1.008 Ojol Perempuan di Surabaya Diberi Pendampingan agar Punya Sumber Pendapatan Alternatif
SURABAYA (Lentera) -Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya sedang mengupayakan terhadap 1.008 pengemudi ojek online (ojol) perempuan untuk memiliki sumber pendapatan alternatif melalui pelatihan keterampilan dan usaha dari rumah.
Sebagai program perlindungan tersebut tidak hanya menyasar pengemudi ojol perempuan atau yang disebut Srikandi, tetapi juga seluruh pengemudi ojol laki-laki di Surabaya perlindungan jaminan sosial bagi mereka yang bekerja di jalan.
"Jadi ojol yang menjadi perhatian kita tidak hanya Srikandi (perempuan), tapi Arjunanya (ojol laki-laki) juga kita perhatikan," kata Agus Hebi, Sabtu (1/8/2026).
Berdasarkan data yang diterima Disperinaker dari sejumlah operator, jumlah pengemudi ojol di Surabaya diperkirakan mencapai 21.000 hingga 22.000 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.008 pengemudi perempuan telah masuk dalam pendataan.
Agus mengatakan, pekerjaan sebagai pengemudi ojol memiliki risiko tinggi karena sebagian besar aktivitas dilakukan di jalan. Karena itu, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan menjadi salah satu intervensi utama pemkot.
"Ojol roda dua ini memang di jalan itu pekerjaan yang mengandung risiko besar. Jadi, intervensi kami di Disperinaker yang utama adalah memberikan mereka jaminan untuk pekerjaannya," ujarnya.
Melalui program tersebut, pengemudi ojol yang menjadi sasaran didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kepesertaan ini diberikan tanpa membedakan jenis kelamin.
"Jadi, ada BPJS Ketenagakerjaan, kita semuanya daftarkan mereka. Tidak hanya yang perempuan, tapi yang Arjunanya, yang laki, juga mendapat intervensi," katanya.
Menurutnya, manfaat program perlindungan tersebut sudah mulai dirasakan sejumlah pengemudi. Sejak Januari 2026 hingga saat ini, lebih dari 10 pengemudi telah mendapatkan manfaat, termasuk santunan kematian dan beasiswa pendidikan bagi anak hingga jenjang perguruan tinggi.
"Selama Januari sampai sekarang lebih dari 10 yang dapat intervensi. Jadi ada yang meninggal dan sebagainya, kita klaimkan ke BPJS Ketenagakerjaan dan alhamdulillah tidak hanya mendapat santunan kematian tapi juga mendapat beasiswa untuk anaknya sampai perguruan tinggi," tuturnya.
Perlindungan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan jaminan ketika terjadi kecelakaan atau musibah. Pemkot juga ingin mencegah keluarga pengemudi kehilangan sumber penghasilan secara tiba-tiba dan masuk ke dalam kemiskinan baru ketika pencari nafkah mengalami risiko kerja.
Selain perlindungan sosial, Pemkot Surabaya menyiapkan skema pemberdayaan agar pengemudi ojol perempuan memiliki alternatif pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah.
Disperinaker membuka peluang pelatihan sesuai kebutuhan kelompok peserta. Salah satunya pelatihan menjahit yang dapat dilanjutkan dengan bantuan peralatan melalui perangkat daerah terkait maupun dukungan pihak lain.
"Kalau misalnya mereka butuh latihan menjahit dan sebagainya, kita welcome. Kelompok-kelompok, (misal) 20 (orang) bisa kita tindaklanjuti. Tetapi untuk mesin nanti kita ke Disperindag atau kita carikan CSR dari Baznas atau apa, agar nantinya itu survive," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya Ida Widayati menambahkan, pemberdayaan ekonomi tidak hanya diarahkan kepada ojol perempuan. Program serupa juga menyasar perempuan penyandang disabilitas.
"Kita memang tidak hanya mengintervensi teman-teman ojol perempuan, tapi juga perempuan disabilitas. Itu juga perlu kami dampingi untuk lebih berdaya secara ekonomi," ujar Ida.
Menurut Ida, pendampingan terhadap pengemudi ojol perempuan telah dilakukan sejak 2025. Pada tahun tersebut, sekitar 150 ojol perempuan mendapatkan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari cooking class, pelatihan makeup artist (MUA), hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi yang dilakukan bersama rumah sakit.
Ida mengatakan, pemberdayaan tersebut merupakan bagian dari arahan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi agar pengemudi ojol perempuan tidak sepenuhnya menggantungkan pendapatan dari aktivitas di jalan.
Pemkot tetap membuka ruang bagi mereka untuk bekerja sebagai ojol, tetapi diharapkan waktu di jalan dapat dikurangi dengan adanya sumber penghasilan alternatif dari rumah.
"Sesuai arahan Pak Wali adalah agar perempuan ojol ini mengurangi waktunya di jalan. Jadi boleh berkegiatan tetap menjadi ojol, tetapi lebih dikurangi waktunya," ujarnya.
Proses mengubah hasil pelatihan menjadi sumber pendapatan yang stabil tidak mudah. Pelatihan tidak serta-merta membuat kondisi ekonomi peserta meningkat secara signifikan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah membangun motivasi peserta untuk menjalankan usaha secara konsisten. Sebab, pekerjaan sebagai ojol memberikan penghasilan harian, sedangkan usaha yang dibangun dari hasil pelatihan membutuhkan waktu untuk berkembang.
Ida mencontohkan pendampingan terhadap pasangan suami istri yang sama-sama bekerja sebagai pengemudi ojol dan memiliki anak yang membutuhkan pengobatan rutin. Pemkot telah memberikan sejumlah intervensi, termasuk pelatihan menjahit, bantuan mesin jahit, membuka peluang usaha hingga pekerjaan padat karya.
Bantuan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan pendapatan seperti yang diharapkan.
Menurut Ida, program pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pemberian pelatihan atau bantuan peralatan, tetapi membutuhkan pendampingan berkelanjutan sekaligus penguatan motivasi agar peserta mampu mempertahankan dan mengembangkan usaha. " Nah itu yang masih menjadi salah satu PR-nya buat kami," pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)
