SURABAYA ( LENTERA ) - Fenomena makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem ramai di perbincangkan di media sosial. digemari masyarakat dari usia anak anak hingga dewasa. Padahal, di balik sensasi dan popularitasnya, konsumsi makanan pedas tanpa memperhatikan kondisi tubuh dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Terutama pada usia dini yang sistem pencernaannya masih berkembang.
Konsultan Gastroenterohepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, dr. Eva Jeumpa Soelaeman, mengingatkan para orang tua agar tidak membiarkan anak mengikuti tren mengonsumsi makanan pedas yang sedang viral hanya karena rasa penasaran atau pengaruh lingkungan. Menurutnya, kesehatan anak harus menjadi pertimbangan utama dibanding mengikuti gaya hidup yang sedang populer.
"Jangan karena pengaruh gaya hidup dan mencoba makanan pedas yang viral, membuat kesehatan anak terganggu. Bahkan, tumbuh kembangnya jadi terganggu," kata dr. Eva Jeumpa Soelaeman di Tangerang, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa saluran pencernaan anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa. Organ pencernaan pada anak masih berada dalam tahap pertumbuhan sehingga lebih sensitif terhadap berbagai faktor yang dapat memicu gangguan kesehatan. Kondisi tersebut membuat anak lebih rentan mengalami masalah pencernaan apabila mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan usianya atau dikonsumsi secara berlebihan.
Menurut dr. Eva, sistem pencernaan anak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap infeksi, alergi, maupun kelainan struktural. Karena itu, kesalahan dalam pola makan dapat memicu berbagai gangguan yang sering kali muncul secara berulang. Beberapa keluhan yang umum dialami antara lain sakit perut berulang, mual, sulit buang air besar (BAB), hingga berat badan yang tidak mengalami peningkatan sebagaimana mestinya.
"Sistem pencernaan anak belum sematang orang dewasa. Jika anak mengalami kondisi tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter gastro anak karena dokter spesialis ini memahami sistem pencernaan anak secara mendalam," ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Eva menerangkan bahwa dokter gastro anak atau dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi merupakan dokter yang telah menempuh pendidikan subspesialisasi untuk menangani berbagai gangguan pada sistem pencernaan anak secara komprehensif.
Penanganan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada lambung dan usus, tetapi juga mencakup seluruh organ pencernaan, mulai dari kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, hingga organ hati (liver) dan pankreas pada bayi, anak-anak, maupun remaja.
Berbagai penyakit yang menjadi ruang lingkup penanganan dokter gastro anak meliputi gangguan saluran cerna bagian atas beserta gejala umumnya, gastroesophageal reflux disease (GERD), kesulitan menelan, muntah berulang maupun muntah darah, sakit perut kronis, gangguan kenaikan berat badan, gangguan makan, infeksi saluran pencernaan, radang pencernaan kronis, hingga berbagai kelainan pada hati dan saluran empedu anak.
Dalam proses diagnosis, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan endoskopi apabila diperlukan untuk mengetahui kondisi saluran pencernaan secara lebih detail. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan selang fleksibel berukuran kecil yang dilengkapi kamera atau endoskop sehingga dokter dapat melihat kondisi bagian dalam saluran cerna secara langsung.
Meski memiliki prinsip kerja yang sama seperti prosedur pada orang dewasa, pelaksanaan endoskopi pada anak membutuhkan penanganan yang berbeda agar sesuai dengan kondisi pasien usia anak.
"Meskipun prinsip kerjanya sama dengan orang dewasa, endoskopi pada anak memiliki perbedaan dari ukuran alat, bius lokal hingga tim medis khusus," ujarnya.
Dr. Eva menekankan bahwa orang tua perlu lebih cermat mengawasi pola makan anak, termasuk membatasi konsumsi makanan pedas yang tengah menjadi tren. Apabila anak mengalami keluhan pada saluran pencernaan secara berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu, pemeriksaan sejak dini ke dokter spesialis gastroenterohepatologi anak menjadi langkah penting agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.( far,ist/dya )



.jpg)
