KERETA Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh melaju hingga 350 kilometer per jam. Namun, urusan membayar utangnya justru berjalan jauh lebih lambat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan utang proyek tersebut telah direstrukturisasi dengan tenor hingga 80 tahun alias 8 dekade, dengan cicilan sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawahnya per tahun. Persoalannya, tenor 80 tahun bukan muncul begitu saja. Proyek Whoosh dibangun dengan pinjaman besar dari China Development Bank (CDB). Dilaporkan pinjaman awal CDB sekitar US$4,5 miliar, atau sekitar Rp79,3 triliun. Utang ini semula memiliki tenor 40 tahun dan masa tenggang 10 tahun. Setelah negosiasi restrukturisasi pada 2025, tenor pinjaman diperpanjang dua kali lipat makin lama. Tenor sangat panjang juga menunjukkan besarnya persoalan finansial yang hendak diselesaikan. Sekadar gambaran kasar, jika angka Rp1 triliun per tahun maka selama 80 tahun, nilai pembayaran nominalnya mencapai sekitar Rp80 triliun. Pengalihan kendali proyek kepada pemerintah juga membuat persoalan utangnya semakin pelik. Artinya negara ikut menanggung beban. Meski demikian Purbaya mengklaim anggaran aman. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/09092026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)

Post a comment