30 August 2026

Get In Touch

HP Terasa Bergetar Padahal Tak Ada Notif? Waspada Phantom Vibration Syndrome

HP Terasa Bergetar Padahal Tak Ada Notif? Waspada Phantom Vibration Syndrome

SURABAYA ( LENTERA ) - Pernah sedang berjalan, duduk, bekerja, atau bersantai lalu tiba-tiba merasa ponsel di saku celana bergetar? Refleks tangan pun langsung merogoh saku untuk mengecek layar. Namun, setelah ponsel dikeluarkan, ternyata tidak ada pesan, panggilan, maupun notifikasi baru.

Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena tersebut dikenal sebagai phantom vibration syndrome (PVS), yakni sensasi seolah-olah ponsel bergetar meski sebenarnya tidak ada getaran yang masuk.
Fenomena ini telah lama menarik perhatian peneliti karena cukup banyak dialami pengguna telepon seluler. Studi terhadap 290 mahasiswa sarjana di Amerika Serikat menemukan 89 persen responden pernah mengalami getaran ponsel semu. Rata-rata sensasi tersebut muncul sekitar dua minggu sekali. Meski demikian, hanya sebagian kecil yang menganggapnya mengganggu.

Dalam studi yang menjadi rujukan tersebut, sekitar 40 persen mahasiswa bahkan melaporkan mengalami sensasi getaran semu setidaknya sekali dalam sepekan. Artinya, pengalaman merasakan ponsel bergetar tanpa adanya notifikasi bukanlah kejadian yang langka di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin lekat dengan perangkat digital.

Psikolog dari California State University, Dr Larry Rosen, mengaitkan fenomena tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai kecemasan digital. Menurut dia, kebiasaan terus menunggu pesan, panggilan, atau interaksi di media sosial dapat membuat otak berada dalam kondisi selalu mengantisipasi kedatangan notifikasi.

"Tubuh kita selalu berada dalam kondisi menunggu dan mengantisipasi interaksi teknologi, yang biasanya berasal dari ponsel pintar," kata Larry, seperti dikutip Psychology Today.

Dalam kondisi tersebut, rangsangan fisik yang sebenarnya sangat sederhana bisa ditafsirkan secara berbeda oleh otak.

"Dengan kecemasan antisipatif tersebut, ketika kita mendapatkan stimulasi neurologis apa pun, misalnya celana yang bergesekan dengan kaki, kita dapat menafsirkannya melalui kecemasan tersebut sebagai, 'Oh, ponsel saya bergetar'," ujarnya.

Dengan kata lain, tidak selalu ada sesuatu yang salah dengan ponselnya. Bisa jadi, otak sudah begitu terbiasa menunggu sinyal dari perangkat tersebut sehingga rangsangan kecil dari tubuh atau pakaian terasa seperti notifikasi.

Istilah phantom vibration syndrome memang populer digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut. Namun, literatur ilmiah juga mengingatkan bahwa istilah "syndrome" tidak sepenuhnya tepat secara medis. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai pengalaman persepsi ketika seseorang merasa perangkatnya bergetar meskipun sebenarnya tidak. 

Fenomena serupa juga ditemukan pada kelompok pekerja kesehatan. Sebuah penelitian terhadap tenaga medis menemukan sekitar 68 persen responden pernah mengalami phantom vibration. Studi lain pada dokter muda bahkan menemukan prevalensi yang lebih tinggi. Pada penelitian terhadap mahasiswa kedokteran yang menjalani masa magang, 78,1 persen mengalami sensasi tersebut pada awal penelitian dan angkanya meningkat menjadi 95,9 persen setelah tiga bulan.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan membawa ponsel, mengaktifkan mode getar, serta tingginya intensitas komunikasi digital dapat menjadi bagian dari konteks munculnya sensasi tersebut.
Pada sebuah penelitian terhadap mahasiswa kedokteran, misalnya, 96 persen responden menggunakan fungsi getar pada ponsel. 

Sekitar 70 persen mengaku menerima rata-rata lebih dari 10 panggilan atau pesan setiap hari. Penelitian yang sama juga menemukan 59 persen peserta memiliki tingkat stres tinggi berdasarkan ukuran yang digunakan dalam studi tersebut. 

Masalahnya bukan semata-mata pada sensasi bergetar. Kebiasaan terus-menerus menunggu notifikasi juga dapat membuat perhatian seseorang semakin terikat pada perangkat.

Larry Rosen sebelumnya menjelaskan bahwa pengguna berat smartphone dapat mengalami peningkatan kecemasan ketika tidak dapat mengakses ponselnya. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai bagian dari kecemasan yang terbentuk akibat keterikatan dengan komunikasi elektronik, termasuk pesan dan media sosial. 

Dalam konteks inilah sensasi getaran palsu menjadi menarik. Ketika seseorang terbiasa segera memeriksa ponsel setiap kali ada rangsangan, otak seolah belajar bahwa sensasi tertentu dari area tubuh dekat saku berarti ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Padahal, rangsangan itu bisa saja berasal dari gesekan kain dengan kulit, gerakan tubuh, tekanan pakaian, atau sensasi kecil lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan ponsel.

Larry menilai kondisi tersebut membuat otak terus berada dalam keadaan waspada. Jika berlangsung terus-menerus, keadaan selalu siap merespons itu dapat menyulitkan seseorang untuk benar-benar berkonsentrasi maupun beristirahat.

Dikaitkan dengan Stres dan Tidur

Hubungan antara kebiasaan menggunakan smartphone dan sensasi getaran semu kembali diteliti dalam studi yang terbit pada 2026. Penelitian terhadap 553 mahasiswa tersebut menemukan 41,4 persen peserta melaporkan mengalami phantom vibration. Sebanyak 22 persen mengalaminya sesekali, sementara 5,4 persen mengaku mengalaminya secara sering.

Studi tersebut juga menemukan lebih dari separuh peserta, yakni 54,8 persen, melaporkan kelelahan dan kualitas tidur yang buruk. Penggunaan smartphone bermasalah berkaitan secara signifikan dengan gejala kecemasan dan gangguan tidur. Para peneliti juga menemukan pola penanganan yang banyak dilakukan mahasiswa, antara lain menjalankan digital detox, mengubah lingkungan agar lebih sedikit terpapar ponsel, serta membuat rutinitas harian yang membatasi penggunaan perangkat. 

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami getaran semu otomatis mengalami gangguan kecemasan atau kecanduan smartphone. Penelitian mengenai PVS masih berkembang dan sebagian studi menggunakan sampel terbatas, seperti mahasiswa atau tenaga kesehatan.

Kajian ilmiah sebelumnya juga menunjukkan prevalensi PVS sangat bervariasi, mulai sekitar 27,4 persen hingga 89 persen tergantung populasi dan metode penelitian. Karena itu, fenomena ini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai diagnosis gangguan mental. 

Bagaimana Menguranginya?

Jika sensasi ponsel bergetar tanpa notifikasi hanya sesekali muncul dan tidak mengganggu aktivitas, umumnya tidak perlu panik. Namun, bila terjadi berulang kali dan membuat seseorang terus-menerus mengecek ponsel, kebiasaan penggunaan perangkat mungkin perlu dievaluasi.

Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan. Salah satunya mengurangi waktu penggunaan ponsel dan tidak selalu membawanya di saku yang sama. Mematikan fungsi getar juga dapat membantu memutus keterkaitan antara sensasi tertentu di tubuh dan ekspektasi akan notifikasi. Langkah-langkah tersebut termasuk pendekatan yang disarankan dalam informasi klinis mengenai PVS.

Rosen juga menyarankan memberi otak jeda dari teknologi secara berkala. Aktivitas sederhana seperti berjalan di luar ruangan, bermeditasi, berolahraga, mendengarkan musik, membaca, atau berbicara langsung dengan orang lain dapat menjadi jeda dari paparan perangkat digital. Ia juga menyarankan komunikasi elektronik diperiksa secara terjadwal, bukan setiap kali muncul dorongan untuk mengecek ponsel.(far,ist/dya)
 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.