Insiden Kesehatan Mental Mahasiswa, DPRD Desak Kampus dan Pemkot Malang Perkuat Pencegahan
MALANG (Lentera) - Insiden darurat kesehatan mental yang melibatkan mahasiswa di Kota Malang menjadi perhatian DPRD setempat. Legislatif mendesak kampus bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyusun langkah pencegahan yang lebih komprehensif. Mulai dari penguatan pendampingan psikologis hingga penciptaan lingkungan kampus yang lebih aman dan suportif.
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang sekaligus Ketua Fraksi PKS, Asmualik, mengatakan munculnya sejumlah kasus tekanan psikologis di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa perantau, patut menjadi perhatian bersama.
"Bagi saya ini sudah cukup memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Saya yakin yang mengalami tekanan serupa tidak hanya mereka yang sudah menjadi korban, tetapi masih ada potensi mahasiswa lain yang menghadapi kerentanan yang sama," ujar Asmualik, dikonfirmasi Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, Kota Malang sebagai salah satu kota pendidikan perlu memastikan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah mendapatkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung kesehatan mental.
Lebih lanjut, Asmualik menyebut terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Salah satunya dengan mengevaluasi aspek keselamatan pada gedung-gedung tinggi di lingkungan kampus. Pengelola gedung, khususnya di lingkungan kampus, diminta menelaah kembali struktur dan sistem pengamanan bangunan untuk mempersempit akses ke area yang memiliki risiko keselamatan.
Namun, menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui pengamanan fisik.
Perguruan tinggi juga didorong menghidupkan kembali berbagai kegiatan positif bagi mahasiswa, termasuk kegiatan dan kajian keagamaan. Menurut Asmualik, penguatan aspek spiritual dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun ketahanan mental mahasiswa dalam menghadapi tekanan.
Selain itu, Pemkot Malang dan perguruan tinggi diminta memperkuat fasilitas olahraga maupun ruang rekreasi publik. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan tekanan secara positif di tengah tuntutan akademik dan kehidupan sosial.
"Sinergi antara perguruan tinggi dan Pemerintah Kota Malang ini penting untuk mereduksi tingkat stres mahasiswa, sekaligus memastikan Malang tetap menjadi lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi seluruh pelajar perantau," kata Asmualik.
Pandangan serupa disampaikan Anggota DPRD Kota Malang, Suryadi. Namun, ia menilai persoalan kesehatan mental mahasiswa tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperketat pengamanan pada lokasi-lokasi yang dianggap rawan.
"Percobaan bunuh diri bukan semata-mata soal tempat. Ketika satu lokasi sudah diperketat pengamanannya, tetapi kejadian serupa masih terjadi di tempat lain, maka kita perlu melihat persoalan yang lebih mendasar, yaitu apa yang sedang dialami mahasiswa," ujar Suryadi.
Karena itu, ia mendesak perguruan tinggi memperkuat sistem pendampingan kesehatan mental yang bersifat proaktif. Pendampingan, kata dia, perlu dilakukan sebelum mahasiswa berada pada kondisi krisis.
Suryadi juga mendorong Pemkot Malang membuka forum dialog bersama para rektor dan pimpinan perguruan tinggi se-Malang. Forum tersebut dinilai penting untuk menyusun pola pencegahan bersama, termasuk sistem deteksi dini dan mekanisme konseling yang aman serta bebas stigma.
Sebagai informasi, pada Kamis (10/9/2026), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UB berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 salah satu gedung di lingkungan kampus.
Mahasiswa semester 3 tersebut kini masih menjalani penanganan medis secara intensif di ruang ICU RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Mengutip dari berbagai sumber, insiden percobaan bunuh diri yang melibatkan mahasiswa di Kota Malang tercatat terjadi pada April 2025, November 2025, Januari 2026, Maret 2026, hingga September 2026.
Kondisi tersebut yang kemudian menjadi sorotan legislatif dan mendesak perlunya pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika mahasiswa telah berada dalam situasi krisis, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi



.jpg)

Post a comment