MALANG (Lentera) - Gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) turut berdampak terhadap mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang.
Kampus mencatat lebih dari 100 mahasiswa aktif dan sekitar 30 mahasiswa baru berasal dari daerah terdampak. Menyikapi kondisi tersebut, Unitri menyiapkan skema keringanan biaya pendidikan bagi mahasiswa dan keluarga yang terdampak bencana.
"Ini kan dalam periode penerimaan mahasiswa baru. Banyak mahasiswa-mahasiswa baru yang berasal dari daerah terdampak itu sudah di Malang. Kami di kampus tidak tinggal diam," ujar Rektor Unitri, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, dikutip pada Jumat (21/8/2026).
Dodi mengatakan jumlah tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan survei terhadap kondisi keluarga mahasiswa masih berlangsung. "Kasarannya, kurang lebih ada sekitar 100 plus mahasiswa kami yang aktif, dan mahasiswa baru itu ada sekitar 30-an dari daerah terdampak yang kami berikan keringanan," katanya.
Unitri belum menetapkan secara pasti besaran keringanan yang akan diberikan. Kampus terlebih dahulu akan melakukan survei untuk mengetahui tingkat kebutuhan masing-masing keluarga mahasiswa yang terdampak.
Menurut Dodi, penyesuaian pembiayaan akan diberikan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga mahasiswa setelah terdampak bencana. "Keringanan ini masih kami formulasikan, karena kami harus melakukan survei dulu. Seperti sejauh mana keluarga di daerah terdampak itu membutuhkan bantuan finansial," jelasnya.
Salah satu skema yang memungkinkan diberikan adalah pengurangan persentase biaya herregistrasi atau daftar ulang mahasiswa. Sementara untuk biaya pendidikan berupa SPP, kampus juga mempertimbangkan kondisi masing-masing mahasiswa, terlebih sebagian di antaranya telah menerima beasiswa.
"Saya tidak bisa memberikan nilai pasti. Karena sebagian besar dari mereka adalah penerima beasiswa juga. Paling yang bisa kami berikan keringanan adalah persentase biaya herregistrasi," kata Dodi.
Selain membantu mahasiswa melalui penyesuaian biaya pendidikan, Unitri juga membuka kemungkinan memberikan bantuan kepada keluarga mahasiswa yang terdampak.
Respons terhadap bencana NTT tidak hanya dilakukan oleh pihak kampus. Jaringan alumni Unitri, menurut Dodi, di berbagai daerah juga mulai menggalang bantuan bagi masyarakat terdampak.
Dia mengatakan langkah tersebut turut diperkuat setelah Unitri menggelar rapat kerja alumni nasional. Melalui simpul-simpul alumni di daerah, bantuan mulai diupayakan untuk menjangkau wilayah terdampak bencana.
Bahkan, sekitar 4 alumni disebut telah mulai mengupayakan penyediaan transportasi untuk mengangkut bantuan kebutuhan pokok atau sembako menuju wilayah terdampak.
Diketahui, gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di NTT juga berdampak besar terhadap masyarakat dan sektor pendidikan. Melansir CNN, berdasarkan data BNPB yang disampaikan pada Kamis (20/8/2026), jumlah korban meninggal dunia mencapai 75 orang.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah tersebut bertambah 4 orang dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 71 korban meninggal dunia.
Tambahan korban tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 2 orang, Kabupaten Manggarai 1 orang, dan Kabupaten Nagekeo 1 orang.
Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat 907 orang mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi juga meningkat seiring terjadinya gempa susulan. "Saat ini, kami mencatat ada 92.735 jiwa, yang semula ada 59.647 jiwa," kata Berton dalam konferensi pers BNPB, Kamis (20/8).
Peningkatan jumlah pengungsi terbesar tercatat di Kabupaten Nagekeo dengan tambahan 21.883 jiwa. Kemudian Kabupaten Manggarai bertambah 9.649 jiwa dan Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.556 jiwa.
Dampak gempa juga dirasakan sektor pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyebut sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak gempa.
Dari jumlah tersebut, 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat di tujuh kabupaten. Kondisi tersebut berdampak terhadap 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)

Post a comment