TRENGGALEK (Lentera) – Pelajar di Kabupaten Trenggalek, kini memiliki cara berbeda untuk mulai menabung. Tak hanya mengandalkan uang saku, mereka bisa mendapatkan uang tabungan dari sampah yang dikumpulkan dan dipilah melalui program Sangu Sampah.
Program ini mendapat apresiasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, karena dinilai menjadi program yang baru di Trenggalek.
Program Sangu Sampah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Trenggalek mendorong budaya menabung sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Program itu disorot dalam peringatan Hari Indonesia Menabung yang digelar OJK Kediri di GOR Gajah Putih Trenggalek, Kamis (20/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 853 pelajar dari berbagai sekolah mendapatkan rekening tabungan baru. Langkah ini menjadi bagian dari target satu pelajar satu rekening agar kebiasaan menabung mulai ditanamkan sejak usia sekolah.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan program Sangu Sampah sengaja dikembangkan sebagai stimulus bagi pelajar, untuk memiliki uang yang dapat ditabung. Sebab, tidak semua pelajar memiliki uang saku yang cukup untuk disisihkan.
"Hari ini kami bersama OJK Kediri memperingati Hari Indonesia Menabung. Salah satu target yang ingin kita capai adalah satu rekening satu pelajar," kata Bupati Trenggalek yang biasa disapa Mas Ipin.
Menurutnya, Sangu Sampah juga sejalan dengan komitmen Trenggalek untuk mengelola lingkungan dan mengejar target net zero carbon pada 2045. Pelajar diajak memilah sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis untuk kemudian dikumpulkan dan dimanfaatkan.
"Kebetulan di Trenggalek kita stimulasi dengan program Sangu Sampah. Trenggalek ingin net zero karbon di 2045. Kita ingin sampah yang kita kelola bisa mendorong siswa-siswa punya rekening," imbuhnya.
Mas Ipin menjelaskan, sampah yang mempunyai nilai ekonomi harus dipisahkan dan tidak dicampur dengan sampah lainnya. Sampah tersebut kemudian dikumpulkan untuk ditukarkan menjadi uang yang dapat digunakan sebagai tabungan pelajar.
"Jadi kumpulkan sampah yang masih punya nilai ekonomis. Jangan sampai kotor dan tercampur. Dipisahkan kemudian didayagunakan, hasil ekonominya kita kembalikan," jelasnya.
Ia menyebut, mekanisme tersebut membuat edukasi keuangan dan kepedulian lingkungan dapat berjalan bersamaan. Pelajar yang belum bekerja tetap dapat belajar mengelola keuangan melalui aktivitas sederhana yang mereka lakukan sehari-hari.
"Tadi teman-teman bisa lihat ada beberapa juara yang mereka mendapatkan uang dari situ. Begitu juga bisa dicek PT JET, sekarang per satu poin yang ditukarkan nilai satu poinnya berapa," ujarnya.
Mas Ipin menilai, program tersebut menarik bagi pelajar karena mereka mendapatkan pengalaman langsung mengenai pentingnya menabung sekaligus menjaga lingkungan.
"Ini menarik bagi anak-anak karena literasi keuangan diajarkan. Mereka belum bekerja, jadi kita tanamkan dua hal, pertama cinta lingkungan dan juga mempersiapkan finansial ke depan. Dengan pilah sampah akhirnya bisa punya tabungan," tandasnya.
Sementara itu, Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri mengapresiasi konsep Sangu Sampah yang diterapkan di Trenggalek. Menurutnya, program tersebut menjadi solusi bagi pelajar yang memiliki keterbatasan uang saku tetapi tetap ingin mulai menabung.
"Ini satu-satunya dan hanya ada di Trenggalek," ujar Ismirani.
Ismirani menjelaskan, peringatan Hari Indonesia Menabung sepanjang Agustus menjadi momentum OJK untuk menggalakkan Simpanan Pelajar (SimPel). Tabungan tersebut memang ditujukan bagi pelajar dan tidak dikenakan biaya administrasi.
"Bulan Agustus itu Hari Indonesia Menabung. Jadi selama bulan Agustus OJK sedang menggalakkan Simpanan Pelajar atau SimPel. Simpanan ini khusus digunakan pelajar tanpa biaya administrasi sama sekali, karena mereka minim sekali uang sakunya," katanya.
Program tersebut, lanjut Ismirani, dilaksanakan di seluruh wilayah kerja OJK di Indonesia. Untuk wilayah kerja OJK Kediri, puncak kegiatan Hari Indonesia Menabung dipusatkan di Kabupaten Trenggalek.
"Harapannya anak-anak sudah mulai tahu bedanya kebutuhan dan keinginan. Kemudian mereka mulai menyisihkan uang jajannya, bukan menyisakan. Kalau tidak punya uang saku, jalan keluarnya tadi adalah Sangu Sampah," tandasnya.
Reporter: Herlambang/Editor: Ais




.jpg)

Post a comment