SURABAYA ( LENTERA ) - Musim kemarau identik dengan cuaca panas, udara kering, dan berkurangnya genangan air. Namun, di tengah kondisi itu, nyamuk justru kerap terasa semakin banyak, terutama di dalam rumah.
Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan. Perubahan suhu dan pola keberadaan air memang dapat memengaruhi aktivitas, perkembangan, hingga siklus hidup nyamuk.
Secara umum, musim hujan memang lebih identik dengan ledakan populasi nyamuk karena banyaknya genangan yang dapat menjadi tempat berkembang biak. Air yang tertampung di berbagai wadah menjadi lingkungan ideal bagi telur nyamuk untuk menetas dan berkembang menjadi larva, pupa, lalu nyamuk dewasa.
Namun, ketika musim berganti menjadi lebih panas dan kering, bukan berarti nyamuk menghilang.
Justru, kondisi panas dapat membuat nyamuk menjadi lebih aktif. Ketika sumber air di lingkungan terbuka berkurang, nyamuk dapat mencari lokasi lain yang masih menyediakan tempat untuk bertelur, termasuk wadah-wadah air di sekitar rumah.
Asisten Profesor University of Toronto Mississauga yang mempelajari serangga, Rosalind Murray, menjelaskan bahwa kenaikan suhu membuat nyamuk keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai mencari lokasi untuk berkembang biak.
"Begitu cuaca menghangat, mereka terbang keluar dari area hibernasi mereka dan bertelur di mana pun mereka bisa," kata Murray, dikutip dari UTM Toronto.
Persoalannya tidak berhenti pada nyamuk dewasa. Suhu juga berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan nyamuk sejak masih berupa telur.
Dipercepat Suhu Hangat
Murray menjelaskan, telur nyamuk semakin cepat menetas ketika suhu menghangat. Perkembangan dari telur menuju nyamuk dewasa juga berlangsung jauh lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi.
Sebagai gambaran, pada suhu sekitar 10 derajat Celsius, perkembangan nyamuk dari telur hingga dewasa dapat memerlukan sekitar 40 hari. Sementara pada suhu di atas 25 derajat Celsius, proses tersebut dapat berlangsung hanya sekitar empat hari.
Artinya, peningkatan suhu dapat memangkas waktu yang diperlukan nyamuk untuk menyelesaikan satu siklus hidup.
Suhu yang lebih hangat juga meningkatkan metabolisme nyamuk. Namun, lama hidup nyamuk tetap berbeda-beda tergantung spesies dan kondisi lingkungannya.
"(Ini) tergantung pada spesiesnya, nyamuk hidup selama beberapa hari atau beberapa minggu," ujar Murray.
Temuan mengenai hubungan suhu dan perkembangan nyamuk sejalan dengan penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Suhu, kelembapan dan curah hujan merupakan sejumlah faktor lingkungan yang memengaruhi reproduksi, kelangsungan hidup, serta aktivitas nyamuk.
WHO juga menegaskan bahwa kenaikan suhu dapat mempercepat perkembangan populasi vektor dan, dalam kondisi tertentu, mempercepat perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk. Namun, efek suhu tidak selalu linear. Jika suhu menjadi terlalu tinggi dan kondisi terlalu kering, kelangsungan hidup nyamuk juga dapat menurun.
Dengan kata lain, anggapan bahwa "kemarau pasti membuat nyamuk berkurang" tidak sepenuhnya tepat.Yang berubah adalah tempat nyamuk berkembang biak, aktivitasnya, serta kondisi lingkungan yang menentukan keberhasilan siklus hidupnya.
Telur Aedes Tunggu Hujan
Ada satu kemampuan nyamuk tertentu yang membuat masalah ini menjadi lebih kompleks, khususnya pada Aedes aegypti, spesies yang dikenal sebagai salah satu vektor utama virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Peneliti entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, menjelaskan bahwa Aedes aegypti mampu bertahan dalam kondisi kering.
Nyamuk jenis ini memang lebih menyukai tempat dengan air relatif jernih untuk berkembang biak. Namun, telur yang telah diletakkan tidak serta-merta mati ketika air mengering.
"Telur nyamuk tahan akan kondisi kering sehingga, bila memasuki awal musim hujan, menciptakan genangan-genangan air yang memungkinkan telur tersebut melanjutkan siklus hidupnya," papar Awit.
"Sehingga seolah-olah penambahan populasi nyamuk makin tinggi dan serempak," imbuhnya.
Kemampuan tersebut membuat telur Aedes aegypti seperti memiliki strategi bertahan menghadapi periode kering. Telur dapat tetap berada di permukaan atau wadah yang sebelumnya pernah berisi air, lalu melanjutkan perkembangan ketika kembali terkena air.
WHO menyebut telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam kondisi sangat kering selama berbulan-bulan. Telur akan menetas setelah kembali bersentuhan dengan air. Karena itu, wadah yang tampak kering sekalipun tidak otomatis bebas dari telur nyamuk.
Penelitian lapangan yang dipublikasikan dalam literatur WHO bahkan menunjukkan kemampuan telur Aedes aegypti bertahan selama periode kering. Dalam salah satu penelitian di Tanzania, sebagian telur tetap bertahan setelah periode kering selama berbulan-bulan, terutama pada lokasi yang terlindung dari paparan langsung.
Karena itu, ketika hujan kembali turun, wadah yang sebelumnya terlihat tidak berbahaya dapat berubah menjadi tempat berkembang biak.
Siklusnya sederhana: telur bertahan dalam kondisi kering, air kembali tersedia, telur menetas, kemudian larva berkembang menjadi pupa dan akhirnya nyamuk dewasa.
Berkurangnya genangan di luar rumah tidak otomatis berarti tidak ada tempat berkembang biak.Nyamuk Aedes aegypti justru sangat dekat dengan kehidupan manusia. WHO mencatat spesies ini banyak berkembang di lingkungan perkotaan dan menggunakan wadah-wadah berisi air di dalam maupun sekitar rumah sebagai tempat bertelur.
Wadah tersebut bisa berupa ember, bak air, pot tanaman, tatakan pot, botol bekas, ban, kaleng, tempat penampungan air hingga berbagai benda yang mampu menampung sedikit air.
Kondisi kemarau juga dapat menciptakan perilaku baru di tingkat rumah tangga.
Ketika pasokan air berkurang, masyarakat cenderung menyimpan lebih banyak air dalam ember, drum, bak atau wadah lainnya. Jika wadah tersebut tidak ditutup dengan baik, penyimpanan air justru dapat menyediakan tempat baru bagi nyamuk untuk bertelur.
Pedoman pengendalian vektor WHO menyebut kelangkaan air pada musim kering dapat mendorong peningkatan penyimpanan air. Jika wadah penyimpanan tidak ditutup atau dikelola dengan benar, kondisi tersebut dapat menjadi sumber perkembangbiakan Aedes.
Jadi, bukan semata-mata karena "nyamuk menyukai kemarau".Ada kombinasi faktor yang bekerja: suhu yang meningkat, perubahan ketersediaan air, perilaku manusia dalam menyimpan air, serta kemampuan telur nyamuk bertahan dalam kondisi kering.
Kenaikan suhu global membuat persoalan ini tidak hanya menjadi masalah musiman.
Murray mengingatkan bahwa pemanasan global dapat meningkatkan peluang berkembangnya populasi nyamuk dan memperluas wilayah yang cocok bagi spesies tertentu.
Ia terutama menyoroti kemungkinan perpindahan spesies nyamuk tropis ke wilayah yang sebelumnya kurang sesuai bagi mereka.
"Kita semakin sering melihat spesies tropis ini bermigrasi ke utara," ungkapnya.
Spesies yang dimaksud termasuk nyamuk yang dapat menjadi vektor penyakit seperti demam berdarah, virus West Nile, dan Zika.
Temuan tersebut sejalan dengan perhatian WHO terhadap perubahan distribusi Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Perubahan iklim, urbanisasi, perjalanan manusia dan perubahan lingkungan dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan vektor penyakit memperluas wilayahnya.
Dalam pembaruan globalnya per Juni 2026, WHO menyebut dengue terutama ditularkan oleh Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua spesies tersebut berkembang baik di wilayah tropis dan subtropis, terutama kawasan perkotaan. WHO juga memasukkan perubahan iklim dan urbanisasi sebagai faktor yang meningkatkan lingkungan yang sesuai bagi nyamuk.
Beban penyakitnya pun tidak kecil. WHO mencatat lebih dari 14,6 juta kasus dengue dilaporkan sepanjang 2024, menjadikannya tahun dengan jumlah kasus dengue tertinggi yang pernah tercatat dalam satu tahun. Lebih dari 12.000 kematian terkait dengue juga dilaporkan pada tahun tersebut.
Kemarau justru menjadi waktu penting untuk mengendalikan sumber perkembangbiakan nyamuk.
Sebab, meskipun tidak banyak air yang terlihat, telur Aedes dapat bersembunyi di wadah yang pernah menjadi tempat perkembangbiakan. Ketika hujan turun dan air kembali menggenang, telur tersebut dapat melanjutkan siklus hidupnya.
WHO merekomendasikan pengendalian sumber perkembangbiakan atau source reduction sebagai salah satu cara utama mengurangi populasi Aedes. Prinsipnya sederhana: jangan memberi kesempatan telur, larva dan pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Wadah penampungan air perlu ditutup. Tempat yang dapat menampung air perlu dikosongkan dan dibersihkan secara rutin. Botol, kaleng, ban bekas serta benda-benda lain yang berpotensi menampung air juga perlu disingkirkan atau dikelola agar tidak menjadi tempat bertelur.
WHO merekomendasikan wadah penyimpanan air domestik dikosongkan, dibersihkan dan disikat setidaknya sekali dalam sepekan untuk menghilangkan telur yang menempel.
Langkah tersebut penting karena Aedes aegypti bukan hanya aktif di luar rumah. Nyamuk ini juga dapat beristirahat di tempat-tempat gelap di dalam rumah dan menggigit manusia pada siang hari.(far,ist/dya)



.jpg)

Post a comment