SURABAYA (Lentera)– Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga dapat memicu berbagai bencana sekunder, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan.
Karena itu, masyarakat dinilai perlu memiliki kesiapsiagaan sejak sebelum kekeringan terjadi, salah satunya dengan menyiapkan cadangan air secara mandiri.
Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Dr Aditya Prana Iswara, mengatakan mitigasi El Nino tidak cukup dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun melalui penguatan cadangan air, pengelolaan lingkungan, serta koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan, baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Aditya menilai salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghadapi potensi krisis air adalah menyediakan reservoir atau tempat penyimpanan air secara mandiri. Salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan adalah air hujan melalui metode rain harvesting atau pemanenan air hujan.
Menurutnya, air hujan yang ditangkap dari atap rumah dapat dialirkan melalui talang menuju tempat penampungan. Sebelum digunakan, air tersebut perlu melalui proses penyaringan dan pengolahan sesuai peruntukannya agar lebih aman.
“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sistem sederhana tersebut dapat dimulai dengan mengarahkan aliran air dari talang menuju titik penampungan. Air yang masuk ke tandon selanjutnya dapat melalui proses filtrasi atau pengolahan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan.
Meski jumlah air yang terkumpul belum tentu mencukupi seluruh kebutuhan rumah tangga, langkah tersebut tetap bermanfaat sebagai cadangan ketika sumber air mulai berkurang akibat kekeringan.
“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” jelasnya.
Menurut Aditya, dampak kekeringan tidak berhenti pada berkurangnya ketersediaan air. Ketika sumber air semakin sulit diperoleh, masyarakat juga dapat menghadapi persoalan sanitasi dan kebersihan.
Ia mencontohkan, kedalaman sumber air yang sebelumnya hanya sekitar satu meter dapat meningkat hingga 10 meter ketika musim kering berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat akses masyarakat terhadap air bersih semakin terbatas.
Keterbatasan air bersih kemudian berpotensi menurunkan tingkat higienitas masyarakat dan meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit.
Karena itu, mitigasi kekeringan perlu dipandang sebagai upaya yang mencakup aspek lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. "Tidak hanya menyiapkan bantuan air ketika kekeringan terjadi, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber air dan pola pemanfaatannya dapat dipertahankan dalam jangka panjang," tambahnya.
Aditya menuturkan, durasi dan dampak kekeringan juga berkaitan dengan perubahan iklim serta pola konsumsi masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu mulai menerapkan konsep green consumption dengan menggunakan sumber daya secara bijak dan menghindari konsumsi berlebihan.
“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” tuturnya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan harus berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah. Pemerintah perlu memastikan sumber-sumber air potensial dipetakan dan dilindungi, sementara masyarakat turut menjaga kualitas lingkungan serta mematuhi ketentuan baku mutu lingkungan.
Langkah tersebut penting untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim.
"Dengan demikian, menghadapi El Nino tidak semata-mata menunggu bantuan ketika kekeringan terjadi. Kesiapsiagaan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga melalui penghematan air, pemanfaatan air hujan, perlindungan sumber air, hingga perubahan pola konsumsi agar lebih ramah lingkungan," tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)

Post a comment