31 July 2026

Get In Touch

Wamen Nezar Patria: Persaingan Ruang Digital Juga Membentuk Persepsi Publik

Wamenkomdigi Nezar Patria menjadi keynote speaker di Putat Gede, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/07/2026). (Foto: Komdigi)
Wamenkomdigi Nezar Patria menjadi keynote speaker di Putat Gede, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/07/2026). (Foto: Komdigi)

SURABAYA (Lentera) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai persaingan ruang digital tidak lagi sekadar memperebutkan informasi, tetapi juga membentuk persepsi publik.

Di tengah algoritma platform yang dirancang mengejar perhatian pengguna dan kemajuan kecerdasan artifisial yang mampu menghasilkan konten secara instan, ia menegaskan jurnalisme profesional tetap menjadi penjaga fakta dan kepercayaan publik.

Menurutnya, media arus utama dituntut untuk memperkuat fungsi jurnalistik dengan mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas.

Di saat banjir konten digital, jurnalisme harus mampu menjadi ruang penjernih informasi yang dapat dipercaya publik.

"Jurnalisme harus mendapatkan satu momentum yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian. Karena algoritma dari platform yang dipakai untuk menyebarkan informasi bekerja menarik atensi kita, akan tetapi Jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi," jelas Wamen Nezar dalam Radar Surabaya Awards 2026 di Surabaya, Kamis (30/07/2026).

Seiring pesatnya perkembangan platform digital, Wamen Nezar juga menjelaskan bahwa kemajuan AI semakin memperbesar tantangan yang dihadapi media.

Teknologi kini mampu menghasilkan artikel, gambar, hingga video yang tampak autentik, termasuk konten manipulatif seperti deepfake, sehingga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.

"Kondisi itu membuat penyebaran disinformasi semakin cepat dan semakin sulit dikenali masyarakat apabila tidak diimbangi dengan praktik jurnalisme yang profesional," ujarnya.

Wamen Nezar menjelaskan tantangan ruang digital saat ini bukan semata banyaknya informasi, melainkan cara algoritma platform membentuk perhatian dan persepsi publik melalui mekanisme echo chamber dan filter bubble.

Akibatnya, masyarakat berpotensi terus menerima informasi yang seragam tanpa ruang untuk menguji kebenarannya.

"Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas," ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Wamen Nezar menilai media lokal memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga kualitas ruang informasi nasional.

Di tengah dominasi platform digital, media lokal mampu menghadirkan fakta-fakta yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus menangkap gejala sosial, ekonomi, maupun pelayanan publik secara lebih dini.

"Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar," jelasnya.

Wamen Nezar menambahkan kemampuan media lokal membangun kepercayaan publik menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem informasi yang sehat.

Di tengah derasnya arus konten digital, keberadaan media yang menjalankan kode etik jurnalistik tetap menjadi fondasi bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komdigi dalam mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, tepercaya, dan berkualitas melalui penguatan tata kelola ruang digital, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.