SURABAYA ( LENTERA ) - Robot humanoid China tengah memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar prototipe yang dipamerkan di laboratorium, robot berkaki dua kini mulai diproduksi dalam jumlah besar, dipasarkan untuk kebutuhan riset dan industri, serta dikembangkan agar mampu melakukan tugas yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia.
Salah satu pemain yang paling mencolok adalah Unitree Robotics. Perusahaan asal Hangzhou itu menjadi sorotan setelah sahamnya melonjak hingga 629 persen pada hari pertama perdagangan di Bursa Shanghai, 19 Agustus 2026. Saham Unitree kemudian ditutup pada 845 yuan, naik sekitar 460 persen dari harga penawaran, sehingga valuasi perusahaan mencapai sekitar US$50 miliar. IPO tersebut menghimpun sekitar 6,1 miliar yuan atau US$904 juta.
Namun, yang membuat Unitree menarik bukan semata-mata performa sahamnya. Di balik lonjakan tersebut terdapat perkembangan teknologi robot humanoid yang semakin cepat. Mulai dari sistem penggerak, sensor, kecerdasan buatan, pembelajaran penguatan, hingga kemampuan manipulasi objek.
Dimulai dari Robot Anjing
Unitree didirikan pada 2016 dan awalnya dikenal melalui robot berkaki empat. Perusahaan kemudian mengembangkan robot humanoid dan mulai menjual produk humanoid pada 2023.
Salah satu produknya yang paling dikenal adalah Unitree G1. Robot ini memiliki tinggi sekitar 1,32 meter dan berat sekitar 35 kilogram. Versi dasarnya memiliki 23 derajat kebebasan (degrees of freedom/DoF), sementara varian tertentu dapat mencapai 43 DoF. Unitree juga membekali G1 dengan motor sendi berkecepatan tinggi, kamera kedalaman, LiDAR 3D, empat mikrofon, speaker, Wi-Fi 6 dan Bluetooth 5.2.
Kemampuan tersebut memungkinkan G1 melakukan lebih dari sekadar berjalan.
Menurut spesifikasi Unitree, G1 dirancang dengan ruang gerak sendi yang luas dan dapat menggunakan kombinasi pembelajaran imitasi serta reinforcement learning. Sistem ini memungkinkan gerakan robot dilatih melalui simulasi dan data gerakan sebelum diterapkan pada mesin fisik.
Harga juga menjadi salah satu senjata Unitree. G1 saat ini dipasarkan mulai US$13.500 untuk konfigurasi tertentu.
Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa Unitree mendapat perhatian besar. Robot humanoid yang sebelumnya identik dengan eksperimen mahal mulai bergerak menuju produk yang dapat dibeli oleh lembaga riset, universitas, perusahaan, bahkan pengembang teknologi.
Teknologi utama robot humanoid bukan hanya bentuk tubuhnya.
Agar robot dapat berjalan, berlari, berdiri, membungkuk atau mengambil benda, mesin harus mampu melakukan tiga hal sekaligus: mengetahui kondisi lingkungan, memahami posisi tubuhnya, lalu menghitung gerakan yang harus dilakukan.
Pada G1, Unitree menggunakan kombinasi kamera kedalaman dan LiDAR 3D untuk persepsi lingkungan. Data tersebut menjadi masukan bagi sistem komputasi robot untuk membantu menentukan posisi dan gerakannya.
Di tingkat mekanik, robot memiliki banyak sendi yang digerakkan motor. Semakin banyak derajat kebebasan, semakin banyak kemungkinan gerakan yang dapat dilakukan.
G1 standar memiliki 23 DoF. Varian G1 EDU dapat mencapai 43 DoF, termasuk konfigurasi tangan dan sendi tambahan. Unitree juga menawarkan tangan dengan kendali gaya yang dirancang untuk melakukan manipulasi objek secara lebih presisi.
Inilah bagian penting dari evolusi robot humanoid: robot tidak cukup hanya bisa berjalan. Robot harus mampu memanipulasi dunia fisik.
Mengambil benda, membuka pintu, memegang peralatan, menghubungkan kabel atau melakukan pekerjaan berulang membutuhkan tingkat koordinasi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar berjalan.
AI adalah Otaknya
Perkembangan robot humanoid tidak dapat dipisahkan dari AI.
Model AI memberi robot kemampuan untuk memahami instruksi, mengenali lingkungan dan menentukan tindakan. Namun, robot berbeda dari chatbot karena ia harus menerjemahkan keputusan digital menjadi gerakan fisik.
Itulah sebabnya robot humanoid sering disebut sebagai bentuk embodied AI,,kecerdasan buatan yang memiliki tubuh dan dapat berinteraksi langsung dengan dunia.
Unitree sendiri memperkenalkan UnifoLM, yang disebut sebagai robot world model atau model besar untuk robot. Perusahaan juga menyatakan bahwa teknologi robotnya terus dikembangkan melalui pembelajaran imitasi dan reinforcement learning.
Konsepnya mirip dengan manusia belajar melakukan sesuatu. Robot tidak hanya diberi perintah "ambil benda", tetapi harus belajar bagaimana mengenali benda, menentukan posisi tangan, mengatur kekuatan genggaman, menggerakkan tubuh, lalu mempertahankan keseimbangan.Karena itu, kemajuan AI generatif turut mempercepat perlombaan robotika.
Dalam waktu dekat, penggunaan robot humanoid kemungkinan lebih realistis di lingkungan yang relatif terstruktur.
Pabrik menjadi salah satu kandidat utama karena pekerjaan di dalamnya memiliki prosedur dan lingkungan yang lebih terkontrol. Rumah sakit, gudang, pusat logistik dan fasilitas komersial juga berpotensi menjadi pasar awal.
Untuk rumah tangga, tantangannya jauh lebih kompleks.Sebuah rumah memiliki ratusan benda berbeda, kondisi pencahayaan berubah, manusia dan hewan bergerak bebas, serta pekerjaan rumah tangga membutuhkan penilaian situasional.
Karena itu, robot yang mampu melakukan pekerjaan rumah tangga secara umum masih membutuhkan perkembangan besar.(far,ist/dya)




.jpg)

Post a comment