar lingkungan akademik yang melatarbelakangi kejadian tersebut, Hanif mengatakan FK UB tidak berada pada posisi untuk menelusuri maupun menyampaikan hal tersebut.
"Di luar itu, kami mohon maaf kami rasa bukan wewenang kami untuk menyampaikan itu, dan kami berusaha untuk menjaga privasi baik dari yang bersangkutan maupun keluarga," katanya.
Adapun mengenai alasan RR berada di Gedung Fakultas Pertanian UB hingga kemudian diduga melompat dari lantai 6, Hanif menyebut hal tersebut merupakan bagian dari penyelidikan kepolisian. "Itu merupakan ranah penyelidikan pihak kepolisian. Saya rasa nanti dari kepolisian yang akan menyampaikan," katanya.
Pihak fakultas terus berkoordinasi dengan Rektorat, fakultas lainnya, serta Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk memantau perkembangan kondisi RR.
Hanif menyampaikan, RR telah menjalani serangkaian tindakan operasi yang dibutuhkan oleh tim medis RSSA dari berbagai spesialis pada Kamis (10/9/2026). Setelah menjalani operasi, RR masih menjalani perawatan lebih lanjut di ruang ICU RSSA. Hanif menyebut kondisi mahasiswa tersebut secara umum stabil.
"Kondisi secara umum dapat kami sampaikan dalam kondisi stabil. Tetapi karena saya bukan tim medis yang menangani di RSSA, maka saya tidak dapat menjawab secara detail," katanya.
Pihak keluarga RR juga telah hadir dan berkomunikasi dengan pihak kampus terkait langkah-langkah medis yang telah dilakukan maupun rencana penanganan selanjutnya.
Reporter: Santi Wahyu|Editor:Arifin BH




.jpg)

Post a comment