SURABAYA (Lentera) – Komisi E DPRD Jawa Timur menyoroti pengalihan sementara penyediaan makanan pasien RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang kepada pihak katering, setelah kebakaran melanda fasilitas Instalasi Gizi rumah sakit tersebut.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih mengingatkan manajemen RSSA agar memastikan makanan yang disediakan pihak ketiga tetap memenuhi standar gizi medis dan ketentuan pembiayaan pelayanan kesehatan, selama dapur rumah sakit belum kembali berfungsi.
"Karena memakai katering dari pihak ketiga, harus sangat hati-hati. Standar makanan rumah sakit dan luar rumah sakit itu berbeda, misalnya pada kandungan sodium. Selain itu, dari aspek harga juga harus disesuaikan dengan coverage BPJS," tegas Hikmah di Gedung DPRD Jatim, Kamis (10/o9/2026).
Menurut Hikmah, terganggunya fungsi Instalasi Gizi menjadi salah satu dampak paling krusial dari kebakaran. Pemenuhan konsumsi pasien terpaksa dialihkan sementara ke katering hingga fasilitas dapur dapat digunakan kembali.
"Dampak yang paling terasa memang aspek permakanan, sehingga terpaksa sebagian besar dikateringkan sambil menunggu dapur difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Ada ruang rawat anak yang sempat terdampak, tetapi segera dialihkan. Yang paling urgent saat ini adalah dapur, karena Instalasi Gizi menyangkut kebutuhan dasar pasien," terangnya.
Hikmah menilai, pengalihan konsumsi tidak dapat diperlakukan sama seperti penyediaan makanan umum. Kebutuhan pasien memiliki standar medis tertentu sehingga kandungan makanan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing pasien.
Selain aspek kualitas makanan, Hikmah juga menekankan, agar biaya penyediaan konsumsi melalui katering tetap memperhatikan cakupan pembiayaan BPJS. Hal tersebut diperlukan agar pengalihan sementara selama masa pemulihan fasilitas rumah sakit tidak menimbulkan persoalan baru dalam pelayanan pasien.
Sementara itu, mengenai kondisi fasilitas RSSA pascakebakaran, Hikmah mengatakan, kerusakan terjadi di Instalasi Gizi termasuk bagian dapur dan ketersediaan barang habis pakai. Investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran masih berlangsung.
"Sampai hari ini, hasil koordinasi kami dengan Direktur RSSA menunjukkan penyebab pastinya belum ditemukan. Namun kerusakannya berada di Instalasi Gizi, meliputi dapur dan ketersediaan barang habis pakai. Estimasi kerugian sekitar Rp900 juta. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka-luka,”tuturnya.
Ia juga menyoroti, aspek mitigasi keselamatan di rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan publik. Menurutnya, evaluasi diperlukan agar risiko serupa dapat diantisipasi, terutama karena rumah sakit merupakan tempat pelayanan dasar yang di dalamnya terdapat pasien dengan kondisi kesehatan yang beragam.
"Sekalipun belum terungkap penyebabnya, patut diduga mitigasi risiko kebakaran kurang diperhatikan. Ke depan, tempat layanan publik seperti ini sangat penting untuk betul-betul menjaga dan memitigasi risiko dari bencana apa pun," tegasnya.
"Ini public space dan layanannya adalah layanan dasar kesehatan. Ada pasien di situ, jadi penanganan mitigasi risikonya memang harus ekstra," tambah legislator dari Daerah Pemilihan Malang Raya tersebut.
Berdasarkan siaran pers resmi manajemen RSSA Malang, kebakaran di Dapur Gizi pertama kali terdeteksi pada pukul 14.50 WIB. Sistem tanggap darurat atau code red langsung diaktifkan dan api berhasil dipadamkan pada pukul 15.40 WIB setelah mendapat bantuan tujuh unit mobil Pemadam Kebakaran Kota Malang.
Luas area yang terbakar mencapai sekitar 300 meter persegi dengan estimasi kerugian sekitar Rp900 juta. Penyebab kebakaran masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang.
Manajemen RSSA memastikan, tidak ada korban jiwa maupun dampak langsung terhadap pasien. Setelah kepulan asap muncul, pasien di Ruang Rawat Inap Khusus Anak dipindahkan ke ruang yang lebih aman, sementara pasien di Ruang Rawat Inap Khusus Ibu/Wanita telah kembali ke ruang perawatan semula.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais



.jpg)

Post a comment