28 August 2026

Get In Touch

Hiu Jadi 'Sensor' Laut, Bantu Ilmuwan Prediksi Kekuatan Badai

Hiu Jadi 'Sensor' Laut, Bantu Ilmuwan Prediksi Kekuatan Badai

SURABAYA ( LENTERA ) - Selama ini hiu lebih sering dikenal sebagai predator laut yang membuat manusia waspada. Namun, di tangan para ilmuwan, hewan tersebut kini mendapat peran yang sama sekali berbeda: menjadi pengumpul data untuk membantu memprediksi seberapa kuat badai sebelum mencapai daratan.

Peneliti dari University of Delaware, Amerika Serikat, memasang perangkat elektronik berukuran kecil pada sirip punggung sejumlah hiu. Sensor itu memungkinkan para peneliti memperoleh informasi mengenai kondisi laut ketika hiu berenang dan menyelam.

Data tersebut kemudian dikirim melalui satelit untuk membantu memperbaiki model kelautan, atmosfer, iklim, hingga prakiraan intensitas badai.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya mencari cara baru untuk mengisi kekurangan data di wilayah laut yang sulit dipantau menggunakan perangkat konvensional. Reuters melaporkan, para ilmuwan berharap data yang dikumpulkan hiu dapat membantu memperkirakan potensi kekuatan badai sebelum menghantam pesisir. 

Mengapa Harus Hiu?

Pertanyaan itu mungkin muncul ketika satelit, kapal penelitian, pelampung laut, dan perangkat robotik sudah digunakan untuk mengamati kondisi laut.

Jawabannya ada pada kemampuan hiu bergerak secara alami di berbagai kedalaman dan wilayah laut.

Sensor yang digunakan disebut CTD, singkatan dari conductivity, temperature and depth. Perangkat tersebut mengukur konduktivitas listrik air yang berkaitan erat dengan salinitas, sekaligus mencatat suhu dan kedalaman air ketika hiu bergerak.

Ketika hiu naik mendekati permukaan, sensor dapat berkomunikasi dengan satelit dan mengirimkan data yang telah dikumpulkan. Dengan demikian, hiu pada dasarnya menjadi semacam "platform pengamatan laut" yang bergerak mengikuti pola alami hewan tersebut. 

Aaron Carlisle, peneliti utama sekaligus profesor di School of Marine Science and Policy University of Delaware, mengatakan penggunaan sensor pada hewan sebenarnya bukan hal baru dalam oseanografi. Teknologi serupa telah digunakan pada mamalia laut, termasuk anjing laut gajah di kawasan kutub yang minim pengamatan ilmiah.

Namun, hiu menawarkan peluang berbeda karena tersebar luas dan dapat menjangkau kawasan laut yang sulit dipantau secara rutin.
Selama ini, pemasangan tag pada hiu lebih banyak digunakan untuk mengetahui pergerakan, migrasi, dan habitatnya. Kini perangkat yang sama dikembangkan agar hewan tersebut sekaligus dapat membantu mengumpulkan data mengenai kondisi laut. 

Bagian paling penting dari penelitian ini adalah panas yang tersimpan di lapisan atas laut atau yang dikenal sebagai mixed layer.
Air laut yang hangat menyediakan energi bagi pembentukan dan penguatan badai tropis. Karena itu, mengetahui seberapa hangat lapisan laut dan seberapa dalam panas tersebut tersimpan menjadi salah satu informasi penting dalam memahami potensi intensifikasi badai.

"Warmer mixed layer equals stronger hurricane," kata Carlisle, seperti dikutip Reuters. 

Artinya, bukan sekadar suhu permukaan yang menjadi perhatian. Peneliti ingin mengetahui kondisi vertikal laut, termasuk perubahan suhu dan salinitas pada kedalaman tertentu.
Informasi tersebut penting karena kondisi laut di bawah jalur badai dapat berubah secara cepat. Data yang lebih rapat dan langsung dari dalam laut berpotensi melengkapi informasi yang diperoleh dari satelit dan pelampung.

University of Delaware menjelaskan, kawasan Mid-Atlantic Bight memiliki kondisi laut yang sangat dinamis secara termal. Data dari hiu diharapkan membantu mengisi celah pengamatan yang selama ini sulit ditutup dengan sistem konvensional. 

Empat Spesies Jadi Kandidat

Tidak sembarang hiu dapat dijadikan "sensor".
Para peneliti mencari spesies yang memiliki perilaku menyelam dan muncul ke permukaan yang sesuai untuk pengumpulan serta pengiriman data.

Beberapa kandidat yang menjadi perhatian di Atlantik Utara antara lain hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, serta hiu putih besar muda. Spesies yang relatif sering muncul ke permukaan dianggap lebih ideal karena sensor perlu mencapai permukaan agar dapat mengirim data melalui satelit. 

Penelitian University of Delaware juga bekerja sama dengan Mid-Atlantic Regional Association Coastal Ocean Observing System (MARACOOS) dan sejumlah mitra lain untuk mengintegrasikan data hewan ke sistem pengamatan laut yang sudah ada.

Proses pemasangan sensor dirancang agar berlangsung singkat.

Dalam ekspedisi penelitian, tim menangkap hiu menggunakan metode yang memungkinkan hewan tersebut diamankan untuk sementara. Setelah dilakukan pengukuran dan pemeriksaan kondisi, sensor dipasang pada sirip punggung sebelum hiu dilepaskan kembali.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya memasang sensor, tetapi memastikan perangkat mampu mengirimkan data ketika hiu muncul ke permukaan.

Matt Oliver dari University of Delaware mengatakan keberhasilan sensor mengirimkan data merupakan pencapaian penting karena perilaku hewan sangat bervariasi. Sensor harus cukup sering berada di atas permukaan agar dapat berkomunikasi dengan sistem penerima. 

Perangkat tersebut juga dirancang agar dapat terlepas setelah periode tertentu. Peneliti menggunakan material yang memungkinkan sensor terlepas dengan sendirinya sehingga hewan tidak harus ditangkap kembali untuk mengambil perangkat.

Bukan Pengganti Satelit dan Pelampung

Meski terdengar futuristis, para ilmuwan tidak bermaksud mengganti seluruh sistem pemantauan laut dengan hiu.

Sebaliknya, hiu diposisikan sebagai pelengkap.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan potensi penggunaan sensor pada hiu untuk memperbaiki prakiraan kondisi laut. Penelitian yang dipimpin Laura H. McDonnell dari Woods Hole Oceanographic Institution mengintegrasikan data suhu dan kedalaman yang dikumpulkan hiu ke dalam model iklim musiman.

Hasilnya, kesalahan prakiraan suhu permukaan laut berkurang secara signifikan di beberapa wilayah yang dinamis, dengan peningkatan akurasi mencapai sekitar 40 persen. Para peneliti menekankan bahwa hiu bertag tidak akan menggantikan sistem pengamatan konvensional, melainkan memberikan pengamatan langsung tambahan dari wilayah yang sulit dijangkau. 

Temuan tersebut memperkuat gagasan bahwa hewan laut dapat berfungsi sebagai "sensor hidup" yang bergerak mengikuti lingkungan yang sedang diteliti.

Manfaat penelitian ini tidak berhenti pada urusan prakiraan cuaca.
Data yang dikumpulkan juga berpotensi membantu berbagai kebutuhan kelautan, mulai dari pengelolaan perikanan, keselamatan pelayaran, pemantauan ekosistem hingga perencanaan energi terbarukan di laut.

Jika sistem ini terus dikembangkan, masyarakat pesisir dapat memperoleh prakiraan badai yang lebih baik, terutama mengenai kemungkinan peningkatan intensitas badai sebelum mencapai daratan.

"Jika kami dapat menunjukkan bahwa hiu bisa membantu manusia, situasi ini akan menguntungkan kedua pihak," ujar Carlisle.(far,ist/dya)

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.