10 September 2026

Get In Touch

Bapanas Sidak di Kota Kediri, Pastikan Harga dan Mutu Beras Aman Terkendali

Bapanas RI didampingi tim Pemkot Kediri melakukan sidak ke swalayan dan pasar tradisional di Kota Kediri, Kamis (10/9/2026).
Bapanas RI didampingi tim Pemkot Kediri melakukan sidak ke swalayan dan pasar tradisional di Kota Kediri, Kamis (10/9/2026).

KEDIRI (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) menerima kunjungan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, untuk menggelar Pengawasan Harga dan Mutu Beras Tahun 2026, Kamis (10/9/2026). 

Kegiatan yang berlangsung di Pasar Setono Betek dan swalayan Hypermart tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Satgas Pangan Polres Kediri, serta Perum Bulog Kediri.

Adapun tujuan pelaksanaan pengawasan untuk memastikan stabilisasi harga, ketersediaan, mutu, serta kelancaran distribusi beras di Kota Kediri, khususnya di tingkat pedagang dan konsumen.

Analis Ketahanan Pangan Madya Bapanas RI, Asep Herdiana mengatakan hasil pengawasan menunjukkan kondisi penjualan beras di Kota Kediri dalam keadaan aman, baik dari sisi stok, harga, maupun arus distribusi, saat ini tidak ditemukan persoalan yang perlu dikhawatirkan.

“Setelah kita melihat dari sisi harga dan ketersediaan di Pasar Setono Betek dan Hypermart, stok, harga, dan arus distribusi aman. Untuk Harga Eceran Tertinggi (HET), semuanya masih dalam batas yang aman, baik beras SPHP maupun premium,” katanya.

Asep menambahkan, kondisi harga beras di Kota Kediri juga relatif terkendali dibandingkan dengan sejumlah daerah lain, yang mengalami kecenderungan peningkatan harga. Untuk beras premium, harga masih berada pada batas HET, yakni Rp14.900 per kilogram.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan yang dapat terjadi akibat faktor produksi maupun distribusi. Sebelumnya, keterbatasan stok sempat terjadi akibat musim kemarau yang berdampak pada penurunan hasil panen sehingga berpengaruh terhadap distribusi.

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, pemerintah telah menyiapkan berbagai intervensi, salah satunya melalui Gerakan Pasar Murah (GPM). Program tersebut dilakukan dengan menggandeng produsen beras untuk menyediakan komoditas dengan harga maksimal sesuai HET. 

“Kita harapkan di Kota Kediri tidak ada gejolak. Untuk bulan depan, dari sisi produksi dan ketersediaan masih cukup. Yang perlu kita lihat adalah distribusinya. Insyaallah tidak ada kelangkaan dan harganya tetap stabil,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Disperdagin Kota Kediri, Bagus Alit menuturkan pengawasan hari ini menyasar pedagang beras di Pasar Setono Betek dan swalayan Hypermart. Di Pasar Setono Betek, dari empat kios yang diperiksa, seluruhnya menunjukkan kondisi yang aman, baik dari sisi harga, kualitas, kemasan, maupun ketersediaan stok.

“Intinya hari ini kami melakukan sidak kepada pedagang pasar di Setono Betek. Ada empat kios yang kami cek dan hasilnya alhamdulillah aman. Dari sisi harga Rp14.900 per kilogram, kemudian kualitas dan kemasannya juga sudah dicek oleh Bapanas dan semuanya aman. Harga normal dan stok juga aman,” tuturnya.

Bagus menjelaskan, selain melakukan pengawasan secara langsung, Pemkot Kediri juga melakukan pemantauan harga secara rutin. 

Informasi perkembangan harga tersebut kemudian dipublikasikan melalui website Sistem Deteksi Dini Gejolak Harga Pangan (S-Degan) dan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok di Jawa Timur (Siska Perbapo). 

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh informasi harga pangan secara lebih mudah dan transparan.

“Kalau mulai ada gejolak harga, kami akan bekerja sama dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar murni (OPM). Jadi kami terus memantau agar harga tetap stabil dan kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah mengimbau, masyarakat untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau menimbun beras. Dengan kondisi stok yang masih aman dan distribusi yang terkendali, masyarakat diharapkan tetap berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan. 

“Imbauan kami kepada masyarakat, belanja dengan bijak dan jangan menimbun, karena stok beras saat ini masih aman,” pungkas Bagus.

Dari sisi pedagang, kondisi distribusi yang kembali lancar, turut membantu pedagang menjual beras sesuai dengan HET. 

Salah satu pedagang beras di Pasar Setono Betek, Sugeng mengatakan saat ini akses terhadap distributor beras berjalan dengan mudah, sehingga pedagang dapat memperoleh harga awal yang lebih terjangkau.

“Sekarang sudah bisa masuk ke distributor, jadi saya tidak membeli di toko-toko besar dan bisa mengikuti HET. Kulakan Rp74.000 per lima kilogram, saya jual Rp74.500 per lima kilogram atau sesuai HET,” kata Sugeng.

Ia mengaku, peran distributor yang memperpendek rantai distribusi sangat membantu pedagang. Sugeng juga menyampaikan bahwa saat ini baik beras premium maupun beras SPHP sama-sama diminati masyarakat, sementara stok di tokonya juga dalam kondisi cukup.

Ia berharap, pemerintah dapat mempertimbangkan kondisi pedagang dalam menetapkan HET, sehingga terdapat ruang keuntungan yang lebih baik bagi pedagang.

"Kelancaran jalur distribusi saat ini, memberikan dampak positif bagi pedagang," pungkasnya.

 

Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra

 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.