KABUT asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia kembali menyeberangi batas negara. Di Sarawak, Malaysia, lebih dari 600 sekolah sempat ditutup akibat memburuknya kualitas udara, berdampak pada sekitar 200.000 siswa. Pada 25 Agustus pukul 14.00 waktu setempat, Serian mencatat indeks pencemaran udara (API) 182, Johan Setia 173, Sri Aman 170, Shah Alam 162, dan Kuching 160--seluruhnya masuk kategori tidak sehat. Di Singapura, National Environment Agency (NEA) juga memperingatkan potensi memburuknya kabut asap. Di Indonesia, karhutla juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Pemerintah melaporkan 73.425 hektare hutan dan lahan terbakar di enam provinsi prioritas. Sementara hotspot masih terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan, totalnya mencapai 5.923 titik. Dampaknya bukan sekadar jarak pandang yang menurun. Asap juga mengancam kesehatan warga dan mendorong pemerintah menyiapkan opsi pembelajaran daring. Di Kalimantan Tengah, misalnya, tercatat 2.052 kasus ISPA pada 7-11 Agustus di 14 kabupaten/kota. Di tengah krisis tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyinggung keberadaan modal negara tetangga dalam industri berbasis lahan di Indonesia. Ia mengatakan banyak perusahaan Malaysia dan Singapura memegang konsesi sawit dan hutan tanaman industri (HTI) di negeri ini. Namun, pernyataan itu bukan tuduhan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terlibat dalam karhutla tahun ini. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/27082026.pdf



.jpg)
.jpg)

Post a comment