Pasokan Sapi Sulit dan Mahal, Harga Daging di Pasar Klojen Kota Malang Tembus Rp160 Ribu per Kg
MALANG (Lentera) - Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kota Malang terus mengalami kenaikan dan kini menembus Rp160 ribu per kilogram, para pedagang menyebut lonjakan harga dipicu mahal dan sulitnya pasokan sapi hidup.
Kenaikan harga tersebut salah satunya terjadi di Pasar Klojen, Kota Malang. Seorang pedagang daging sapi, Umi Kulsum mengatakan harga daging sapi kualitas baik saat ini mencapai Rp160 ribu per kilogram. Sementara daging yang umum digunakan untuk olahan seperti rawon dijual Rp150 ribu per kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga mulai terjadi sekitar tiga pekan terakhir. Sebelumnya, daging kualitas premium masih dijual Rp150 ribu per kilogram, namun kini naik Rp10 ribu.
"Sudah tiga mingguan ini naik jadi Rp160 ribu. Biasanya yang bagus itu Rp150 ribu," ujarnya, dikonfirmasi Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga dipicu sulitnya mendapatkan sapi hidup. Kondisi tersebut membuat para jagal harus berebut pasokan sehingga harga beli sapi ikut meningkat.
"Enggak ada sapi hidup, sapinya mahal. Yang mencari juga rebutan. Kebetulan saya memasok dari adik sendiri yang jagal sapi," katanya.
Umi menuturkan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang umumnya harga daging berangsur turun setelah Hari Raya Idulfitri, tahun ini justru mengalami kenaikan secara bertahap.
"Baru tahun ini naik tiga-empat kali setelah Lebaran. Menjelang Lebaran naik, beberapa hari sebelum Lebaran naik lagi, habis itu merangkak naik terus. Biasanya setelah Lebaran kan turun," ungkapnya.
Akibat harga yang semakin tinggi, minat beli masyarakat ikut menurun. "Berpengaruh ke pembeli. Orang jadi enggak mau beli karena kemahalan," imbuhnya.
Disinggung terkait harapannya kepada pemerintah, Umi menilai pemerintah sebaiknya tidak menambah impor daging beku karena justru berpotensi menekan harga daging sapi lokal.
"Lebih baik yang didatangkan sapi hidupnya," tegasnya.
Hal senada disampaikan pedagang daging sapi lainnya di Pasar Klojen, Dewi (nama samaran) harga daging sapi kualitas premium juga telah mencapai Rp160 ribu per kilogram dan mulai naik sejak sekitar 13 Juli 2026.
Menurutnya, kenaikan harga sudah berlangsung beberapa kali sejak bulan Ramadan.
"Mulai bulan puasa naik empat kali. Rp5 ribu, Rp5 ribu, Rp10 ribu, lalu Rp10 ribu lagi," katanya.
Dewi juga menyebut, harga daging sangat bergantung pada harga sapi hidup di tingkat pemasok. Ketika pasokan sapi terbatas, harga otomatis ikut melonjak.
Kondisi tersebut juga membuat pembelian daging oleh masyarakat menurun, terutama untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. "Jelas berpengaruh ke pembeli. Orang yang biasanya beli eceran untuk konsumsi sehari-hari jadi jarang karena terlalu mahal," katanya.
Dewi juga menilai, solusi yang lebih tepat adalah mendatangkan sapi hidup dibanding memperbanyak impor daging beku.
Menanggapi keluhan para pedagang, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengaku akan lebih dulu mengecek kondisi di lapangan sekaligus menunggu data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Nanti kami cek. Kami juga menunggu rilis BPS, setelah itu akan kami lihat apakah memang betul di lapangan seperti itu," katanya.
Wahyu menyebut, Pemerintah Kota Malang memiliki peluang melakukan intervensi apabila kenaikan harga tersebut terbukti berdampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Menurutnya, intervensi dapat dilakukan dengan memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).
"Bahkan memang ada porsi anggaran untuk menekan inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjangkau," jelasnya.
Selain itu, Pemkot Malang juga membuka kemungkinan memanfaatkan program Warung Tekan Inflasi (WTI) sebagai salah satu upaya stabilisasi harga. Meski demikian, menurut Wahyu, pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil kebijakan sebelum mengetahui penyebab pasti kenaikan harga.
"Kami lihat dulu di lapangan, kami pelajari dulu. Tentu kami cari tahu penyebabnya sehingga tidak bisa serta-merta mengambil langkah," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)
